Ketua LP Ma’arif Sebut Gus Salam, Dzurriyah Pendiri NU Tepat Memimpin PBNU
Rabu, 07 Januari 2026 - 15:11 WIB
loading...
A
A
A
Dari banyak yang dia ceritakan, kata Rasyid T Mayang pun mulai paham, kenapa Gus Salam resah dengan kondisi jam’iyyah dan pesantren-pesantren NU. Bagai tubuh dan urat nadi, pesantren pemasok oksigen dan nutrisi kedalam NU. Pesantren menjadi sistem krusial pertahanan hidup NU, transporter penting dan pembersih sampah didalam tubuh.
Ketika keduanya tidak dalam satu kesatuan, maka alarm ruh jam’iyyah dalam bahaya. Bagi Gus Salam, santri menjadi investasi masa depan NU. Dan, santri harus disiapkan agar bisa menjaga kedaulatan Islam Aswaja dan NKRI dengan inisiasi-kreatif dan inovatif melalui jam’iyyah NU untuk memberi manfaat dan kemashlahatan rakyat di segala bidang, secara luas," ucapnya
Pada konteks ini, ia mengaku teringat doktrin kesatuan semasa tugas berani, benar dan berhasil. Perjuangan Gus Salam untuk NU, Pesantren, Santri dan NKRI demi manfaat dan kemashlahatan rakyat, dilakukan dengan penuh keberanian dan memiliki landasan kebenaran; dimana dengan keduanya optimis bisa dicapai dan berhasil.
"Karenanya, saya tidak kaget ketika Gus Salam dipecat oleh pimpinan PBNU 2023 karena konsistensi sikap dan prinsip perjuangannya. Dia tidak layu menjadi korban, disaat kebanyakan menghidari. Sebaliknya, bangkit berani menggalang kesadaran masyayikh dan pesantren NU untuk terus mengingatkan dan menasehati kinerja PBNU yang dinilai terlepas dari landasan dasar, pedoman, konstitusi serta keteladan pendahulu dan pendiri NU," tuturnya lagi.
Ada hal menarik dari sosok Gus Salam. Ketika kemelut PBNU meruncing hingga tuntutan mundur kedua pucuk pimpinannya, disusul pemecatan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum oleh Syuriyah PBNU, Gus Salam berada di balik gerakan ishlah melalui forum silaturrohin Ploso, Tebuireng, dan Musyawarah Kubro (Muskub) Lirboyo.
Bagi Gus Salam, yang utama adalah ishlahil jam’iyyah (perbaikan jam’iyyah) dengan kembali ke jalan utama NU, dan diikuti dengan pergantian para pemimpinnya. Lebih penting dari itu adalah ta’dhim kepada masyayikh pesantren dan sesepuh NU dengan mengikuti dan mendapat restu demi keberkahan dalam khidmah untuk kemashalatan umat.
“Saya berharap ketika Gus Salam menjadi Ketua Umum PBNU, supaya lebih perhatian dan bijaksana dalam mengembangkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah tapal batas Indonesia. Ketahanan jam’iyyah harus diprioritaskan searah dengan ketahanan nasional yang terus diperkuat. Modal yang dimiliki NU jauh lebih besar dan potensial dibanding sekedar mengurus konsesi tambang,” katanya.
Ketika keduanya tidak dalam satu kesatuan, maka alarm ruh jam’iyyah dalam bahaya. Bagi Gus Salam, santri menjadi investasi masa depan NU. Dan, santri harus disiapkan agar bisa menjaga kedaulatan Islam Aswaja dan NKRI dengan inisiasi-kreatif dan inovatif melalui jam’iyyah NU untuk memberi manfaat dan kemashlahatan rakyat di segala bidang, secara luas," ucapnya
Pada konteks ini, ia mengaku teringat doktrin kesatuan semasa tugas berani, benar dan berhasil. Perjuangan Gus Salam untuk NU, Pesantren, Santri dan NKRI demi manfaat dan kemashlahatan rakyat, dilakukan dengan penuh keberanian dan memiliki landasan kebenaran; dimana dengan keduanya optimis bisa dicapai dan berhasil.
"Karenanya, saya tidak kaget ketika Gus Salam dipecat oleh pimpinan PBNU 2023 karena konsistensi sikap dan prinsip perjuangannya. Dia tidak layu menjadi korban, disaat kebanyakan menghidari. Sebaliknya, bangkit berani menggalang kesadaran masyayikh dan pesantren NU untuk terus mengingatkan dan menasehati kinerja PBNU yang dinilai terlepas dari landasan dasar, pedoman, konstitusi serta keteladan pendahulu dan pendiri NU," tuturnya lagi.
Ada hal menarik dari sosok Gus Salam. Ketika kemelut PBNU meruncing hingga tuntutan mundur kedua pucuk pimpinannya, disusul pemecatan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum oleh Syuriyah PBNU, Gus Salam berada di balik gerakan ishlah melalui forum silaturrohin Ploso, Tebuireng, dan Musyawarah Kubro (Muskub) Lirboyo.
Bagi Gus Salam, yang utama adalah ishlahil jam’iyyah (perbaikan jam’iyyah) dengan kembali ke jalan utama NU, dan diikuti dengan pergantian para pemimpinnya. Lebih penting dari itu adalah ta’dhim kepada masyayikh pesantren dan sesepuh NU dengan mengikuti dan mendapat restu demi keberkahan dalam khidmah untuk kemashalatan umat.
“Saya berharap ketika Gus Salam menjadi Ketua Umum PBNU, supaya lebih perhatian dan bijaksana dalam mengembangkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah tapal batas Indonesia. Ketahanan jam’iyyah harus diprioritaskan searah dengan ketahanan nasional yang terus diperkuat. Modal yang dimiliki NU jauh lebih besar dan potensial dibanding sekedar mengurus konsesi tambang,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :