Ketua LP Ma’arif Sebut Gus Salam, Dzurriyah Pendiri NU Tepat Memimpin PBNU
Rabu, 07 Januari 2026 - 15:11 WIB
loading...
Ketua LP Maarif NU Papua Rasyid T. Mayang menilai, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang KH Abdussalam bin Shohib Bishri atau Gus Salam cocok memimpin NU. Foto/istimewa
A
A
A
PAPUA - Solusi untuk mengakhiri konflik di tubuh Pengurus Besar Nadhlatul Ulama ( PBNU ) hanya satu yakni mengganti kepemimpinan. Orang yang tepat memimpin PBNU adalah sosok yang memiliki dzurriyah pendiri NU.
Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) Papua Rasyid T. Mayang menilai, dari sekian banyak tokoh drurriyah muassis NU, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang KH Abdussalam bin Shohib Bishri atau Gus Salam lebih cocok memimpin NU, mengganti rezim PBNU saat ini.
"Bagi saya, ganti pemimpin PBNU saat ini, sebelum terlambat. NU harus didekatkan kembali, bahkan kepemimpinan NU dikembalikan kepada dzurriyah pendiri agar dijalankan secara baik dan benar sesuai pewarisan ilmu, spiritualitas, landasan semangat, ajaran dan keteladan. Walau demikian, bukan berarti NU itu menjadi milik dan dipimpin oleh dinasti,” katanya, Selasa (7/1/2025).
Baca juga: Silaturahmi Syuriyah-Tanfidziyah PBNU, Gus Yahya: Semua Kembali seperti Semula
Tapi saat ini, kata dia, untuk mengembalikan orientasi berjam’iyyah. Memasuki abad kedua NU, sesuai manhajkebaikan jalan yang diwariskan para pendahulu dan pendiri NU dengan sistem manajemen yang disesuaikan dengan zaman. “Dari sejumlah tokoh drurriyah muassis NU, KH Abdussalam bin Shohib Bishri atau Gus Salam lebih cocok memimpin NU, " tegasnya, Rabu (7/1/2026).
Wakil Ketua PWNU Papua Hasil Konferwil 8 November 2021 di era kepemimpinan KH Said Aqil Siradj yang belum sempat di SK oleh Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya hingga 7 Juni 2023 itu tidak habis pikir, konflik PBNU yang melibatkan para top leader, tidak segera diselesaikan dengan mekanisme konstitusional yang disepakati.
Kesepakatan itu telah dibimbing para sesepuh NU, terang benderang agar secepatnya muktamar. "Walaupun secara pribadi, saya tetap memilih MLB (Muktamar Luar Biasa); memaksa berakhir karena konflik dan kerusakannya terlalu dalam bagi NU, dan (mosi) tidak lagi percaya kepada PBNU," ucapnya.
Rasyid T Mayang menyebut, sangat menyakitkan bila mengingat bagaimana PBNU memperlakukan para pegiat kepengurusan NU yang berhasil meluaskan eksistensi dan pengaruh NU di Papua. Seakan PBNU hanya peduli aspek administrasi dan birokrasi organisasi, namun menutup mata terhadap kompleksitas dakwah untuk meluaskan jam’iyyah dan jamaah NU di tanah Papua.
Baca juga: 6 Brigjen Naik Pangkat Jadi Mayjen TNI usai Dapat Promosi Jabatan Desember 2025, Ini Namanya
Di tanah Papua, ungkap dia, dakwah NU sejalan dengan kompleksitas perjuangan menegakkan NKRI dan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah, di garis depan. Tantangan geografis, ekonomi, infrastruktur, multikultur dan konflik lokal memerlukan usaha luar biasa dari para pegiat untuk menjaga eksistensi dan misi jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Alhamdulillah, saya menjadi bagian dari usaha itu, setelah pensiun dari kesatuan TNI AD.
"Gus Dur adalah inspirator bagi dakwah NU di tanah Papua. Nilai kepercayaan, persatuan, toleransi, keteguhan dan sikap terbuka menjadi modal utama khidmah NU untuk bisa diterima di tengah-tengah masyarakat Papua. Namun, nilai-nilai itu dirusak oleh pimpinan PBNU dengan mendestruksi kepengurusan NU Papua dan ditunjukkan sendiri melalui geger antar petinggi PBNU yang hingga kini tidak kunjung usai," kata Wakil Ketua PCNU Kota Jayapura, masa khidmat 2025-2030 itu.
