Jelang Muktamar ke-35 NU, Masyayikh Sukorejo Minta Semua Kader NU Dirangkul
Kamis, 14 Mei 2026 - 20:15 WIB
loading...
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo, Asembagus Situbondo yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy atau Ra Azaim meminta supaya NU merangkul semua kadernya. Foto/istimewa
A
A
A
SITUBONDO - Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) harus menjadi rumah bersama. Hal itu merupakan pesan masyayikh NU dan pesantren serta amanat awal pendirian jam’iyyah Nahdlatul Ulama oleh kiai-kiai besar kharismatik dari pesantren di Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo, Asembagus Situbondo yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy atau Ra Azaim meminta supaya NU merangkul semua kadernya. Hal ini disampaikannya dalam obrolan saat menerima kunjungan silaturahmi KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di kediamannya.
“Ra Azaim meminta agar NU ke depan merangkul semua potensi yang dimiliki kader-kader NU,” kata pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan KH Mas Cholil Nawawi yang turut mendampingi Gus Salam, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: Muktamar ke-35 NU: Menghitung Fakta Pemilik Suara
Menurut Mas Cholil, permintaan itu menggambarkan agar PBNU ke depan berorientasi untuk merangkul dan menyatukan kader-kader potensial dalam khidmah demi kemashlahatan umat. Dan, dalam konteks ini, agar menghindari ketegangan dan konflik kepentingan dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU, nanti.
Mas Cholil menuturkan, Ra Azaim mengingatkan agar kepemimpinan PBNU ke depan senantiasa berpedoman pada khittah sebagai marwah perjuangan. Khittah NU 1926 bukan manuskrip di museum yang hanya dilihat atau dibaca, tapi dihidupi agar bisa membangkitkan. Khittah NU merupakan petunjuk arah dimana NU boleh lari mengejar zaman, tapi jangan sampai kehilangan arah pulang.
Terkait dengan kunjungannya ke Pesantren Sukorejo Situbondo, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam membenarkan kunjungannya ke Ra Azaim dan KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU. Gus Salam menceritakan kunjungan itu bagian dari safari silaturahmi selama dua hari di Madura serta masyayikh NU dan pesantren di Jawa Timur.
Lihat video: FULL Pidato Prabowo di Acara Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama
“Minggu, 10 Mei 2026 saya ngaji kitab kifayatul atqiya’ dalam majelis rutin alumni di Bangkalan. Sekalian sowan ke masyayikh sepuh di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Lalu ke Situbondo, nanti ke Paiton dan Sidoarjo,” kata Gus Salam.
“Di Situbondo saya ngaji tentang NU ke Kiai Afifuddin Muhajir. Luar biasa pandangan beliau tentang peran strategis NU ke depan,” tambahnya.
Gus Salam menuturkan, KH Afifuddin Muhajir menekankan tiga peran strategis sekaligus arah pergerakan serta perjuangan NU ke depan. Pertama, NU harus menjadi benteng Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, penjaga moral bangsa, dan pelindung NKRI.
“Islam moderat, mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, menerima Pancasila dalam bingkai NKRI, dan meneladankan moralitas bagi kehidupan berbangsa, bisa menjadi sistem pertahanan ideologis bagi negara. Kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” ucapnya.
Peran strategis kedua menurut Kiai Afif, kata Gus Salam, NU harus bisa memberi fatwa berkala kepada umat terkait problem sosial keagamaan-kebangsaan. Dan, peran strategis ketiga adalah NU harus mandiri dalam ekonomi dan independen dalam sikap berbangsa-bernegara sesuai koridor fiqhiyyah.
“Seperti Mbah Sahal Mahfudz dengan fikih sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemashlahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, dan bahkan bidang politik. Kepada pemerintah turut memberi nasihat, perspektif dan gagasan agar penyelenggaraan negara benar-benar ditujukan bagi kemakmuran rakyat serta mendapat kepercayaan mereka,” tambahnya
Gus Salam, NU harus mandiri agar berdaulat dan tidak mudah didikte. Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang menukung bila maslahat, dan meluruskan bila ada mudarat. Semua yang ditegaskan KH Afifuddin Muhajir adalah implementasi Khittah NU 1926 yang telah diteladankan para pendahulu NU.
Saat ditanya tentang tujuan safarinya di berbagai daerah jelang muktamar ke35 NU, Gus Salam mengatakan, disamping ikhtiar menjalakan permintaan dan perintah guru-kiainya untuk khidmah NU melalui muktamar, juga merangkai kembali semua kekuatan NU sekaligus menggali permasalahan dan harapan-harapan mereka.
Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo, Asembagus Situbondo yang juga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy atau Ra Azaim meminta supaya NU merangkul semua kadernya. Hal ini disampaikannya dalam obrolan saat menerima kunjungan silaturahmi KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di kediamannya.
“Ra Azaim meminta agar NU ke depan merangkul semua potensi yang dimiliki kader-kader NU,” kata pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan KH Mas Cholil Nawawi yang turut mendampingi Gus Salam, Kamis (14/5/2026).
Baca juga: Muktamar ke-35 NU: Menghitung Fakta Pemilik Suara
Menurut Mas Cholil, permintaan itu menggambarkan agar PBNU ke depan berorientasi untuk merangkul dan menyatukan kader-kader potensial dalam khidmah demi kemashlahatan umat. Dan, dalam konteks ini, agar menghindari ketegangan dan konflik kepentingan dalam penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU, nanti.
Mas Cholil menuturkan, Ra Azaim mengingatkan agar kepemimpinan PBNU ke depan senantiasa berpedoman pada khittah sebagai marwah perjuangan. Khittah NU 1926 bukan manuskrip di museum yang hanya dilihat atau dibaca, tapi dihidupi agar bisa membangkitkan. Khittah NU merupakan petunjuk arah dimana NU boleh lari mengejar zaman, tapi jangan sampai kehilangan arah pulang.
Terkait dengan kunjungannya ke Pesantren Sukorejo Situbondo, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam membenarkan kunjungannya ke Ra Azaim dan KH Afifuddin Muhajir, Wakil Rais Aam PBNU. Gus Salam menceritakan kunjungan itu bagian dari safari silaturahmi selama dua hari di Madura serta masyayikh NU dan pesantren di Jawa Timur.
Lihat video: FULL Pidato Prabowo di Acara Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama
“Minggu, 10 Mei 2026 saya ngaji kitab kifayatul atqiya’ dalam majelis rutin alumni di Bangkalan. Sekalian sowan ke masyayikh sepuh di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Lalu ke Situbondo, nanti ke Paiton dan Sidoarjo,” kata Gus Salam.
“Di Situbondo saya ngaji tentang NU ke Kiai Afifuddin Muhajir. Luar biasa pandangan beliau tentang peran strategis NU ke depan,” tambahnya.
Gus Salam menuturkan, KH Afifuddin Muhajir menekankan tiga peran strategis sekaligus arah pergerakan serta perjuangan NU ke depan. Pertama, NU harus menjadi benteng Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, penjaga moral bangsa, dan pelindung NKRI.
“Islam moderat, mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, menerima Pancasila dalam bingkai NKRI, dan meneladankan moralitas bagi kehidupan berbangsa, bisa menjadi sistem pertahanan ideologis bagi negara. Kokoh memegang prinsip seperti Gus Dur, namun lentur dalam bersikap. Terbuka dalam pemikiran, namun tidak melompati pagar pembatas akidah,” ucapnya.
Peran strategis kedua menurut Kiai Afif, kata Gus Salam, NU harus bisa memberi fatwa berkala kepada umat terkait problem sosial keagamaan-kebangsaan. Dan, peran strategis ketiga adalah NU harus mandiri dalam ekonomi dan independen dalam sikap berbangsa-bernegara sesuai koridor fiqhiyyah.
“Seperti Mbah Sahal Mahfudz dengan fikih sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyahnya bisa memberi pedoman kepada umat tentang kemashlahatan di bidang ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, dan bahkan bidang politik. Kepada pemerintah turut memberi nasihat, perspektif dan gagasan agar penyelenggaraan negara benar-benar ditujukan bagi kemakmuran rakyat serta mendapat kepercayaan mereka,” tambahnya
Gus Salam, NU harus mandiri agar berdaulat dan tidak mudah didikte. Mandiri bukan berarti menjauh dari pemerintah, tapi menjadi mitra kritis yang menukung bila maslahat, dan meluruskan bila ada mudarat. Semua yang ditegaskan KH Afifuddin Muhajir adalah implementasi Khittah NU 1926 yang telah diteladankan para pendahulu NU.
Saat ditanya tentang tujuan safarinya di berbagai daerah jelang muktamar ke35 NU, Gus Salam mengatakan, disamping ikhtiar menjalakan permintaan dan perintah guru-kiainya untuk khidmah NU melalui muktamar, juga merangkai kembali semua kekuatan NU sekaligus menggali permasalahan dan harapan-harapan mereka.
(cip)
Lihat Juga :