Dari Satu Ember Sampah, Ema Suranta Bikin Perubahan Lingkungan
Kamis, 29 Mei 2025 - 13:15 WIB
loading...
A
A
A
Namun, Ema menyadari bahwa jenis sampah terbanyak berasal dari limbah organik rumah tangga. Ia kemudian menggandeng Bening Saguling Foundation, yang mengenalkannya pada budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly, makhluk pengurai sampah organik yang memiliki nilai jual tinggi sebagai pakan ternak dan ikan.
Berbekal pembiayaan awal Rp3 juta dari program Mekaar milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Ema mulai mengolah sampah organik secara mandiri. Dukungan dari PNM terus berlanjut, termasuk pembangunan dua kandang maggot senilai hingga Rp100 juta. Kini, Bank Sampah Bukit Berlian memiliki 120 anggota aktif dan mampu mengolah 15 ton sampah organik per bulan dengan hasil panen maggot mencapai 2 ton setiap 24 hari.
Inovasi Ema tidak berhenti di situ. Ketika pembeli maggot utama berhenti membeli, Ema bersama komunitasnya membangun kolam ikan lele sendiri. Dukungan dari Kepala Desa pun datang dalam bentuk bantuan 5.000 ekor bibit lele. Saat panen, warga sekitar diundang untuk merasakan hasil kerja kolektif komunitas tersebut.
"Jadi sekarang kami serap sendiri produk maggot untuk ternak lele," kata Ema kepada wartawan.
Berbagai produk telah dihasilkan dari unit pengolahan ini, mulai dari fresh maggot, dry maggot, tepung maggot, hingga pelet ikan hias. Ema dan komunitasnya membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari nilai tambah ekonomi dan sosial.
Berbekal pembiayaan awal Rp3 juta dari program Mekaar milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Ema mulai mengolah sampah organik secara mandiri. Dukungan dari PNM terus berlanjut, termasuk pembangunan dua kandang maggot senilai hingga Rp100 juta. Kini, Bank Sampah Bukit Berlian memiliki 120 anggota aktif dan mampu mengolah 15 ton sampah organik per bulan dengan hasil panen maggot mencapai 2 ton setiap 24 hari.
Inovasi Ema tidak berhenti di situ. Ketika pembeli maggot utama berhenti membeli, Ema bersama komunitasnya membangun kolam ikan lele sendiri. Dukungan dari Kepala Desa pun datang dalam bentuk bantuan 5.000 ekor bibit lele. Saat panen, warga sekitar diundang untuk merasakan hasil kerja kolektif komunitas tersebut.
"Jadi sekarang kami serap sendiri produk maggot untuk ternak lele," kata Ema kepada wartawan.
Berbagai produk telah dihasilkan dari unit pengolahan ini, mulai dari fresh maggot, dry maggot, tepung maggot, hingga pelet ikan hias. Ema dan komunitasnya membuktikan bahwa limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari nilai tambah ekonomi dan sosial.
Lihat Juga :