Kisah Asraf dan Adiknya 3 Hari Bertahan di Loteng dari Amukan Banjir Bandang Pidie Jaya
Kamis, 18 Desember 2025 - 07:45 WIB
loading...
A
A
A
Tak ada pilihan lain. Asraf membawa adiknya yang masih duduk di kelas satu SMP naik ke loteng rumah. Ketinggian air terus bertambah, sementara suara benturan kayu dan puing terdengar semakin dekat.
Di bawah loteng, sang ibu terjebak. Ia hanya bisa bergelantungan di jeruji besi, berjuang menahan tubuhnya dari derasnya arus.
Baca juga: Warning Bank Dunia: Banjir Sumatera Ancaman Serius bagi Ekonomi RI
Dari atas loteng, Asraf menyaksikan rumahnya dihantam kayu-kayu besar. Dinding pecah, bangunan roboh satu per satu. Lumpur dan air bercampur, menghancurkan segalanya. Dalam gelap, ia hanya bisa berdoa agar keluarganya selamat.
Puncak banjir terjadi sekitar pukul 03.00 dini hari pada hari kedua. Gelap gulita menyelimuti desa. Asraf tak mampu melihat apakah ada warga lain yang terseret arus. Ketakutan bercampur putus asa, sementara hujan masih terus turun tanpa jeda.
Kondisi sang ibu di bawah semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya berkali-kali dihantam kayu yang terbawa arus hingga kelelahan. Selama dua hari dua malam, ia tak sempat makan.
Di bawah loteng, sang ibu terjebak. Ia hanya bisa bergelantungan di jeruji besi, berjuang menahan tubuhnya dari derasnya arus.
Baca juga: Warning Bank Dunia: Banjir Sumatera Ancaman Serius bagi Ekonomi RI
Dari atas loteng, Asraf menyaksikan rumahnya dihantam kayu-kayu besar. Dinding pecah, bangunan roboh satu per satu. Lumpur dan air bercampur, menghancurkan segalanya. Dalam gelap, ia hanya bisa berdoa agar keluarganya selamat.
Puncak banjir terjadi sekitar pukul 03.00 dini hari pada hari kedua. Gelap gulita menyelimuti desa. Asraf tak mampu melihat apakah ada warga lain yang terseret arus. Ketakutan bercampur putus asa, sementara hujan masih terus turun tanpa jeda.
Kondisi sang ibu di bawah semakin mengkhawatirkan. Tubuhnya berkali-kali dihantam kayu yang terbawa arus hingga kelelahan. Selama dua hari dua malam, ia tak sempat makan.
Lihat Juga :