Bandung Dikepung Kemacetan, Pemkot Jajaki Teknologi ATCS
Rabu, 23 Juli 2025 - 20:47 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, praktisi lalu lintas Kombes Pol Edwin Affandi mengatakan, Kota Bandung perlu revolusi sistem pengaturan lalu lintas melalui teknologi modern.
Kombes Edwin menilai, solusi inovatif berupa traffic light adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi kunci untuk mengurai benang kusut kemacetan di simpang jalan.
“Sistem fixed time tidak lagi relevan untuk kondisi lalu lintas yang dinamis. Diperlukan sistem cerdas yang bisa menyesuaikan waktu hijau berdasarkan kondisi riil di lapangan,” kata Kombes Edwin.
Menurut Kombes Edwin, terdapat tiga penyebab masalah utama kemacetan di simpang jalan Kota Bandung. Pertama, waktu hijau tidak responsif. Artinya lampu lalu lintas dengan pengaturan waktu tetap tidak menyesuaikan dengan variasi volume kendaraan yang datang, sehingga waktu hijau bisa terbuang sia-sia.
"Kedua, ada tumpang tindih arus saat lampu hijau menyala, arus dari satu arah seringkali tertahan karena kendaraan dari simpang lain sudah memenuhi area tengah persimpangan," ujar Kombes Edwin.
Masalah ketiga, tutur Kombes Edwin, jarak dan kecepatan kendaraan masih jauh saat lampu hijau menyala kerap gagal melintas. Hal itu berdampak menghambat efisiensi arus dan memperpanjang waktu tunggu berikutnya.
Kombes Edwin menuturkan, kemacetan lalu lintas memiliki beberapa dampak yang sangat merugikan masyarakat. Di antaranya, menghambat 25–40 persen waktu perjalanan, peningkatan emisi gas buang, polusi, memicu stres, kecemasan, dan gangguan pernapasan akibat paparan polusi.
"Di sisi lain kemacetan juga berdampak kepada kerugian ekonomi karena kendaraan yang terjebak macet mengonsumsi lebih banyak bahan bakar hingga 30 persen dibanding kondisi normal," tutur Kombes Edwin.
Kombes Edwin menilai, solusi inovatif berupa traffic light adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi kunci untuk mengurai benang kusut kemacetan di simpang jalan.
“Sistem fixed time tidak lagi relevan untuk kondisi lalu lintas yang dinamis. Diperlukan sistem cerdas yang bisa menyesuaikan waktu hijau berdasarkan kondisi riil di lapangan,” kata Kombes Edwin.
Menurut Kombes Edwin, terdapat tiga penyebab masalah utama kemacetan di simpang jalan Kota Bandung. Pertama, waktu hijau tidak responsif. Artinya lampu lalu lintas dengan pengaturan waktu tetap tidak menyesuaikan dengan variasi volume kendaraan yang datang, sehingga waktu hijau bisa terbuang sia-sia.
"Kedua, ada tumpang tindih arus saat lampu hijau menyala, arus dari satu arah seringkali tertahan karena kendaraan dari simpang lain sudah memenuhi area tengah persimpangan," ujar Kombes Edwin.
Masalah ketiga, tutur Kombes Edwin, jarak dan kecepatan kendaraan masih jauh saat lampu hijau menyala kerap gagal melintas. Hal itu berdampak menghambat efisiensi arus dan memperpanjang waktu tunggu berikutnya.
Kombes Edwin menuturkan, kemacetan lalu lintas memiliki beberapa dampak yang sangat merugikan masyarakat. Di antaranya, menghambat 25–40 persen waktu perjalanan, peningkatan emisi gas buang, polusi, memicu stres, kecemasan, dan gangguan pernapasan akibat paparan polusi.
"Di sisi lain kemacetan juga berdampak kepada kerugian ekonomi karena kendaraan yang terjebak macet mengonsumsi lebih banyak bahan bakar hingga 30 persen dibanding kondisi normal," tutur Kombes Edwin.
(shf)
Lihat Juga :