Kolaborasi Akademisi dan Aktivis Menjawab Krisis Lingkungan
Kamis, 09 April 2026 - 16:02 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat memandang pentingnya kolaborasi dan kepercayaan sebagai faktor penting yang perlu ada dalam mengatasi masalah lingkungan. “Tujuan harus jelas, platformnya harus sama, dan yang paling penting ada trust. Kolaborasi penting namun perlu ada tiga unsur utama tersebut,” ujar Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Helmi Gunawan.
Dari kacamata ilmiah, semua akademisi yang hadir mengusung satu kesimpulan yang sama, bahwa kondisi dan tujuan prioritas harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih skema maupun teknologi terbaik yang solutif untuk masa depan lingkungan Indonesia, seperti disampaikan Wakil Rektor ITB sekaligus dosen Teknik Lingkungan Prof Agus Jatnika Effendi.
“Dalam mencegah maupun mengelola bencana, ada berbagai teknologi sederhana yang bisa diterapkan, seperti membrane filter dalam mengelola bencana banjir. Memang masih ada kekurangan di teknologi tersebut, tapi kita harus melihat kondisi dan apa yang menjadi prioritas, bahwa masyarakat butuh air bersih segera,” ujarnya.
Hal senada dikatakan oleh Prof. Emenda Sembiring, mengenai rencana pembangunan giant incinerator sebagai solusi masalah sampah di Indonesia. “Saat ini saya bisa bilang bahwa cenderung setuju dengan rencana itu, walaupun banyak risikonya, namun saat ini diperlukan solusi cepat untuk menangani sampah yang sudah sedemikian besar jumlahnya di Indonesia, namun tentu tetap terus mencari solusi lain atau lanjutan untuk jangka panjang,” kata Emenda.
Selain menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi, dan aktivis lingkungan, serta perwakilan pemerintah, FOKAL juga menelurkan tiga anak muda yang mengungkap tiga gagasan sebagai solusi permasalahan lingkungan dan akan digodok menjadi young eco-influencers.
Mereka adalah Carissa Eukarin, yang memaparkan pemanfaatan sampah sachet menjadi produk papan melalui Repair Project, Hanna Maria Scriftura Sinaga yang menyampaikan solusi dekarbonasi untuk mendukung transformasi keberlanjutan di sektor bisnis melalui Climate Innovation, serta Firzainy Jiddan Mustofa yang mengembangkan platform untuk membantu pemerintah dan stakeholder dalam mengelola resapan air melalui SERAP (Sistem Evaluasi Resapan Air Pintar).
Sementara Ketua IATL Chitra Retna Septyandrica, selaku penyelenggara acara berharap, FOKAL bisa menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, yakni akademisi, aktivis lingkungan, pembuat kebijakan, pelaku industri, serta komunitas, untuk bersama-sama merumuskan solusi nyata terhadap krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Dari kacamata ilmiah, semua akademisi yang hadir mengusung satu kesimpulan yang sama, bahwa kondisi dan tujuan prioritas harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih skema maupun teknologi terbaik yang solutif untuk masa depan lingkungan Indonesia, seperti disampaikan Wakil Rektor ITB sekaligus dosen Teknik Lingkungan Prof Agus Jatnika Effendi.
“Dalam mencegah maupun mengelola bencana, ada berbagai teknologi sederhana yang bisa diterapkan, seperti membrane filter dalam mengelola bencana banjir. Memang masih ada kekurangan di teknologi tersebut, tapi kita harus melihat kondisi dan apa yang menjadi prioritas, bahwa masyarakat butuh air bersih segera,” ujarnya.
Hal senada dikatakan oleh Prof. Emenda Sembiring, mengenai rencana pembangunan giant incinerator sebagai solusi masalah sampah di Indonesia. “Saat ini saya bisa bilang bahwa cenderung setuju dengan rencana itu, walaupun banyak risikonya, namun saat ini diperlukan solusi cepat untuk menangani sampah yang sudah sedemikian besar jumlahnya di Indonesia, namun tentu tetap terus mencari solusi lain atau lanjutan untuk jangka panjang,” kata Emenda.
Selain menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi, dan aktivis lingkungan, serta perwakilan pemerintah, FOKAL juga menelurkan tiga anak muda yang mengungkap tiga gagasan sebagai solusi permasalahan lingkungan dan akan digodok menjadi young eco-influencers.
Mereka adalah Carissa Eukarin, yang memaparkan pemanfaatan sampah sachet menjadi produk papan melalui Repair Project, Hanna Maria Scriftura Sinaga yang menyampaikan solusi dekarbonasi untuk mendukung transformasi keberlanjutan di sektor bisnis melalui Climate Innovation, serta Firzainy Jiddan Mustofa yang mengembangkan platform untuk membantu pemerintah dan stakeholder dalam mengelola resapan air melalui SERAP (Sistem Evaluasi Resapan Air Pintar).
Sementara Ketua IATL Chitra Retna Septyandrica, selaku penyelenggara acara berharap, FOKAL bisa menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, yakni akademisi, aktivis lingkungan, pembuat kebijakan, pelaku industri, serta komunitas, untuk bersama-sama merumuskan solusi nyata terhadap krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Lihat Juga :