Kisah Perwira Sunda, Satu-satunya yang Selamat dari Pertempuran Melawan Majapahit
Senin, 05 Agustus 2024 - 09:41 WIB
loading...
Lapangan Bubat yang menjadi lokasi pertempuran pasukan Kerajaan Sunda dan Majapahit. Foto/Ilustrasi/Instagram @ainusantara
A
A
A
Di balik kisah tragis Perang Bubat, yang terjadi pada tahun 1357 Masehi antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, terdapat cerita heroik seorang perwira Sunda yang menjadi satu-satunya yang selamat dari pertempuran berdarah tersebut. Kisah ini berfokus pada Pitar, perwira Kerajaan Sunda, yang dengan cerdik berhasil melarikan diri dari medan perang dan membawa kabar duka kepada keluarganya.
Perang Bubat berawal dari rencana pernikahan politik antara Raja Hayam Wuruk dari Majapahit dan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Raja Linggabuana Wisesa dari Sunda. Raja Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Raja Linggabuana agar pernikahan dilaksanakan di Majapahit. Meskipun Raja Linggabuana awalnya menolak, ia akhirnya berangkat dengan rombongan menuju Majapahit.
Namun, kedatangan mereka ternyata menjadi awal dari bencana. Mahapatih Gajah Mada, dengan ambisi untuk memenuhi Sumpah Palapa-nya, menilai kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri. Gajah Mada kemudian mendesak Raja Linggabuana untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai simbol penyerahan diri Kerajaan Sunda. Raja Linggabuana marah besar atas perlakuan tersebut, yang akhirnya memicu pertempuran hebat di Pesanggrahan Bubat.
Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut, Kerajaan Sunda mengalami kekalahan besar. Namun, di tengah-tengah kekacauan, Pitar, seorang perwira muda dari Kerajaan Sunda, memperlihatkan keberanian dan kecerdikannya. Dengan berpura-pura mati, Pitar menjatuhkan dirinya di antara mayat-mayat pasukan Sunda yang bergelimpangan. Setelah pasukan Majapahit meninggalkan Bubat, Pitar berhasil meloloskan diri.
Baca Juga: Dyah Pitaloka Citraresmi dan Tudingan Penyebab Perang Bubat Melawan Majapahit
Perang Bubat berawal dari rencana pernikahan politik antara Raja Hayam Wuruk dari Majapahit dan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Raja Linggabuana Wisesa dari Sunda. Raja Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Raja Linggabuana agar pernikahan dilaksanakan di Majapahit. Meskipun Raja Linggabuana awalnya menolak, ia akhirnya berangkat dengan rombongan menuju Majapahit.
Namun, kedatangan mereka ternyata menjadi awal dari bencana. Mahapatih Gajah Mada, dengan ambisi untuk memenuhi Sumpah Palapa-nya, menilai kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri. Gajah Mada kemudian mendesak Raja Linggabuana untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai simbol penyerahan diri Kerajaan Sunda. Raja Linggabuana marah besar atas perlakuan tersebut, yang akhirnya memicu pertempuran hebat di Pesanggrahan Bubat.
Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut, Kerajaan Sunda mengalami kekalahan besar. Namun, di tengah-tengah kekacauan, Pitar, seorang perwira muda dari Kerajaan Sunda, memperlihatkan keberanian dan kecerdikannya. Dengan berpura-pura mati, Pitar menjatuhkan dirinya di antara mayat-mayat pasukan Sunda yang bergelimpangan. Setelah pasukan Majapahit meninggalkan Bubat, Pitar berhasil meloloskan diri.
Baca Juga: Dyah Pitaloka Citraresmi dan Tudingan Penyebab Perang Bubat Melawan Majapahit
Lihat Juga :