Kisah Pilu Guru di Pidie Jaya Selamatkan Diri ke Atap Rumah, Bertahan Hidup 3 Hari Hanya dengan Air Hujan
Jum'at, 05 Desember 2025 - 14:23 WIB
loading...
A
A
A
Malam demi malam mereka lalui di atas atap rumah, menggigil, menunggu keajaiban, tanpa makanan, tubuh semakin lemah. "Hanya air hujan yang menjadi penyambung hidup," ungkapnya.
Saat air tampak sedikit surut, Ismatul Khaira dan keluarganya nekat mengikuti arus banjir menuju rumah kakaknya. Semuanya dilakukan dengan sisa tenaga dan ketakutan yang tak terucapkan.
Namun kisah pilu itu belum selesai. Desa mereka masih terendam banjir, tidak ada makanan, tidak ada akses keluar. Mereka hampir menyerah, hingga sekelompok anak muda kampung datang membawa bantuan meskipun air masih tinggi.
Dia menuturkan, Pante Geulima yang terkenal sebagai kampung pendidikan roboh dalam sehari. Desa yang selama ini mendidik ratusan murid itu kini luluh lantak. Rumah-rumah hancur, buku-buku sekolah hanyut, fasilitas pendidikan tak lagi berdiri tegak.
Saat air tampak sedikit surut, Ismatul Khaira dan keluarganya nekat mengikuti arus banjir menuju rumah kakaknya. Semuanya dilakukan dengan sisa tenaga dan ketakutan yang tak terucapkan.
Namun kisah pilu itu belum selesai. Desa mereka masih terendam banjir, tidak ada makanan, tidak ada akses keluar. Mereka hampir menyerah, hingga sekelompok anak muda kampung datang membawa bantuan meskipun air masih tinggi.
Dia menuturkan, Pante Geulima yang terkenal sebagai kampung pendidikan roboh dalam sehari. Desa yang selama ini mendidik ratusan murid itu kini luluh lantak. Rumah-rumah hancur, buku-buku sekolah hanyut, fasilitas pendidikan tak lagi berdiri tegak.
(shf)
Lihat Juga :