alexametrics

Persepakbolaan Indonesia Perlu Dikelola dengan Konsep Wisata

loading...
Persepakbolaan Indonesia Perlu Dikelola dengan Konsep Wisata
Calon anggota Exco PSSI periode 2019-2024 Agus Ambo Djiwa mengatakan, untuk memajukan persepakbolaan Indonesia, perlu dikelola dengan manajemen yang terarah dan terukur di antaranya sistem pengelolaan dengan konsep wisata. Foto/Dok. SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Memajukan persepakbolaan Indonesia, perlu dikelola dengan manajemen yang terarah dan terukur di antaranya sistem pengelolaan dengan konsep wisata. Untuk mengubah paradigma persepakbolaan Indonesia membutuhkan konsep yang memadai. Apalagi sepak bola adalah pemersatu bangsa, tidak melahirkan egoesmi kedaerahan.

"Sepak bola tidak hanya sekadar menang kalah, lebih pada tontonan yang menyejukkan penonton. Bola di kelola dengan konsep wisata, orang datang betul-betul menikmati nuansa baru persepakbolaan. Perlu melahirkan menajemen seporter yang profesional dengan pendekatan komprehensif," ungkap calon anggota Exco PSSI periode 2019-2024 Agus Ambo Djiwa.

Menurut Agus sepak bola Indonesia harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna membangun sepak bola sehat dan disiplin dari semua pihak mulai pelatih hingga suporter. Bukan hanya itu, peran PSSI harus lebih ditingkatkan, bagaimana main dimana pun stadion bisa penuh. Serta mencari bibit pemain bukan hanya di kota-kota besar tetapi juga seluruh pelosok Indonesia.



"Pembinaan persepakbolaan Indonesia sangat diperlukan. Karena itu penting perbaikan organisasi internal dengan efisiensi dan produktivitas dalam bidang keuangan untuk membangun sepak bola usia muda dan membangun sumber daya manusia. Juga untuk meningkatkan sport science dan sport medicine. Menyelenggarakan kompetisi berjenjang serta timnas yang berjenjang," jelasnya.

Selain itu membangun sepak bola itu sama juga membangun rakyat dari daerah, hingga pusat. Mengembangkan sepak bola juga lebih luas lagi, tidak hanya di Pulau Jawa tapi seluruh wilayah Republik Indonesia. "Membangun organisasi PSSI yang modern sangat diperlukan, menjalankan prinsip organisasi dengan sistem recruit, retain dan remove," ucapnya.

Selain hal tersebut, Agus juga memiliki keinginan bersama ketua terpilih jika dirinya terpilih menjadi anggota Exco PSSI, ingin membangun kompetisi yang terstruktur dengan baik. Seperti kompetisi menyeluruh di semua lini, pembinaan SDM serta menggerakkan pemerintah daerah untuk membangun infrastruktur bola.

"Membangun sepak bola Indonesia yang jauh lebih baik, modern dan berprestasi dengan membawa PSSI. Tidak lagi membawa pengurus yang gagal untuk duduk di PSSI," papar Ketua Asprov PSSI Sulbar ini.

Agus menegaskan dalam membangun sepak bola harus pula mengadopsi semua program pembinaan sepak bola yang sudah tersusun baik dari kepengurusan sebelumnya yang sifatnya meningkatkan kualitas persepakbolaan Indonesia.

"Membangun potensi sepak bola nasional tanpa rekayasa dengan menerapkan good governance terkait manajemen PSSI, dengan sistem yang transparan, melindungi pelaku sepak bola, dan sinergi dengan stakeholder. Selain juga melakukan pembinaan usia dini sebagai harga mati meningkatkan prestasi sepak bola nasional," tegas Agus.

Untuk itu lanjut Agus, PSSI harus Profesional dan Bermartabat untuk membangun sepak bola Indonesia yang jujur. PSSI juga harus membawa Indonesia tampil di Olimpiade 2024. Salah satu caranya adalah dengan fokus pada pembinaan sepak bola di usia dini dan memperbanyak kompetisi di berbagai level.

"Untuk pengembangan sepak bola Indonesia, perlu dibagi ke dalam tiga wilayah: timur, tengah dan barat agar bisa memaksimalkan pembinaan untuk penguatan tim nasional. Memperbaiki sistem data base pemain dari seluruh Indonesia," jelasnya.

Sepak bola di Indonesia juga harus bersinergi dengan semua elemen, terutama pemerintah. Memaksimalkan pembinaan usia dini dan meningkatkan sport science. Untuk membenahi PSSI harus kerja keras, kerja tulus dan meraih prestasi.

"Ke depan Ketua PSSI harus memiliki kepemimpinan yang berdedikasi, kemauan dan kewibawaan. Sepak bola Indonesia harus menjadi olahraga yang berkualitas. Tanpa itu maka tidak ada Tim Nasional yang juga berkualitas," papar Agus Ambo Djiwa.
(alf,alf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak