Jelang Muktamar ke-35 NU, Masyayikh Sukorejo Minta Semua Kader NU Dirangkul
Kamis, 14 Mei 2026 - 20:15 WIB
loading...
A
A
A
“Islam moderat, mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, menerima Pancasila dalam bingkai NKRI, dan meneladankan moralitas bagi kehidupan berbangsa, bisa menjadi sistem pertahanan ideologis bagi negara. Kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” ucapnya.
Peran strategis kedua menurut Kiai Afif, kata Gus Salam, NU harus bisa memberi fatwa berkala kepada umat terkait problem sosial keagamaan-kebangsaan. Dan, peran strategis ketiga adalah NU harus mandiri dalam ekonomi dan independen dalam sikap berbangsa-bernegara sesuai koridor fiqhiyyah.
“Seperti Mbah Sahal Mahfudz dengan fikih sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemashlahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, dan bahkan bidang politik. Kepada pemerintah turut memberi nasihat, perspektif dan gagasan agar penyelenggaraan negara benar-benar ditujukan bagi kemakmuran rakyat serta mendapat kepercayaan mereka,” tambahnya
Gus Salam, NU harus mandiri agar berdaulat dan tidak mudah didikte. Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang menukung bila maslahat, dan meluruskan bila ada mudarat. Semua yang ditegaskan KH Afifuddin Muhajir adalah implementasi Khittah NU 1926 yang telah diteladankan para pendahulu NU.
Saat ditanya tentang tujuan safarinya di berbagai daerah jelang muktamar ke35 NU, Gus Salam mengatakan, disamping ikhtiar menjalakan permintaan dan perintah guru-kiainya untuk khidmah NU melalui muktamar, juga merangkai kembali semua kekuatan NU sekaligus menggali permasalahan dan harapan-harapan mereka.
Peran strategis kedua menurut Kiai Afif, kata Gus Salam, NU harus bisa memberi fatwa berkala kepada umat terkait problem sosial keagamaan-kebangsaan. Dan, peran strategis ketiga adalah NU harus mandiri dalam ekonomi dan independen dalam sikap berbangsa-bernegara sesuai koridor fiqhiyyah.
“Seperti Mbah Sahal Mahfudz dengan fikih sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemashlahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, dan bahkan bidang politik. Kepada pemerintah turut memberi nasihat, perspektif dan gagasan agar penyelenggaraan negara benar-benar ditujukan bagi kemakmuran rakyat serta mendapat kepercayaan mereka,” tambahnya
Gus Salam, NU harus mandiri agar berdaulat dan tidak mudah didikte. Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang menukung bila maslahat, dan meluruskan bila ada mudarat. Semua yang ditegaskan KH Afifuddin Muhajir adalah implementasi Khittah NU 1926 yang telah diteladankan para pendahulu NU.
Saat ditanya tentang tujuan safarinya di berbagai daerah jelang muktamar ke35 NU, Gus Salam mengatakan, disamping ikhtiar menjalakan permintaan dan perintah guru-kiainya untuk khidmah NU melalui muktamar, juga merangkai kembali semua kekuatan NU sekaligus menggali permasalahan dan harapan-harapan mereka.
(cip)
Lihat Juga :