Pasar Baru Bandung, Rahim Saudagar Sukses dan Kiblat Busana Muslim
Rabu, 09 September 2020 - 07:03 WIB
loading...
A
A
A
Kini Pasar Baru Trade Center Bandung dikenal luas, tak hanya di dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Tak sedikit wisatawan asal Malaysia dan Singapura sengaja mampir ke Pasar Baru Trade Center untuk membeli produk tekstil dan busana. Konsep Pasar Baru Trade Center ini mirip Pasar Grosir Tanah Abang di Jakarta.
Meski bangunan pasar telah modern, di sekitar Pasar Baru masih terdapat sisa bangunan lama, saksi bisu perkembangan pasar tersebut. Sebagian besar bangunan berada dalam kondisi kurang terawat walaupun masih dipakai oleh pemiliknya sebagai rumah tinggal atau toko.
Di beberapa lokasi masih ditemukan tanda tahun pendirian rumah, plakat nama pemilik rumah, ataupun bentuk bangunan yang menyiratkan masa lalu. Beberapa bangunan itu memiliki gaya arsitektur campuran antara kolonial Belanda, China, dan Islam, terutama di bagian atapnya.
"Dari segi nama, ini (Pasar Baru) adalah pasar yang dibangun untuk menggantikan pasar sebelumnya. Jadi, sebelumnya ada pasar tradisional yang berpusat di sekitar Alun-alun Bandung, namanya Pasar Ciguriang. Tapi terbakar habis dan dikenal sebagai peristiwa huru-hara Munada pada 1842," kata pegiat Komunitas Aleut Ariyono Wahyu Widjajadi.
Menurut lelaki yang akrab disapa Alex ini, Pasar Baru Bandung telah dikenal banyak saudagar dan masyarakat dari berbagai etnis, seperti Sunda, Jawa, Sumatera, China, Arab, India. Mereka campur baur mengadu nasib di pasar ini. Umumnya, masyarakat Kota Bandung kala itu, menyebut para saudagar di Pasar Baru dengan sebutan “orang pasar”. (Baca juga: 9 Cara Mengobati Dosa Dusta dan Ghibah)
Bahkan, ujar dia, dari berbagai literatur silsilah keluarga yang berdagang di Pasar Baru, terdapat keturunan dari istri keempat Pangeran Diponegoro yang ikut berdagang di pasar itu. "Saat kalah Perang Jawa pada 1930, keluarga salah satu Senopati Pangeran Diponegoro melarikan diri dari Demak. Kemudian mereka datang ke Cirebon, ganti identitas, lalu masuk ke Bandung, jualan di Pasar Baru," ujar Alex.
Cerita pesohor lain yang lahir dari Pasar Baru Bandung adalah Arifin Panigoro. Dia adalah keturunan keluarga yang juga berdagang di Pasar Baru. Hingga saat ini, keluarga Arifin Panigoro membentuk Bank Himpunan Saudara (Bank HS).
Popularitas dan kuatnya magnet ekonomi Pasar Baru, juga masih terabadikan hingga kini. Seperti beberapa nama pedagang yang diabadikan menjadi nama jalan di sekitar Pasar Baru Bandung, seperti Jalan H Fahrurozi dan Jalan Abdul Latif.
Kini, Pasar Baru masih menjadi tujuan perdagangan banyak warga. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Baru cukup ramai dikunjungi konsumen dari dalam dan luar negeri. (Lihat videonya: Kesultanan Buton yang Tidak Pernah Dijajah Negara Eropa)
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Bandung Iwan Suhermawan mengatakan, tingkat kunjungan ke Pasar Baru sebelum pandemi bisa mencapai 10.000 hingga 15.000 orang saat akhir pekan. Apalagi pada hari libur atau Idul Fitri, bisa mencapai 30.000 orang per hari. "Karena pasar ini bukan pasar sekunder lagi, tapi sudah menjadi destinasi wisata. Banyak konsumen datang dari Timur Tengah, Afrika, selain Malaysia dan Singapura," kata Iwan.
