Bandung Dikepung Kemacetan, Pemkot Jajaki Teknologi ATCS
Rabu, 23 Juli 2025 - 20:47 WIB
loading...
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyiapkan teknologi dan tata kelola waktu berupa Area Traffic Control System (ATCS) untuk mengatasi masalah kemacetan. Foto/Agus Warsudi
A
A
A
BANDUNG - Kota Bandung salah satu kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia. Hampir di setiap kawasan, baik selatan, utara, timur, barat, maupun tengah Kota Bandung, dikepung kemacetan lalu lintas setiap hari, terutama pagi dan sore hari.
Untuk mengatasi masalah yang telah lama dikeluhkan masyarakat itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengklaim tengah menyiapkan sejumlah strategi berbasis teknologi dan tata kelola waktu untuk mengurai kemacetan.
Baca juga: Bandung Disergap Macet, Diserbu Ribuan Kendaraan dari Jakarta
Menurut Farhan, Kemacetan terjadi di beberapa titik terutama persimpangan jalan dengan mengularnya kendaraan, baik mobil maupun motor.
“Saya perhatikan di beberapa titik yang padat, seperti di kawasan Jalan Riau yang banyak sekolah, sudah mulai ada penguraian. Itu karena kami coba mengatur ulang jam masuk sekolah agar tidak menumpuk di jam yang sama,” kata Wali Kota Kota Bandung, Rabu (23/7/2025).
Farhan menyatakan, efektivitas kebijakan tersebut masih harus dibuktikan lewat data. Selain itu, Pemkot Bandung menjajaki pemanfaatan teknologi Area Traffic Control System (ATCS) yang dapat menyesuaikan durasi lampu lalu lintas berdasarkan kepadatan kendaraan secara real-time.
“Saya sudah minta Dinas Perhubungan buat kajian dan lapor ke saya. Hari Kamis nanti mereka baru akan menyampaikan laporannya,” ujar Farhan.
Baca juga: Hujan Berjam-jam, Simpang Gedebage Bandung Banjir Macet Parah Tak Terelakkan
Sistem ATCS, tutur Wali Kota, telah tersedia, namun belum sepenuhnya berfungsi secara otomatis karena keterbatasan data pendukung.
“Alatnya sudah siap untuk otomatis. Tapi data durasi lampu hijau dan merah yang disesuaikan dengan waktu dan hari itu belum punya. Kita perlu big data dari perusahaan," tutur Wali Kota.
Saat ini, kata Farhan, Pemkot Bandung sedang mencari skema kerja sama dengan pihak penyedia data untuk memanfaatkan data pergerakan Global Positioning System (GPS) sebagai acuan pengaturan lalu lintas lebih presisi.
Farhan menegaskan, solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan Kota Bandung adalah penerapan konsep smart city secara nyata.
“Saatnya Bandung jadi smart beneran. Alat-alat canggih sudah ada, tinggal dimanfaatkan dan didukung dengan data akurat,” tegas Farhan.
Wali Kota menyinggung banyak infrastruktur teknologi tersedia sejak lama, namun belum digunakan secara optimal karena keterbatasan integrasi data.
“Selama ini kan masih manual. Harusnya bisa otomatis. Apalagi sekarang semua sudah serba digital," ujarnya.
Sementara itu, praktisi lalu lintas Kombes Pol Edwin Affandi mengatakan, Kota Bandung perlu revolusi sistem pengaturan lalu lintas melalui teknologi modern.
Kombes Edwin menilai, solusi inovatif berupa traffic light adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi kunci untuk mengurai benang kusut kemacetan di simpang jalan.
“Sistem fixed time tidak lagi relevan untuk kondisi lalu lintas yang dinamis. Diperlukan sistem cerdas yang bisa menyesuaikan waktu hijau berdasarkan kondisi riil di lapangan,” kata Kombes Edwin.
Menurut Kombes Edwin, terdapat tiga penyebab masalah utama kemacetan di simpang jalan Kota Bandung. Pertama, waktu hijau tidak responsif. Artinya lampu lalu lintas dengan pengaturan waktu tetap tidak menyesuaikan dengan variasi volume kendaraan yang datang, sehingga waktu hijau bisa terbuang sia-sia.
"Kedua, ada tumpang tindih arus saat lampu hijau menyala, arus dari satu arah seringkali tertahan karena kendaraan dari simpang lain sudah memenuhi area tengah persimpangan," ujar Kombes Edwin.
Masalah ketiga, tutur Kombes Edwin, jarak dan kecepatan kendaraan masih jauh saat lampu hijau menyala kerap gagal melintas. Hal itu berdampak menghambat efisiensi arus dan memperpanjang waktu tunggu berikutnya.
Kombes Edwin menuturkan, kemacetan lalu lintas memiliki beberapa dampak yang sangat merugikan masyarakat. Di antaranya, menghambat 25–40 persen waktu perjalanan, peningkatan emisi gas buang, polusi, memicu stres, kecemasan, dan gangguan pernapasan akibat paparan polusi.
