Sosok Perempuan Hebat di Balik Karakter Pangeran Diponegoro yang Religius
Rabu, 11 Desember 2024 - 07:44 WIB
loading...
A
A
A
Diponegoro kecil hingga muda dihabiskan dalam pendidikan ibu dan nenek buyutnya Ratu Ageng atau disebut Ratu Ageng Tegalrejo yang merupakan anak perempuan Kiai Ageng Derpoyudo, guru agama terkenal yang dimakamkan di Majangjati dekat Sragen.
Ketika Diponegoro masih bayi, Ratu Ageng inilah yang menjadi pelindung setelah pendiri Keraton Yogya meramalkan suatu masa depan yang luar biasa untuk Diponegoro. Saat itu, Sultan Mangkubumi mengenali adanya kedalaman spiritual tertentu dalam diri Diponegoro yang membedakannya dari anggota keluarga lainnya.
Inilah yang membuat Diponegoro belajar agama Islam begitu serius sejak kecil. Ada kaitannya masa muda Ibu Diponegoro, yang baru berumur belasan tahun saat melahirkan mempengaruhi keputusan raja lanjut usia itu.
Bagi perempuan Jawa menjadi pengantin remaja dan ibu saat masih remaja merupakan hal biasa, termasuk di dalam lingkungan keraton.
Hingga berusia 18 tahun Diponegoro berada dalam pengasuhan para perempuan yang kuat. Hal itu yang menyumbang pengembangan aspek feminim wataknya seperti kepekaan dan intuisi nuraninya.
Ini kelak menjadi nyata dalam bakatnya membaca watak melalui ekspresi wajah yang disebut orang Jawa sebagai ngelmu firasat atau ilmu fisiognomi.
Ketika Diponegoro masih bayi, Ratu Ageng inilah yang menjadi pelindung setelah pendiri Keraton Yogya meramalkan suatu masa depan yang luar biasa untuk Diponegoro. Saat itu, Sultan Mangkubumi mengenali adanya kedalaman spiritual tertentu dalam diri Diponegoro yang membedakannya dari anggota keluarga lainnya.
Inilah yang membuat Diponegoro belajar agama Islam begitu serius sejak kecil. Ada kaitannya masa muda Ibu Diponegoro, yang baru berumur belasan tahun saat melahirkan mempengaruhi keputusan raja lanjut usia itu.
Bagi perempuan Jawa menjadi pengantin remaja dan ibu saat masih remaja merupakan hal biasa, termasuk di dalam lingkungan keraton.
Hingga berusia 18 tahun Diponegoro berada dalam pengasuhan para perempuan yang kuat. Hal itu yang menyumbang pengembangan aspek feminim wataknya seperti kepekaan dan intuisi nuraninya.
Ini kelak menjadi nyata dalam bakatnya membaca watak melalui ekspresi wajah yang disebut orang Jawa sebagai ngelmu firasat atau ilmu fisiognomi.
Lihat Juga :