Diakui atau tidak, tutur Iwan, produk busana di Pasar Baru Trade Center Bandung telah menjadi kiblat pakaian muslim dunia. Kualitas dan harga yang bervariatif dan relatif terjangkau, juga menjadi alasan Pasar Baru Trade Center banyak didatangi pelancong dari luar daerah. "Harga produk ada dari kelas bawah hingga tinggi ada semua. Kualitas juga bagus. Termasuk produk fashion seperti busana muslim, selalu update. Bahkan, Pasar Baru sudah jadi kiblat busana muslim dunia," tutur dia. (Agus Warsudi/Arif Budianto)
Meski bangunan pasar telah modern, di sekitar Pasar Baru masih terdapat sisa bangunan lama, saksi bisu perkembangan pasar tersebut. Sebagian besar bangunan berada dalam kondisi kurang terawat walaupun masih dipakai oleh pemiliknya sebagai rumah tinggal atau toko.
Di beberapa lokasi masih ditemukan tanda tahun pendirian rumah, plakat nama pemilik rumah, ataupun bentuk bangunan yang menyiratkan masa lalu. Beberapa bangunan itu memiliki gaya arsitektur campuran antara kolonial Belanda, China, dan Islam, terutama di bagian atapnya.
"Dari segi nama, ini (Pasar Baru) adalah pasar yang dibangun untuk menggantikan pasar sebelumnya. Jadi, sebelumnya ada pasar tradisional yang berpusat di sekitar Alun-alun Bandung, namanya Pasar Ciguriang. Tapi terbakar habis dan dikenal sebagai peristiwa huru-hara Munada pada 1842," kata pegiat Komunitas Aleut Ariyono Wahyu Widjajadi.
Menurut lelaki yang akrab disapa Alex ini, Pasar Baru Bandung telah dikenal banyak saudagar dan masyarakat dari berbagai etnis, seperti Sunda, Jawa, Sumatera, China, Arab, India. Mereka campur baur mengadu nasib di pasar ini. Umumnya, masyarakat Kota Bandung kala itu, menyebut para saudagar di Pasar Baru dengan sebutan “orang pasar”. (Baca juga: 9 Cara Mengobati Dosa Dusta dan Ghibah)
Bahkan, ujar dia, dari berbagai literatur silsilah keluarga yang berdagang di Pasar Baru, terdapat keturunan dari istri keempat Pangeran Diponegoro yang ikut berdagang di pasar itu. "Saat kalah Perang Jawa pada 1930, keluarga salah satu Senopati Pangeran Diponegoro melarikan diri dari Demak. Kemudian mereka datang ke Cirebon, ganti identitas, lalu masuk ke Bandung, jualan di Pasar Baru," ujar Alex.
Cerita pesohor lain yang lahir dari Pasar Baru Bandung adalah Arifin Panigoro. Dia adalah keturunan keluarga yang juga berdagang di Pasar Baru. Hingga saat ini, keluarga Arifin Panigoro membentuk Bank Himpunan Saudara (Bank HS).
Popularitas dan kuatnya magnet ekonomi Pasar Baru, juga masih terabadikan hingga kini. Seperti beberapa nama pedagang yang diabadikan menjadi nama jalan di sekitar Pasar Baru Bandung, seperti Jalan H Fahrurozi dan Jalan Abdul Latif.
Kini, Pasar Baru masih menjadi tujuan perdagangan banyak warga. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Baru cukup ramai dikunjungi konsumen dari dalam dan luar negeri. (Lihat videonya: Kesultanan Buton yang Tidak Pernah Dijajah Negara Eropa)
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Bandung Iwan Suhermawan mengatakan, tingkat kunjungan ke Pasar Baru sebelum pandemi bisa mencapai 10.000 hingga 15.000 orang saat akhir pekan. Apalagi pada hari libur atau Idul Fitri, bisa mencapai 30.000 orang per hari. "Karena pasar ini bukan pasar sekunder lagi, tapi sudah menjadi destinasi wisata. Banyak konsumen datang dari Timur Tengah, Afrika, selain Malaysia dan Singapura," kata Iwan.
Diakui atau tidak, tutur Iwan, produk busana di Pasar Baru Trade Center Bandung telah menjadi kiblat pakaian muslim dunia. Kualitas dan harga yang bervariatif dan relatif terjangkau, juga menjadi alasan Pasar Baru Trade Center banyak didatangi pelancong dari luar daerah. "Harga produk ada dari kelas bawah hingga tinggi ada semua. Kualitas juga bagus. Termasuk produk fashion seperti busana muslim, selalu update. Bahkan, Pasar Baru sudah jadi kiblat busana muslim dunia," tutur dia. (Agus Warsudi/Arif Budianto)
(ysw)
Lihat Juga :