Bareskrim Polri Kejar Pelaku dan Pemodal Illegal Mining Emas di Rampi Luwu Utara
Rabu, 06 Agustus 2025 - 22:51 WIB
loading...
A
A
A
”Kerap ditemukan pemandangan yang sangat memilukan manakala ada masyarakat yang sakit. Harus ditandu dengan berjalan kaki sejauh 5 km untuk tiba di puskesmas. Lalu keluarga meratapi menerima kenyataan getir anggota keluarganya meninggal dunia saat tiba di puskesmas. Kemudian untuk pemakaman, jenazahnya ditandu dengan berjalan kaki sejauh 60 km dari Desa Badangkias, Lore Selatan, menuju Desa Tedeboe,” kata Usniati.
Rampi, sebuah wilayah kecamatan terpencil di Kabupaten Luwu Utara dengan jumlah penduduk sebanyak 3.164 jiwa merupakan suku Kaili. Kondisi fasilitas kesehatan hanya terdapat satu Puskesmas di Desa Sulaku dan tiga Puskesmas Pembantu di Pustu Leboni, Pustu Onondowa, dan Pustu Tedeboe.
Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit dan terletak pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut membuat pembangunan infrastruktur jalan menjadi sulit. Topografi sukar dengan lokasi yang terpencil menunjukkan aksesibilitasnya terbatas.
Sulitnya akses mobilitas masyarakat berpengaruh pada harga barang-barang yang yang melambung tinggi. Utamanya bahan bangunan dan kebutuhan rumah tangga. Selain pertumbuhan ekonomi yang terhimpit, masyarakat Rampi juga pasrah dengan berbeda jauh dari yang berlaku di Masamba dan daerah Sulsel lainnya.
“Harga isi ulang gas 3 kg yang memiliki harga normal di kisaran Rp20.000 di Sulsel, di Rampi bisa melejit hingga Rp150.000. Kini masyarakat Rampi yang papa itu menitipkan asa pada kehadiran investor yang berjanji akan mengalokasikan CSR guna membantu kesejahteraan penduduk di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian,” ujar Usniati.
Rampi, sebuah wilayah kecamatan terpencil di Kabupaten Luwu Utara dengan jumlah penduduk sebanyak 3.164 jiwa merupakan suku Kaili. Kondisi fasilitas kesehatan hanya terdapat satu Puskesmas di Desa Sulaku dan tiga Puskesmas Pembantu di Pustu Leboni, Pustu Onondowa, dan Pustu Tedeboe.
Kondisi geografisnya yang berbukit-bukit dan terletak pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut membuat pembangunan infrastruktur jalan menjadi sulit. Topografi sukar dengan lokasi yang terpencil menunjukkan aksesibilitasnya terbatas.
Sulitnya akses mobilitas masyarakat berpengaruh pada harga barang-barang yang yang melambung tinggi. Utamanya bahan bangunan dan kebutuhan rumah tangga. Selain pertumbuhan ekonomi yang terhimpit, masyarakat Rampi juga pasrah dengan berbeda jauh dari yang berlaku di Masamba dan daerah Sulsel lainnya.
“Harga isi ulang gas 3 kg yang memiliki harga normal di kisaran Rp20.000 di Sulsel, di Rampi bisa melejit hingga Rp150.000. Kini masyarakat Rampi yang papa itu menitipkan asa pada kehadiran investor yang berjanji akan mengalokasikan CSR guna membantu kesejahteraan penduduk di bidang pendidikan, kesehatan, dan perekonomian,” ujar Usniati.
(jon)
Lihat Juga :