Kisah Panasnya Perang Intelijen Indonesia vs Uni Soviet di Masa Lampau
Minggu, 09 Februari 2025 - 14:37 WIB
loading...
A
A
A
Unit tersebut biasa menjuluki agen KGB dan GRU yang diawasi dengan sebutan “Gatot”. Hal ini termasuk agen Boris Liapine yang berada dalam pantauan.
Selain Boris, ada agen Soviet lain yang dipantau Satsus Intel, yakni Vladislav Romanov dan Oleg Brykin. Brykin dianggap berbahaya karena jago membangun jaringan dan dapat merekrut anggota baru.
Pada aksinya, Satsus Intel rezim Soeharto senantiasa melakukan kontraintelijen untuk melawan agen rahasia Soviet. Pada pertengahan 1972, Satsus Intel berhasil mengkooptasi Nikolai Grigoryevich Petrov, seorang Kapten GRU berusia 33 tahun.
Petrov adalah agen Soviet yang awalnya menyamar sebagai juru bahasa dalam Proyek 055. Dia kemudian bekerja di kedutaan Soviet, datang ke Jakarta bersama kontingen GRU yang berjumlah sepuluh orang.
Melalui bocoran informasi Petrov, Satsus Intel mengetahui banyak hal terkait penyusupan mata-mata Soviet di tubuh militer Indonesia.
Dari situ, Satsus Intel tahu bahwa GRU telah berhasil merekrut seorang letnan angkatan udara produktif yang bertugas di bagian teknik.
Selain itu, diketahui juga adanya perekrut ulung di tubuh militer Indonesia itu bernama Vladimir Abromov. Dari Abromov terungkap juga sejumlah sandi yang menjadi kebiasaan mata-mata Soviet.
Pada pertengahan Juni 1972, kerja senyap Petrov untuk Satsus Intel terbongkar agen Soviet. Terungkapnya penyamaran sebagai agen ganda itu terjadi akibat kecerobohannya sendiri.
Untung saja, Petrov yang diburu agen Soviet masih berhasil diselamatkan ke Filipina, lalu dipindahkan ke Washington DC. CIA di Amerika kemudian memberi suaka Petrov di Virginia.
"Dengan nama sandi Houdini, ia (Petrov) terbukti menjadi salah satu agen pembelot GRU yang paling produktif pada waktu itu," ungkap Ken Conboy.
Lihat Juga :