Kisah Pilu Guru di Pidie Jaya Selamatkan Diri ke Atap Rumah, Bertahan Hidup 3 Hari Hanya dengan Air Hujan
Jum'at, 05 Desember 2025 - 14:23 WIB
loading...
Seorang guru di Pidie Jaya, Aceh bernama Ismatul Khaira dan keluarganya terjebak di atas atap rumah selama tiga hari akibat banjir dan longsor yang menerjang. Foto/iNews TV/Jamal Pangwa
A
A
A
PIDIE JAYA - SEORANG guru di Pidie Jaya, Aceh bernama Ismatul Khaira bersama keluarganya terjebak di atas atap rumah selama tiga hari akibat banjir bandang dan longsor yang menerjang. Dia hidup tanpa makanan dan hanya mengandalkan air hujan untuk bertahan dari bencana terbesar yang pernah menghantam kampung pendidikan itu.
![Kisah Pilu Guru di Pidie Jaya Selamatkan Diri ke Atap Rumah, Bertahan Hidup 3 Hari Hanya dengan Air Hujan]()
Semua berawal pada Rabu malam (26/11/2025) sekitar pukul 22.00 WIB turun hujan deras turun. Akan tetapi tak seorang pun membayangkan air akan naik hingga setinggi itu. Ismatul Khaira yang tinggal di Desa Meunasah Lhok, Pante Geulima, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya pun tak menyangka banjir bandang akan datang.
Baca juga: Akses Darat Aceh Tamiang Mulai Terbuka, Truk BBM dan Alat Berat Dikerahkan
Ismatul Khaira menjelaskan, banjir sebelumnya memang pernah ada. Tapi hanya sekitar satu meter saja dan cepat surut.
"Namun malam itu kenyataan berubah menjadi mimpi buruk. Air merangsek tanpa ampun, jauh melebihi yang diperkirakan warga," katanya, Jumat (5/12/2025).
Ismatul Khaira dan keluarganya sama sekali tidak mengira air akan setinggi tersebut. Banyak warga tidak mengungsi. Sepeda motor, mobil dan harta benda hanya dipindahkan ke persimpangan jalan seperti banjir banjir sebelumnya hanya satu meteran.
Namun semua itu sia-sia. Ternyata arus banjir kian deras bersama kayu-kayu besar gelondongan yang ikut hanyut. Air bah menyapu apa saja yang dilewati serta menghantam rumah-rumah warga hingga desa gelap gulita. Hanya terdengar suara derasnya banjir bandang dan jeritan warga terdengar di kegelapan.
Baca juga: Update Korban Bencana Sumatera: 836 Meninggal, 518 Orang Masih Hilang
Ketika air terus melonjak, Ismatul Khaira dan keluarganya naik ke lantai dua. Namun itu pun tak dapat menyelamatkan mereka.
Air terus naik hingga lantai 2 terendam. Mereka pun takut rumah roboh. Hingga akhirnya mereka panjat atap untuk menyelamatkan diri.
Malam demi malam mereka lalui di atas atap rumah, menggigil, menunggu keajaiban, tanpa makanan, tubuh semakin lemah. "Hanya air hujan yang menjadi penyambung hidup," ungkapnya.
Saat air tampak sedikit surut, Ismatul Khaira dan keluarganya nekat mengikuti arus banjir menuju rumah kakaknya. Semuanya dilakukan dengan sisa tenaga dan ketakutan yang tak terucapkan.
Namun kisah pilu itu belum selesai. Desa mereka masih terendam banjir, tidak ada makanan, tidak ada akses keluar. Mereka hampir menyerah, hingga sekelompok anak muda kampung datang membawa bantuan meskipun air masih tinggi.
Dia menuturkan, Pante Geulima yang terkenal sebagai kampung pendidikan roboh dalam sehari. Desa yang selama ini mendidik ratusan murid itu kini luluh lantak. Rumah-rumah hancur, buku-buku sekolah hanyut, fasilitas pendidikan tak lagi berdiri tegak.

Semua berawal pada Rabu malam (26/11/2025) sekitar pukul 22.00 WIB turun hujan deras turun. Akan tetapi tak seorang pun membayangkan air akan naik hingga setinggi itu. Ismatul Khaira yang tinggal di Desa Meunasah Lhok, Pante Geulima, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya pun tak menyangka banjir bandang akan datang.
Baca juga: Akses Darat Aceh Tamiang Mulai Terbuka, Truk BBM dan Alat Berat Dikerahkan
Ismatul Khaira menjelaskan, banjir sebelumnya memang pernah ada. Tapi hanya sekitar satu meter saja dan cepat surut.
"Namun malam itu kenyataan berubah menjadi mimpi buruk. Air merangsek tanpa ampun, jauh melebihi yang diperkirakan warga," katanya, Jumat (5/12/2025).
Ismatul Khaira dan keluarganya sama sekali tidak mengira air akan setinggi tersebut. Banyak warga tidak mengungsi. Sepeda motor, mobil dan harta benda hanya dipindahkan ke persimpangan jalan seperti banjir banjir sebelumnya hanya satu meteran.
Namun semua itu sia-sia. Ternyata arus banjir kian deras bersama kayu-kayu besar gelondongan yang ikut hanyut. Air bah menyapu apa saja yang dilewati serta menghantam rumah-rumah warga hingga desa gelap gulita. Hanya terdengar suara derasnya banjir bandang dan jeritan warga terdengar di kegelapan.
Baca juga: Update Korban Bencana Sumatera: 836 Meninggal, 518 Orang Masih Hilang
Ketika air terus melonjak, Ismatul Khaira dan keluarganya naik ke lantai dua. Namun itu pun tak dapat menyelamatkan mereka.
Air terus naik hingga lantai 2 terendam. Mereka pun takut rumah roboh. Hingga akhirnya mereka panjat atap untuk menyelamatkan diri.
Malam demi malam mereka lalui di atas atap rumah, menggigil, menunggu keajaiban, tanpa makanan, tubuh semakin lemah. "Hanya air hujan yang menjadi penyambung hidup," ungkapnya.
Saat air tampak sedikit surut, Ismatul Khaira dan keluarganya nekat mengikuti arus banjir menuju rumah kakaknya. Semuanya dilakukan dengan sisa tenaga dan ketakutan yang tak terucapkan.
Namun kisah pilu itu belum selesai. Desa mereka masih terendam banjir, tidak ada makanan, tidak ada akses keluar. Mereka hampir menyerah, hingga sekelompok anak muda kampung datang membawa bantuan meskipun air masih tinggi.
Dia menuturkan, Pante Geulima yang terkenal sebagai kampung pendidikan roboh dalam sehari. Desa yang selama ini mendidik ratusan murid itu kini luluh lantak. Rumah-rumah hancur, buku-buku sekolah hanyut, fasilitas pendidikan tak lagi berdiri tegak.
(shf)
Lihat Juga :