Di Balik Misteri Kematian Tak Wajar Arya Daru Pangayunan, Ancaman Diplomat Ternyata Ada!
Jum'at, 18 Juli 2025 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya di Manila banyaknya anak muda Indonesia yang terjebak di sindikat judi online karena diiming-imingi melalui online.
"Mereka (janjinya) akan dipekerjakan di sektor-sektor formal. Call center. Iya. Supermarket atau ternyata kerja di judi online. Judi online. Nah. Judi online itu sebetulnya di Filipina itu legal. Nah, tetapi dalam judi online itu disisipi online scamming. Jadi penipuan online ee merayu orang lain untuk berinvestasi," paparnya.
"Dan pada tingkat tertentu jangankan untung modalnya itu hilang. Nah, itu yang nah akhirnya pemerintah Filipina juga gerah. Karena itu menyangkut nama baik, martabat, dan banyak keluhan," ujarnya.
Upaya yang dilakukan KBRI adalah melakukan diplomasi. "Kita bekerja sama dengan perwakilan negara ASEAN lainnya, terutama negara-negara ASEAN yang keterlibatan warganya dalam online scammer itu banyak. Ya, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam yang paling besar," ujarnya.
"Kita menghadap Menteri Dalam Negeri eh Menteri Dalam Negeri. Heeh. Yang kepala polisian Filipina kan kalau di sana di bawah Menteri Dalam bahwa ini nih banyak tiba-tiba orang Indonesia datang 20 orang ke KBRI enggak bawa pakaian. Hanya pakaian yang ini. Bahkan ada yang luka lari. Karena dia direkrut ya ketika di situ ternyata ditraining untuk menjadi online scammer," paparnya.
Para WNI yang jadi korban ini mendatangi KBRI di Manila. Sampai 2023-2024 memulangkan 1.000 WNI lebih KBRI dari Manila.
"Mereka (janjinya) akan dipekerjakan di sektor-sektor formal. Call center. Iya. Supermarket atau ternyata kerja di judi online. Judi online. Nah. Judi online itu sebetulnya di Filipina itu legal. Nah, tetapi dalam judi online itu disisipi online scamming. Jadi penipuan online ee merayu orang lain untuk berinvestasi," paparnya.
"Dan pada tingkat tertentu jangankan untung modalnya itu hilang. Nah, itu yang nah akhirnya pemerintah Filipina juga gerah. Karena itu menyangkut nama baik, martabat, dan banyak keluhan," ujarnya.
Upaya yang dilakukan KBRI adalah melakukan diplomasi. "Kita bekerja sama dengan perwakilan negara ASEAN lainnya, terutama negara-negara ASEAN yang keterlibatan warganya dalam online scammer itu banyak. Ya, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Vietnam yang paling besar," ujarnya.
"Kita menghadap Menteri Dalam Negeri eh Menteri Dalam Negeri. Heeh. Yang kepala polisian Filipina kan kalau di sana di bawah Menteri Dalam bahwa ini nih banyak tiba-tiba orang Indonesia datang 20 orang ke KBRI enggak bawa pakaian. Hanya pakaian yang ini. Bahkan ada yang luka lari. Karena dia direkrut ya ketika di situ ternyata ditraining untuk menjadi online scammer," paparnya.
Para WNI yang jadi korban ini mendatangi KBRI di Manila. Sampai 2023-2024 memulangkan 1.000 WNI lebih KBRI dari Manila.
(shf)
Lihat Juga :