Kisah Jenderal Kopassus Soegito Perintahkan Luhut Pandjaitan Cari Makanan saat Peristiwa Malari
Kamis, 22 Agustus 2024 - 08:42 WIB
loading...
Letjen TNI (Purn) Soegito pernah memerintahkan Luhut Binsar Pandjaitan untuk mencari makanan saat meletus peristiwa Malari pada 15 Januari 1974 silam. Foto/Istimewa
A
A
A
LETJEN TNI (Purn) Soegito pernah memerintahkan Luhut Binsar Pandjaitan untuk mencari makanan saat meletus peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari).
Foto/Istimewa
Peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial itu terjadi pada 15 Januari 1974 silam.
Baca juga: Cerita Letjen TNI (Purn) Soegito Gagal Raih Baret Merah Kopassus karena Tak Kuat Jalan Kaki dari Bandung-Cilacap
Kala itu, Letjen Soegito yang menjabat Wadan Grup 1 RPKAD yang kini sudah berganti nama menjadi Kopassus diberi tugas ikut mengamankan Jakarta yang sedang dilanda kerusuhan.
Dikisahkan dalam buku "Letjen Purn Soegito Bakti Seorang Prajurit", Soegito sedang menjalankan rutinitasnya sebagai Wadan Grup 1 RPKAD sambil menunggu panggilan dari Seskoad.
![Kisah Jenderal Kopassus Soegito Perintahkan Luhut Pandjaitan Cari Makanan saat Peristiwa Malari]()
Foto/Istimewa
Siang itu, 15 Januari 1974, tumben Soegito tidak langsung pulang ke rumah setelah apel siang. Ia masih harus menyelesaikan satu pekerjaan lagi sebelum berencana angkat kaki dari kantor. Namun tiba-tiba Danjen Kopassandha Brigjen Witarmin memanggilnya.
"Mayor Gito, siapkan pasukan satu kompi. Segera atasi kekacauan di Senen. Pertama, Mayor Gito lapor ke Mayjen Mantik di Merdeka Barat," perintah Pak Witarmin dengan tegas, dikutip Kamis (22/8/2024).
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Pinjamkan Topi untuk Taklukkan Hati Tati Mulya
Soegito pun bertanya tanya dalam hati, ada apa ini? Sedangkan sang komandan tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang situasi di lapangan yang bisa dijadikannya acuan dalam bertindak.
Memang sejak beberapa hari sebelumnya, Soegito sudah mendengar desas-desus rencana mahasiswa turun ke jalan untuk menentang kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta.
Ternyata memang benar. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan Malari itu adalah demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi di Jakarta pada 15 Januari 1974.
Peristiwa Malari merupakan suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional.
Para mahasiswa menganggap kebijakan pemerintah sudah menyimpang dan tidak berhaluan lagi kepada pembangunan yang berpihak kepada rakyat. Mahasiswa menilai malah dengan kerja sama ini semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.
Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk dijadikan momentum awal untuk demonstrasi antimodal asing ini.
Pronk tiba di Jakarta pada Minggu 11 November 1973. Ketika tiba di Bandara Kemayoran, mahasiswa menyambutnya dengan berdemonstrasi. Puncaknya adalah saat kunjungan PM Jepang dari 14-17 Januari itu.
"Waduh, bagaimana ini, anggota kan sudah pada pulang semua dan sebagian besar anggota kan tinggal di luar asrama," gumam Perwira Pertama RPKAD ini saat meninggalkan ruangan Danjen. Tapi ia harus bergerak cepat.

Foto/Istimewa
Peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial itu terjadi pada 15 Januari 1974 silam.
Baca juga: Cerita Letjen TNI (Purn) Soegito Gagal Raih Baret Merah Kopassus karena Tak Kuat Jalan Kaki dari Bandung-Cilacap
Kala itu, Letjen Soegito yang menjabat Wadan Grup 1 RPKAD yang kini sudah berganti nama menjadi Kopassus diberi tugas ikut mengamankan Jakarta yang sedang dilanda kerusuhan.
Dikisahkan dalam buku "Letjen Purn Soegito Bakti Seorang Prajurit", Soegito sedang menjalankan rutinitasnya sebagai Wadan Grup 1 RPKAD sambil menunggu panggilan dari Seskoad.
%20Soegito%20dan%20pasukan%20RPKAD%20(Kopassus).jpg)
Foto/Istimewa
Siang itu, 15 Januari 1974, tumben Soegito tidak langsung pulang ke rumah setelah apel siang. Ia masih harus menyelesaikan satu pekerjaan lagi sebelum berencana angkat kaki dari kantor. Namun tiba-tiba Danjen Kopassandha Brigjen Witarmin memanggilnya.
"Mayor Gito, siapkan pasukan satu kompi. Segera atasi kekacauan di Senen. Pertama, Mayor Gito lapor ke Mayjen Mantik di Merdeka Barat," perintah Pak Witarmin dengan tegas, dikutip Kamis (22/8/2024).
Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Pinjamkan Topi untuk Taklukkan Hati Tati Mulya
Soegito pun bertanya tanya dalam hati, ada apa ini? Sedangkan sang komandan tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang situasi di lapangan yang bisa dijadikannya acuan dalam bertindak.
Memang sejak beberapa hari sebelumnya, Soegito sudah mendengar desas-desus rencana mahasiswa turun ke jalan untuk menentang kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta.
Ternyata memang benar. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan Malari itu adalah demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi di Jakarta pada 15 Januari 1974.
Peristiwa Malari merupakan suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional.
Para mahasiswa menganggap kebijakan pemerintah sudah menyimpang dan tidak berhaluan lagi kepada pembangunan yang berpihak kepada rakyat. Mahasiswa menilai malah dengan kerja sama ini semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.
Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk dijadikan momentum awal untuk demonstrasi antimodal asing ini.
Pronk tiba di Jakarta pada Minggu 11 November 1973. Ketika tiba di Bandara Kemayoran, mahasiswa menyambutnya dengan berdemonstrasi. Puncaknya adalah saat kunjungan PM Jepang dari 14-17 Januari itu.
"Waduh, bagaimana ini, anggota kan sudah pada pulang semua dan sebagian besar anggota kan tinggal di luar asrama," gumam Perwira Pertama RPKAD ini saat meninggalkan ruangan Danjen. Tapi ia harus bergerak cepat.
Lihat Juga :