Polisi Ungkap Alasan Kacab Bank Jadi Target Pelaku Penculikan
Selasa, 16 September 2025 - 17:24 WIB
loading...
A
A
A
"Dalam proses pencarian itu, mereka mendapatkan dari orang-orang di lapangan mendapatkan kartu nama tersebut sehingga saat DH setuju melakukan tindakan opsi 1 penculikan nah, si K memberikan kartu nama kacab dan dikirim kepada DH," ungkapnya.
Selanjutnya, DH pun mengumpulkan informasi terkait kediaman hingga membuntuti korban demi mendapatkan informasi selanjutnya. "DH melakukan pencarian rumah korban, enggak bisa ditemukan, karena kartu nama alamat tidak lengkap. Sehingga mereka ke kantor korban, dari tengah malam mereka membuntuti dari kantor korban," ujar dia.
Oleh karena itu, antara korban dan pelaku tidak saling mengenal. MIP menjadi korban acak para pelaku penculikan dan pembunuhan. "Bahwa korban adalah acak, acaknya berawal dari K ini sebar mencari kacab yang bisa didapati, namun dapat datanya jadi data ini diberikan kepada DH," jelas dia.
Klaster pertama yakni klaster otak penculikan dengan pelaku yakni C alias Ken berperan mengatur, menyiapkan rencana, dan menyiapkan tim IT untuk memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan.
Kedua, Dwi Hartono (DH), berperan mencari tim penculik, menyiapkan tim untuk membuntuti korban, merencanakan penculikan, memberi uang Rp60 juta kepada JP untuk operasionalisasi penculikan.
Ketiga, AAM, berperan merencanakan penculikan korban dan menyiapkan tim mengikuti korban. Keempat, JP, berperan mempersiapkan tim eksekutor bersama N, ikut membuang korban di Cikarang bersama N, mengoordinasikan dan mengawasi jalannya pembuntutan sampai penculikan, memberi uang Rp150 juta kepada N untuk operasional penculikan.
Kemudian, polisi juga membagi klaster penculikan dengan lima orang pelaku. Pertama, E, berperan memasukkan korban secara paksa ke mobil para penculik, melakukan penganiayaan, melilitkan lakban dan mengikat tangan korban.
Selanjutnya, DH pun mengumpulkan informasi terkait kediaman hingga membuntuti korban demi mendapatkan informasi selanjutnya. "DH melakukan pencarian rumah korban, enggak bisa ditemukan, karena kartu nama alamat tidak lengkap. Sehingga mereka ke kantor korban, dari tengah malam mereka membuntuti dari kantor korban," ujar dia.
Oleh karena itu, antara korban dan pelaku tidak saling mengenal. MIP menjadi korban acak para pelaku penculikan dan pembunuhan. "Bahwa korban adalah acak, acaknya berawal dari K ini sebar mencari kacab yang bisa didapati, namun dapat datanya jadi data ini diberikan kepada DH," jelas dia.
4 Klaster
Klaster pertama yakni klaster otak penculikan dengan pelaku yakni C alias Ken berperan mengatur, menyiapkan rencana, dan menyiapkan tim IT untuk memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening penampungan.
Kedua, Dwi Hartono (DH), berperan mencari tim penculik, menyiapkan tim untuk membuntuti korban, merencanakan penculikan, memberi uang Rp60 juta kepada JP untuk operasionalisasi penculikan.
Ketiga, AAM, berperan merencanakan penculikan korban dan menyiapkan tim mengikuti korban. Keempat, JP, berperan mempersiapkan tim eksekutor bersama N, ikut membuang korban di Cikarang bersama N, mengoordinasikan dan mengawasi jalannya pembuntutan sampai penculikan, memberi uang Rp150 juta kepada N untuk operasional penculikan.
Kemudian, polisi juga membagi klaster penculikan dengan lima orang pelaku. Pertama, E, berperan memasukkan korban secara paksa ke mobil para penculik, melakukan penganiayaan, melilitkan lakban dan mengikat tangan korban.
Lihat Juga :