Ribuan Kejadian Bencana Mengintai, Jabar Kampanyekan Cetak Biru JRCP
Kamis, 17 September 2020 - 10:55 WIB
loading...
A
A
A
Melalui cetak biru JRCP, Kang Emil berharap, seluruh warga Jabar paham dalam merespons bencana. Sehingga, akan lahir budaya tangguh bencana yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi. "Jadi, kalau fondasi cetak biru budaya tangguh bencana bisa kita lahirkan, maka generasi berikutnya akan sangat tangguh," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Dani Ramdan menjelaskan, cetak biru JRCP merupakan panduan kebencanaan untuk menekan dampak yang ditimbulkan. "JRCP diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi dampak bencana, sehingga dapat lebih bersahabat dengan alam," katanya.
Menurut Dani, penyusunan JRCP didasari oleh tingkat kerawanan bencana di Jabar yang tergolong tinggi. Selain karena faktor alam, bencana juga disebabkan oleh kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi masifnya pembangunan. "Semua jenis bencana alam ada di Jawa Barat. Berangkat dari situ, kami rasa perlu adanya pedoman (JRCP) ini, agar masyarakat Jabar bisa hidup berdampingan dengan alam," katanya.
Dani memaparkan, cetak biru JRCP berisi berbagai kajian terkait perencanaan, seperti tingkat kerawanan di setiap daerah, permasalahan yang ditimbulkan, hingga indeks kesadaran masyarakatnya. "Saat ini, Jawa Barat memiliki indeks bencana sebesar 166 atau menempati urutan ke-11 dari 34 provinsi," sebutnya. (Baca: Bandung Raya Cerah Berawan, Selatan dan Timur Dibasahi Hujan Ringan)
Dani menyatakan, cetak biru yang JRCP yang disusun berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2020 tentang Penguatan Kapasitas Budaya Masyarakat Tangguh Bencana di Jawa Barat itu juga menjadi panduan utama bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta komponen masyarakat lainnya dalam membangun budaya tangguh bencana.
r
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Dani Ramdan menjelaskan, cetak biru JRCP merupakan panduan kebencanaan untuk menekan dampak yang ditimbulkan. "JRCP diharapkan bisa meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap potensi dampak bencana, sehingga dapat lebih bersahabat dengan alam," katanya.
Menurut Dani, penyusunan JRCP didasari oleh tingkat kerawanan bencana di Jabar yang tergolong tinggi. Selain karena faktor alam, bencana juga disebabkan oleh kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi masifnya pembangunan. "Semua jenis bencana alam ada di Jawa Barat. Berangkat dari situ, kami rasa perlu adanya pedoman (JRCP) ini, agar masyarakat Jabar bisa hidup berdampingan dengan alam," katanya.
Dani memaparkan, cetak biru JRCP berisi berbagai kajian terkait perencanaan, seperti tingkat kerawanan di setiap daerah, permasalahan yang ditimbulkan, hingga indeks kesadaran masyarakatnya. "Saat ini, Jawa Barat memiliki indeks bencana sebesar 166 atau menempati urutan ke-11 dari 34 provinsi," sebutnya. (Baca: Bandung Raya Cerah Berawan, Selatan dan Timur Dibasahi Hujan Ringan)
Dani menyatakan, cetak biru yang JRCP yang disusun berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 1 Tahun 2020 tentang Penguatan Kapasitas Budaya Masyarakat Tangguh Bencana di Jawa Barat itu juga menjadi panduan utama bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta komponen masyarakat lainnya dalam membangun budaya tangguh bencana.
r
(don)
Lihat Juga :