Rasyid T Mayang menilai para pemimpin di PBNU saat ini, telah kehilangan charisma, kualitas pribadi sebagai pemimpin organisasi keagamaan. Dipermukaan konflik mereka saling menyakiti secara verbal. Tiada lagi teladan baik dari manuver-manuver mereka untuk saling menggalang pembenaran dalam berkonflik. Mereka tidak mau meneladani kebaikan dari pendahulu dan pendiri NU.
"Kenapa Gus Salam. Saya mengenal dan memahami kepribadiannya saat bertemu langsung di Surabaya, selebihnya berkomunikasi melalui platform media sosial. Dari kualitas pribadi Gus Salam, saya berkesimpulan bahwa “orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Tapi mereka dibentuk oleh kesulitan, tantangan dan pengorbanan," tuturnya.
KH Abdussalam Shohib, merupakan kiai muda yang didalam dirinya mengalir darah pejuang dan pendiri NU. Keilmuannya diatas rata-rata sebaya, tertempa oleh lingkungan pesantren, komunitas nahdliyyin dan bergumul dengan para praktisi berbagai disiplin ilmu. "Pribadinya matang karena bergaul dengan semua lapisan sosial, dari kalangan bawah hingga para tokoh-tokoh nasional," kata dia
Meski Gus Salam tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Tapi, kemampuan menyerap dan mengelaborasi kompleksitas masalah di masyarakat, komunitas NU dan persoalan kebangsaan, menjadikannya sebagai figur unik dan kharismatik.
"Saya tidak merasa aneh dengan kemampuannya, karena antara Gus Salam dan Gus Dur adalah sepupu adik-kakak dari gen keturunan Mbah Bishri Syansuri, pejuang heroik 45 dan pendiri NU," katanya lagi.
Dari banyak yang dia ceritakan, kata Rasyid T Mayang pun mulai paham, kenapa Gus Salam resah dengan kondisi jam’iyyah dan pesantren-pesantren NU. Bagai tubuh dan urat nadi, pesantren pemasok oksigen dan nutrisi kedalam NU. Pesantren menjadi sistem krusial pertahanan hidup NU, transporter penting dan pembersih sampah didalam tubuh.
Ketika keduanya tidak dalam satu kesatuan, maka alarm ruh jam’iyyah dalam bahaya. Bagi Gus Salam, santri menjadi investasi masa depan NU. Dan, santri harus disiapkan agar bisa menjaga kedaulatan Islam Aswaja dan NKRI dengan inisiasi-kreatif dan inovatif melalui jam’iyyah NU untuk memberi manfaat dan kemashlahatan rakyat di segala bidang, secara luas," ucapnya
Pada konteks ini, ia mengaku teringat doktrin kesatuan semasa tugas berani, benar dan berhasil. Perjuangan Gus Salam untuk NU, Pesantren, Santri dan NKRI demi manfaat dan kemashlahatan rakyat, dilakukan dengan penuh keberanian dan memiliki landasan kebenaran; dimana dengan keduanya optimis bisa dicapai dan berhasil.
"Karenanya, saya tidak kaget ketika Gus Salam dipecat oleh pimpinan PBNU 2023 karena konsistensi sikap dan prinsip perjuangannya. Dia tidak layu menjadi korban, disaat kebanyakan menghidari. Sebaliknya, bangkit berani menggalang kesadaran masyayikh dan pesantren NU untuk terus mengingatkan dan menasehati kinerja PBNU yang dinilai terlepas dari landasan dasar, pedoman, konstitusi serta keteladan pendahulu dan pendiri NU," tuturnya lagi.
Ada hal menarik dari sosok Gus Salam. Ketika kemelut PBNU meruncing hingga tuntutan mundur kedua pucuk pimpinannya, disusul pemecatan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum oleh Syuriyah PBNU, Gus Salam berada di balik gerakan ishlah melalui forum silaturrohin Ploso, Tebuireng, dan Musyawarah Kubro (Muskub) Lirboyo.
Bagi Gus Salam, yang utama adalah ishlahil jam’iyyah (perbaikan jam’iyyah) dengan kembali ke jalan utama NU, dan diikuti dengan pergantian para pemimpinnya. Lebih penting dari itu adalah ta’dhim kepada masyayikh pesantren dan sesepuh NU dengan mengikuti dan mendapat restu demi keberkahan dalam khidmah untuk kemashalatan umat.
“Saya berharap ketika Gus Salam menjadi Ketua Umum PBNU, supaya lebih perhatian dan bijaksana dalam mengembangkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah tapal batas Indonesia. Ketahanan jam’iyyah harus diprioritaskan searah dengan ketahanan nasional yang terus diperkuat. Modal yang dimiliki NU jauh lebih besar dan potensial dibanding sekedar mengurus konsesi tambang,” katanya.
Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) Papua Rasyid T. Mayang menilai, dari sekian banyak tokoh drurriyah muassis NU, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang KH Abdussalam bin Shohib Bishri atau Gus Salam lebih cocok memimpin NU, mengganti rezim PBNU saat ini.
"Bagi saya, ganti pemimpin PBNU saat ini, sebelum terlambat. NU harus didekatkan kembali, bahkan kepemimpinan NU dikembalikan kepada dzurriyah pendiri agar dijalankan secara baik dan benar sesuai pewarisan ilmu, spiritualitas, landasan semangat, ajaran dan keteladan. Walau demikian, bukan berarti NU itu menjadi milik dan dipimpin oleh dinasti,” katanya, Selasa (7/1/2025).
Baca juga: Silaturahmi Syuriyah-Tanfidziyah PBNU, Gus Yahya: Semua Kembali seperti Semula
Tapi saat ini, kata dia, untuk mengembalikan orientasi berjam’iyyah. Memasuki abad kedua NU, sesuai manhajkebaikan jalan yang diwariskan para pendahulu dan pendiri NU dengan sistem manajemen yang disesuaikan dengan zaman. “Dari sejumlah tokoh drurriyah muassis NU, KH Abdussalam bin Shohib Bishri atau Gus Salam lebih cocok memimpin NU, " tegasnya, Rabu (7/1/2026).
Wakil Ketua PWNU Papua Hasil Konferwil 8 November 2021 di era kepemimpinan KH Said Aqil Siradj yang belum sempat di SK oleh Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya hingga 7 Juni 2023 itu tidak habis pikir, konflik PBNU yang melibatkan para top leader, tidak segera diselesaikan dengan mekanisme konstitusional yang disepakati.
Kesepakatan itu telah dibimbing para sesepuh NU, terang benderang agar secepatnya muktamar. "Walaupun secara pribadi, saya tetap memilih MLB (Muktamar Luar Biasa); memaksa berakhir karena konflik dan kerusakannya terlalu dalam bagi NU, dan (mosi) tidak lagi percaya kepada PBNU," ucapnya.
Rasyid T Mayang menyebut, sangat menyakitkan bila mengingat bagaimana PBNU memperlakukan para pegiat kepengurusan NU yang berhasil meluaskan eksistensi dan pengaruh NU di Papua. Seakan PBNU hanya peduli aspek administrasi dan birokrasi organisasi, namun menutup mata terhadap kompleksitas dakwah untuk meluaskan jam’iyyah dan jamaah NU di tanah Papua.
Baca juga: 6 Brigjen Naik Pangkat Jadi Mayjen TNI usai Dapat Promosi Jabatan Desember 2025, Ini Namanya
Di tanah Papua, ungkap dia, dakwah NU sejalan dengan kompleksitas perjuangan menegakkan NKRI dan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah, di garis depan. Tantangan geografis, ekonomi, infrastruktur, multikultur dan konflik lokal memerlukan usaha luar biasa dari para pegiat untuk menjaga eksistensi dan misi jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Alhamdulillah, saya menjadi bagian dari usaha itu, setelah pensiun dari kesatuan TNI AD.
"Gus Dur adalah inspirator bagi dakwah NU di tanah Papua. Nilai kepercayaan, persatuan, toleransi, keteguhan dan sikap terbuka menjadi modal utama khidmah NU untuk bisa diterima di tengah-tengah masyarakat Papua. Namun, nilai-nilai itu dirusak oleh pimpinan PBNU dengan mendestruksi kepengurusan NU Papua dan ditunjukkan sendiri melalui geger antar petinggi PBNU yang hingga kini tidak kunjung usai," kata Wakil Ketua PCNU Kota Jayapura, masa khidmat 2025-2030 itu.
Rasyid T Mayang menilai para pemimpin di PBNU saat ini, telah kehilangan charisma, kualitas pribadi sebagai pemimpin organisasi keagamaan. Dipermukaan konflik mereka saling menyakiti secara verbal. Tiada lagi teladan baik dari manuver-manuver mereka untuk saling menggalang pembenaran dalam berkonflik. Mereka tidak mau meneladani kebaikan dari pendahulu dan pendiri NU.