"Di sisi lain kemacetan juga berdampak kepada kerugian ekonomi karena kendaraan yang terjebak macet mengonsumsi lebih banyak bahan bakar hingga 30 persen dibanding kondisi normal," tutur Kombes Edwin.
Untuk mengatasi masalah yang telah lama dikeluhkan masyarakat itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengklaim tengah menyiapkan sejumlah strategi berbasis teknologi dan tata kelola waktu untuk mengurai kemacetan.
Baca juga: Bandung Disergap Macet, Diserbu Ribuan Kendaraan dari Jakarta
Menurut Farhan, Kemacetan terjadi di beberapa titik terutama persimpangan jalan dengan mengularnya kendaraan, baik mobil maupun motor.
“Saya perhatikan di beberapa titik yang padat, seperti di kawasan Jalan Riau yang banyak sekolah, sudah mulai ada penguraian. Itu karena kami coba mengatur ulang jam masuk sekolah agar tidak menumpuk di jam yang sama,” kata Wali Kota Kota Bandung, Rabu (23/7/2025).
Farhan menyatakan, efektivitas kebijakan tersebut masih harus dibuktikan lewat data. Selain itu, Pemkot Bandung menjajaki pemanfaatan teknologi Area Traffic Control System (ATCS) yang dapat menyesuaikan durasi lampu lalu lintas berdasarkan kepadatan kendaraan secara real-time.
“Saya sudah minta Dinas Perhubungan buat kajian dan lapor ke saya. Hari Kamis nanti mereka baru akan menyampaikan laporannya,” ujar Farhan.
Baca juga: Hujan Berjam-jam, Simpang Gedebage Bandung Banjir Macet Parah Tak Terelakkan
Sistem ATCS, tutur Wali Kota, telah tersedia, namun belum sepenuhnya berfungsi secara otomatis karena keterbatasan data pendukung.
“Alatnya sudah siap untuk otomatis. Tapi data durasi lampu hijau dan merah yang disesuaikan dengan waktu dan hari itu belum punya. Kita perlu big data dari perusahaan," tutur Wali Kota.
Saat ini, kata Farhan, Pemkot Bandung sedang mencari skema kerja sama dengan pihak penyedia data untuk memanfaatkan data pergerakan Global Positioning System (GPS) sebagai acuan pengaturan lalu lintas lebih presisi.
Farhan menegaskan, solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan Kota Bandung adalah penerapan konsep smart city secara nyata.
“Saatnya Bandung jadi smart beneran. Alat-alat canggih sudah ada, tinggal dimanfaatkan dan didukung dengan data akurat,” tegas Farhan.
Wali Kota menyinggung banyak infrastruktur teknologi tersedia sejak lama, namun belum digunakan secara optimal karena keterbatasan integrasi data.
“Selama ini kan masih manual. Harusnya bisa otomatis. Apalagi sekarang semua sudah serba digital," ujarnya.
Sementara itu, praktisi lalu lintas Kombes Pol Edwin Affandi mengatakan, Kota Bandung perlu revolusi sistem pengaturan lalu lintas melalui teknologi modern.
Kombes Edwin menilai, solusi inovatif berupa traffic light adaptif berbasis kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi kunci untuk mengurai benang kusut kemacetan di simpang jalan.
“Sistem fixed time tidak lagi relevan untuk kondisi lalu lintas yang dinamis. Diperlukan sistem cerdas yang bisa menyesuaikan waktu hijau berdasarkan kondisi riil di lapangan,” kata Kombes Edwin.
Menurut Kombes Edwin, terdapat tiga penyebab masalah utama kemacetan di simpang jalan Kota Bandung. Pertama, waktu hijau tidak responsif. Artinya lampu lalu lintas dengan pengaturan waktu tetap tidak menyesuaikan dengan variasi volume kendaraan yang datang, sehingga waktu hijau bisa terbuang sia-sia.
"Kedua, ada tumpang tindih arus saat lampu hijau menyala, arus dari satu arah seringkali tertahan karena kendaraan dari simpang lain sudah memenuhi area tengah persimpangan," ujar Kombes Edwin.
Masalah ketiga, tutur Kombes Edwin, jarak dan kecepatan kendaraan masih jauh saat lampu hijau menyala kerap gagal melintas. Hal itu berdampak menghambat efisiensi arus dan memperpanjang waktu tunggu berikutnya.
Kombes Edwin menuturkan, kemacetan lalu lintas memiliki beberapa dampak yang sangat merugikan masyarakat. Di antaranya, menghambat 25–40 persen waktu perjalanan, peningkatan emisi gas buang, polusi, memicu stres, kecemasan, dan gangguan pernapasan akibat paparan polusi.
"Di sisi lain kemacetan juga berdampak kepada kerugian ekonomi karena kendaraan yang terjebak macet mengonsumsi lebih banyak bahan bakar hingga 30 persen dibanding kondisi normal," tutur Kombes Edwin.
(shf)
Lihat Juga :