Kisah Jane Foster, Intelijen Amerika yang Memata-matai Soekarno-Hatta Setelah Kemerdekaan Indonesia
Kamis, 27 Maret 2025 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Pilu Bapak Intelijen Indonesia hingga Memendam Dendam ke Penguasa di Akhir Hayat
Awalnya, ia ditempatkan di Salzburg, Austria, sebelum dipindahkan ke pedalaman Sri Lanka. Penugasan ini membuka jalannya untuk terlibat dalam operasi rahasia di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Sumatera, Hindia Belanda, dan Malaysia.
Pada Agustus 1945, Foster mendapat undangan dari Kolonel John Coughlin, komandan detasemen OSS di Sri Lanka, untuk menghadiri pertemuan di sebuah bungalow. Dalam pertemuan itu, ia ditawari peran sebagai sukarelawan untuk melaporkan perkembangan transisi pasca-perang di Jawa. Kesempatan ini menandai awal misinya dalam memata-matai Indonesia yang baru merdeka.
Bagi Foster, Indonesia bukanlah tempat yang asing. Ia sudah memiliki pengalaman tinggal di Jawa dan memahami kultur setempat. Hal ini membuatnya lebih mudah mendapatkan informasi dan beradaptasi dengan lingkungan politik Indonesia yang tengah bergejolak.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pemimpin Indonesia, di antaranya Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, Iwa Kusumasumantri, serta Tan Malaka yang kala itu menyamar sebagai Kasman Singodimedjo. Dari hasil wawancara ini, Foster dan timnya mendapatkan gambaran lebih jelas tentang situasi politik di Indonesia.
Setelah pertemuan itu, Foster segera kembali ke markasnya untuk menyusun laporan. Dalam laporannya, ia menyatakan bahwa Indonesia tidak terlibat dalam konspirasi dengan Rusia maupun Jepang. Ia juga mencatat bahwa para pemimpin Indonesia lebih mengutamakan diplomasi dan perdamaian daripada melakukan revolusi bersenjata.
Awalnya, ia ditempatkan di Salzburg, Austria, sebelum dipindahkan ke pedalaman Sri Lanka. Penugasan ini membuka jalannya untuk terlibat dalam operasi rahasia di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Sumatera, Hindia Belanda, dan Malaysia.
Tugas Jane Foster di Indonesia
Pada Agustus 1945, Foster mendapat undangan dari Kolonel John Coughlin, komandan detasemen OSS di Sri Lanka, untuk menghadiri pertemuan di sebuah bungalow. Dalam pertemuan itu, ia ditawari peran sebagai sukarelawan untuk melaporkan perkembangan transisi pasca-perang di Jawa. Kesempatan ini menandai awal misinya dalam memata-matai Indonesia yang baru merdeka.
Bagi Foster, Indonesia bukanlah tempat yang asing. Ia sudah memiliki pengalaman tinggal di Jawa dan memahami kultur setempat. Hal ini membuatnya lebih mudah mendapatkan informasi dan beradaptasi dengan lingkungan politik Indonesia yang tengah bergejolak.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah pemimpin Indonesia, di antaranya Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, Iwa Kusumasumantri, serta Tan Malaka yang kala itu menyamar sebagai Kasman Singodimedjo. Dari hasil wawancara ini, Foster dan timnya mendapatkan gambaran lebih jelas tentang situasi politik di Indonesia.
Setelah pertemuan itu, Foster segera kembali ke markasnya untuk menyusun laporan. Dalam laporannya, ia menyatakan bahwa Indonesia tidak terlibat dalam konspirasi dengan Rusia maupun Jepang. Ia juga mencatat bahwa para pemimpin Indonesia lebih mengutamakan diplomasi dan perdamaian daripada melakukan revolusi bersenjata.
Lihat Juga :