Kisah Putri Tadampalik, Legenda dari Tanah Luwu Sulsel
Senin, 10 Juni 2024 - 08:06 WIB
loading...
A
A
A
Di tempat lain, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu bersama panglimanya, Anre Guru Pakkannyareng. Tanpa disadari, ia terpisah dari rombongannya dan tersesat di hutan hingga malam tiba. Dalam kebingungannya, ia melihat cahaya dari kejauhan dan memutuskan untuk mengikuti sumber cahaya tersebut. Cahaya itu membawanya ke perkampungan di mana Putri Tadampalik tinggal. Saat masuk ke dalam sebuah rumah yang tampak kosong, ia terkejut melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air. Putra Mahkota dan Putri Tadampalik pun berkenalan, dan dalam waktu singkat mereka menjadi akrab satu sama lain.
Putra Mahkota yang telah jatuh hati pada Putri Tadampalik segera kembali ke kerajaannya dan mengutarakan niatnya untuk meminang sang putri kepada Raja Bone. Raja Bone segera mengirim utusan ke Wajo untuk melamar Putri Tadampalik. Putri Tadampalik tidak langsung menerima lamaran tersebut, melainkan memberikan keris pusaka dari ayahnya dan meminta utusan tersebut menyampaikan keris itu kepada Datu Luwu. Jika Datu Luwu menerima keris itu dengan baik, maka pinangan tersebut diterima.
Baca Juga: Profil Kerajaan Siau di Sulawesi Utara, Salah Satu Penguasanya Punya Hubungan Darah dengan Jordi Amat
Putra Mahkota berangkat sendirian ke Kerajaan Luwu, membawa keris pusaka dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Datu Luwu. Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar kabar baik tersebut. Mereka segera menjemput Putri Tadampalik ke Wajo dan merestui pernikahan putrinya dengan Putra Mahkota Bone. Pernikahan yang dilangsungkan di Wajo ini berlangsung meriah, dan beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota Bone naik tahta dan menjadi raja yang bijaksana dan adil, didampingi oleh Putri Tadampalik yang setia.
Begitulah kisah Putri Tadampalik, legenda yang menjadi asal mula kepercayaan masyarakat Bugis untuk tidak memakan kerbau belang sebagai bentuk penghormatan atas jasa kerbau yang telah menyembuhkan sang putri. Kisah ini tidak hanya menampilkan kekuatan cinta dan ketabahan, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga tradisi dan menghormati kepercayaan leluhur.
Putra Mahkota yang telah jatuh hati pada Putri Tadampalik segera kembali ke kerajaannya dan mengutarakan niatnya untuk meminang sang putri kepada Raja Bone. Raja Bone segera mengirim utusan ke Wajo untuk melamar Putri Tadampalik. Putri Tadampalik tidak langsung menerima lamaran tersebut, melainkan memberikan keris pusaka dari ayahnya dan meminta utusan tersebut menyampaikan keris itu kepada Datu Luwu. Jika Datu Luwu menerima keris itu dengan baik, maka pinangan tersebut diterima.
Baca Juga: Profil Kerajaan Siau di Sulawesi Utara, Salah Satu Penguasanya Punya Hubungan Darah dengan Jordi Amat
Putra Mahkota berangkat sendirian ke Kerajaan Luwu, membawa keris pusaka dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Datu Luwu. Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar kabar baik tersebut. Mereka segera menjemput Putri Tadampalik ke Wajo dan merestui pernikahan putrinya dengan Putra Mahkota Bone. Pernikahan yang dilangsungkan di Wajo ini berlangsung meriah, dan beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota Bone naik tahta dan menjadi raja yang bijaksana dan adil, didampingi oleh Putri Tadampalik yang setia.
Begitulah kisah Putri Tadampalik, legenda yang menjadi asal mula kepercayaan masyarakat Bugis untuk tidak memakan kerbau belang sebagai bentuk penghormatan atas jasa kerbau yang telah menyembuhkan sang putri. Kisah ini tidak hanya menampilkan kekuatan cinta dan ketabahan, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga tradisi dan menghormati kepercayaan leluhur.
(hri)
Lihat Juga :