Kisah Pangeran Diponegoro Marah Besar ke Sultan Muda Keraton Yogyakarta Akibat Hilangnya Tradisi Jawa
Senin, 18 November 2024 - 05:50 WIB
loading...
A
A
A
Serial cerita lakon Panji (wayang gedog), Menak (wayang jemblung), dan Damar Wulan (wayang krucil), dipentaskan.
Tak ketinggalan tari topeng, Cina (jenggi) dan gambyong, turut dibawakan di akhir pertunjukan wayang, acara kemudian ditutup dengan pertunjukan kembang api Cina.
Mengenai sang mempelai perempuan raja muda itu yang bergelar Ratu Kencono, konon dikisahkan sebagai, perempuan yang cantik dan begitu menarik dipandang.
Tapi kemudian ia menderita sakit jiwa, psikologinya terguncang berat. Hal ini terbukti waktu dia menikam salah satu selir sampai terluka. Salah satu istri selir tersebut yang telah diinstruksikan oleh Ratu Ibu untuk tidur dengannya, ketika ia masih berusia 13 tahun.
Tindakan ini yang menyebabkan reaksi keras dari Pangeran Diponegoro, yang membuatnya menulis surat peringatan keras kepada Ratu Ibu.
Sebab itu pula, mengapa Kesultanan Yogya mengalami kemunduran moral yang sangat parah. Kemudian disimpulkan oleh Van Hogendorp, yang merujuk pada kebijakan pemerintahan baru Belanda, yang mengubah keraton menjadi sebuah rumah bordil.
Maka dapatlah, dimengerti mengapa Pangeran Diponegoro sampai pada keyakinan yang begitu kuat, bahwa Keraton Yogya harus dihancurkan, sampai batu terakhirnya.
Hal ini karena para penguasa Jawa yang dianggapnya ingkar terhadap agama, harus dilucuti kekuasan politiknya. Ini demi suatu tatanan moral baru yang berdasarkan hukum Islam dan nilai-nilai tradisional Jawa.
Tak ketinggalan tari topeng, Cina (jenggi) dan gambyong, turut dibawakan di akhir pertunjukan wayang, acara kemudian ditutup dengan pertunjukan kembang api Cina.
Mengenai sang mempelai perempuan raja muda itu yang bergelar Ratu Kencono, konon dikisahkan sebagai, perempuan yang cantik dan begitu menarik dipandang.
Tapi kemudian ia menderita sakit jiwa, psikologinya terguncang berat. Hal ini terbukti waktu dia menikam salah satu selir sampai terluka. Salah satu istri selir tersebut yang telah diinstruksikan oleh Ratu Ibu untuk tidur dengannya, ketika ia masih berusia 13 tahun.
Tindakan ini yang menyebabkan reaksi keras dari Pangeran Diponegoro, yang membuatnya menulis surat peringatan keras kepada Ratu Ibu.
Sebab itu pula, mengapa Kesultanan Yogya mengalami kemunduran moral yang sangat parah. Kemudian disimpulkan oleh Van Hogendorp, yang merujuk pada kebijakan pemerintahan baru Belanda, yang mengubah keraton menjadi sebuah rumah bordil.
Maka dapatlah, dimengerti mengapa Pangeran Diponegoro sampai pada keyakinan yang begitu kuat, bahwa Keraton Yogya harus dihancurkan, sampai batu terakhirnya.
Hal ini karena para penguasa Jawa yang dianggapnya ingkar terhadap agama, harus dilucuti kekuasan politiknya. Ini demi suatu tatanan moral baru yang berdasarkan hukum Islam dan nilai-nilai tradisional Jawa.
(shf)
Lihat Juga :