"Kenapa Gus Salam. Saya mengenal dan memahami kepribadiannya saat bertemu langsung di Surabaya, selebihnya berkomunikasi melalui platform media sosial. Dari kualitas pribadi Gus Salam, saya berkesimpulan bahwa “orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Tapi mereka dibentuk oleh kesulitan, tantangan dan pengorbanan," tuturnya.
KH Abdussalam Shohib, merupakan kiai muda yang didalam dirinya mengalir darah pejuang dan pendiri NU. Keilmuannya diatas rata-rata sebaya, tertempa oleh lingkungan pesantren, komunitas nahdliyyin dan bergumul dengan para praktisi berbagai disiplin ilmu. "Pribadinya matang karena bergaul dengan semua lapisan sosial, dari kalangan bawah hingga para tokoh-tokoh nasional," kata dia
Meski Gus Salam tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Tapi, kemampuan menyerap dan mengelaborasi kompleksitas masalah di masyarakat, komunitas NU dan persoalan kebangsaan, menjadikannya sebagai figur unik dan kharismatik.
"Saya tidak merasa aneh dengan kemampuannya, karena antara Gus Salam dan Gus Dur adalah sepupu adik-kakak dari gen keturunan Mbah Bishri Syansuri, pejuang heroik 45 dan pendiri NU," katanya lagi.
Dari banyak yang dia ceritakan, kata Rasyid T Mayang pun mulai paham, kenapa Gus Salam resah dengan kondisi jam’iyyah dan pesantren-pesantren NU. Bagai tubuh dan urat nadi, pesantren pemasok oksigen dan nutrisi kedalam NU. Pesantren menjadi sistem krusial pertahanan hidup NU, transporter penting dan pembersih sampah didalam tubuh.
Ketika keduanya tidak dalam satu kesatuan, maka alarm ruh jam’iyyah dalam bahaya. Bagi Gus Salam, santri menjadi investasi masa depan NU. Dan, santri harus disiapkan agar bisa menjaga kedaulatan Islam Aswaja dan NKRI dengan inisiasi-kreatif dan inovatif melalui jam’iyyah NU untuk memberi manfaat dan kemashlahatan rakyat di segala bidang, secara luas," ucapnya
Pada konteks ini, ia mengaku teringat doktrin kesatuan semasa tugas berani, benar dan berhasil. Perjuangan Gus Salam untuk NU, Pesantren, Santri dan NKRI demi manfaat dan kemashlahatan rakyat, dilakukan dengan penuh keberanian dan memiliki landasan kebenaran; dimana dengan keduanya optimis bisa dicapai dan berhasil.
"Karenanya, saya tidak kaget ketika Gus Salam dipecat oleh pimpinan PBNU 2023 karena konsistensi sikap dan prinsip perjuangannya. Dia tidak layu menjadi korban, disaat kebanyakan menghidari. Sebaliknya, bangkit berani menggalang kesadaran masyayikh dan pesantren NU untuk terus mengingatkan dan menasehati kinerja PBNU yang dinilai terlepas dari landasan dasar, pedoman, konstitusi serta keteladan pendahulu dan pendiri NU," tuturnya lagi.
Ada hal menarik dari sosok Gus Salam. Ketika kemelut PBNU meruncing hingga tuntutan mundur kedua pucuk pimpinannya, disusul pemecatan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum oleh Syuriyah PBNU, Gus Salam berada di balik gerakan ishlah melalui forum silaturrohin Ploso, Tebuireng, dan Musyawarah Kubro (Muskub) Lirboyo.
Bagi Gus Salam, yang utama adalah ishlahil jam’iyyah (perbaikan jam’iyyah) dengan kembali ke jalan utama NU, dan diikuti dengan pergantian para pemimpinnya. Lebih penting dari itu adalah ta’dhim kepada masyayikh pesantren dan sesepuh NU dengan mengikuti dan mendapat restu demi keberkahan dalam khidmah untuk kemashalatan umat.
“Saya berharap ketika Gus Salam menjadi Ketua Umum PBNU, supaya lebih perhatian dan bijaksana dalam mengembangkan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah tapal batas Indonesia. Ketahanan jam’iyyah harus diprioritaskan searah dengan ketahanan nasional yang terus diperkuat. Modal yang dimiliki NU jauh lebih besar dan potensial dibanding sekedar mengurus konsesi tambang,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :