Gapensi Jatim: Perlu Ada Jembatan Kontraktor Besar dan Kecil

loading...
Gapensi Jatim: Perlu Ada Jembatan Kontraktor Besar dan Kecil
Ketua BPD Gapensi Jatim, Agus Gendroyono. Foto/Ist.
GRESIK - Ada banyak pekerjaaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah dan masyarakat yang bergerak di bidang jasa kontruksi . Salah satunya pemerintah membuat formula menjembatani kontraktor besar dengan yang kecil.

(Baca juga: Dindik Gresik Lakukan Poling Uji Coba Sekolah Tatap Muka )

Ketua BPD Gapensi Jatim, Agus Gendroyono menyatakan, poin paling krusial adalah pemerataan proyek yang lebih adil kepada lebih 140 ribu kontraktor. Sambil mengurangi ketimpangan domimasi rekanan yang ada di Jawa dan luar Jawa. "Menggambarkan kondisi perkontraktoran nasional itu seperti gambar piramida terbalik," ujarnya, Minggu (20/9/2020).

Dijelaskan, saat ini sekitar 1% dari kontraktor kualifikasi besar menikmati 85% proyek yang ada di seluruh tanah air. Kondisi semakin diperparah jurang antara kontraktor Jawa dan non Jawa. Bahkan banyak proyek besar di luar Jawa dimenangkan kontraktor dari Jawa.

Agus Gendroyono menyebutkan bila sistem yang ada sekarang masih memenangkan kontraktor yang berdasar pada harga termurah dengan alasan mencegah pembengkakan biaya proyek, maka dominasi kontraktor besar masih kuat, harga terendah pasti berbanding lurus dengan output kualitas pelaksanaan.



"Belum memberikan ruang kepada rekanan kecil dan menengah untuk transfer tehnologi, manajerial dan sdm. Sehingga kesempatan pemerataan belum terasa dan tercipta bagi pelaku usaha dimana proyek tersebut berada," kata kontraktor yang merangkak dari bawah itu.

(Baca juga: 4 Bandara Tak Mampu Deteksi Sabu yang Disembunyikan Dalam Anus NN )

Oleh karena itu, Agus Gendroyono beranggapan ini bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah saja, tapi tanggung jawab semua. Diapun menawarkan solusi jangka pendek dan jangka panjang. Harapannya itu dembankan ke lembaga yang kini sedang dibentuk pemerintah yaitu LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi).

"Kami sangat berharap agar LPJK dapat memainkan peranan penting untuk menjembatani kesenjangan kontraktor besar dengan kecikl," papar pria yang kerap disapa Agus itu.

Dia pun memetakan kondisi jasa kontruksi saat ini dan arah yang dianggap terbaik untuk masa depan. Kontraktor besar yang jumlahnya 1632 perusahan hanya 1%. Menengah sekitar 19 ribu perusahan atau 14% sedangkan kecil ada sekitar 116 ribu atau 85%.



"Sementara proyek besar senilai Rp357 triliun dilaksanakan kontraktor kualifikasi besar saja. Sisanya yang Rp63,1 triliun digarap kontraktor menengah dan kecil," ungkap Agus Gendroyono lagi.

(Baca juga: Minibus Oleng dan Masuk Row di Tol Cipali, 1 Tewas 8 Luka )

Bisa dibayangkan ketimpangan ini. Padahal menurut Agus porsi ini bisa dilakukan dengan lebih adil kalau ada komitmen antara pemerintah bersama LPJK nanti untuk mengkaji ulang segmentasi pasar dan skala usaha bagi penyedia.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top