Kisah Karamah Sunan Gunung Jati, Cahaya Ilahi yang Taklukkan Pasukan Prabu Siliwangi
Rabu, 28 Agustus 2024 - 09:23 WIB
loading...
A
A
A
Namun, setibanya di Gunung Jati, sesuatu yang tak terduga terjadi. Cahaya yang mereka hadapi bukanlah cahaya biasa. Saat mendekat, para prajurit Pajajaran yang perkasa itu tiba-tiba merasa tubuh mereka melemah. Kaki mereka gemetar dan tubuh mereka tak bisa berdiri. Mereka semua terjatuh, tak berdaya, dan lumpuh seketika, termasuk Patih Tambisara sendiri. Malam itu terasa sangat panjang bagi mereka, dengan tubuh yang tak bisa digerakkan hingga fajar menyingsing.
Keesokan paginya, Sunan Gunung Jati datang menghampiri mereka. Dengan penuh wibawa, ia menjelaskan bahwa mereka bisa pulih seperti sedia kala hanya jika mereka bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat, sebuah janji suci dalam Islam.
Patih Tambisara, yang selama ini setia kepada Prabu Siliwangi, merasa bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya dan pasukannya. Tanpa ragu, ia dan seratus prajuritnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam sekejap, kekuatan mereka kembali, tubuh yang lumpuh menjadi pulih. Mereka telah menemukan jalan baru dalam hidup, dan mereka memilih untuk tetap tinggal bersama Sunan Gunung Jati, menjadi pengikut setia dan meninggalkan Pajajaran.
Hanya Patih Tambisara yang kembali ke kerajaan, membawa sebuah surat dari Sunan Gunung Jati untuk Prabu Siliwangi, kakeknya. Surat itu berisi ajakan untuk mengikuti ajaran Islam. Prabu Siliwangi, meski terkejut, mulai mempertimbangkan ajakan tersebut. Namun, sebelum ia bisa mengambil keputusan, Sanghyang Parwatali, seorang dewa yang dihormati, turun dari langit dan membisikkan penolakan terhadap ajaran Islam. Prabu Siliwangi pun menahan niatnya untuk bergabung dengan ajaran baru ini, tetap setia pada kepercayaannya yang lama.
Keesokan paginya, Sunan Gunung Jati datang menghampiri mereka. Dengan penuh wibawa, ia menjelaskan bahwa mereka bisa pulih seperti sedia kala hanya jika mereka bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat, sebuah janji suci dalam Islam.
Patih Tambisara, yang selama ini setia kepada Prabu Siliwangi, merasa bahwa ini adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dirinya dan pasukannya. Tanpa ragu, ia dan seratus prajuritnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Dalam sekejap, kekuatan mereka kembali, tubuh yang lumpuh menjadi pulih. Mereka telah menemukan jalan baru dalam hidup, dan mereka memilih untuk tetap tinggal bersama Sunan Gunung Jati, menjadi pengikut setia dan meninggalkan Pajajaran.
Hanya Patih Tambisara yang kembali ke kerajaan, membawa sebuah surat dari Sunan Gunung Jati untuk Prabu Siliwangi, kakeknya. Surat itu berisi ajakan untuk mengikuti ajaran Islam. Prabu Siliwangi, meski terkejut, mulai mempertimbangkan ajakan tersebut. Namun, sebelum ia bisa mengambil keputusan, Sanghyang Parwatali, seorang dewa yang dihormati, turun dari langit dan membisikkan penolakan terhadap ajaran Islam. Prabu Siliwangi pun menahan niatnya untuk bergabung dengan ajaran baru ini, tetap setia pada kepercayaannya yang lama.
(hri)
Lihat Juga :