Kisah Paitun, Jemaah Haji Tertua Berusia 92 tahun dari Malang Berangkat Hasil Warisan dan Buruh Tani
Jum'at, 10 Mei 2024 - 09:07 WIB
loading...
A
A
A
”Ya keluarga tidak tahu, tidak ngomong juga ke keluarga. Yang mengajak daftar tetangga. Ya Alhamdulillah, kan biar sempurna rukun Islamnya. Cuma kalau keinginannya berangkat haji kapan itu, kita nggak tahu,” ujarnya.
Baca Juga: Dirjen PHU Kemenag Matangkan Program Ramah Lansia dan Mitigasi Risiko Haji 2024
Dari pembayaran awal untuk mendaftar haji, akhirnya kepastian berangkat haji didapat Paitun, pada akhir tahun 2023 lalu. Saat itu keputusan berangkatnya Paitun tergolong mendadak, karena sebenarnya kata Yuyun tidak ada informasi bahwa Paitun akan berangkat di tahun 2024 ini.
"Ya informasinya ndadak, jadi kaget, kan jadwalnya nggak tahun ini. Apalagi kan yang kelebihan (uang pendaftaran) ditaruh di bank itu akhirnya kepakai semua untuk biaya haji. Nambah 35 (juta), dapat subsidi pemerintah, seharusnya 90 (juta), jadi 60 (juta)," ungkap Yuyun kembali.
Uang yang digunakan untuk membayar biaya haji itu memang diakui dari uang warisan keluarga. Tapi untuk mencari uang tambahan sebagai uang saku dan kebutuhan lain-lain, perempuan yang sehari-hari mencari kayu bakar untuk memasak dan jadi buruh tani harus mencari lagi.
”Biaya haji kan naik, jadi uangnya itu akhirnya kepakai semua untuk keberangkatan, untuk uang saku dan buat (syukuran dan lain-lain) di rumah harus cari lagi. Bibi dapat warisan, tapi nggak banyak, ya cukuplah, dulu buruh (tani), sekarang nggak boleh kerja lagi, sudah tua,” paparnya.
Menurutnya, untuk mencari sisa uang itu nanti pihak keluarga akan berusaha dengan menjual beberapa aset dari Paitun. Sebab Paitun juga memiliki sawah dan kebun.
”Kalau bibi itu dulu buruh tani, di sawah ya di kebun, kebunnya tebu. Sama suaminya pisah (cerai), sudah lama, tahunnya lupa saya. Saya masih kecil pokoknya, mungkin sekarang suaminya sudah meninggal, nggak tahu soalnya, nggak dengar kabarnya lagi,” jelasnya.
Baca Juga: Dirjen PHU Kemenag Matangkan Program Ramah Lansia dan Mitigasi Risiko Haji 2024
Dari pembayaran awal untuk mendaftar haji, akhirnya kepastian berangkat haji didapat Paitun, pada akhir tahun 2023 lalu. Saat itu keputusan berangkatnya Paitun tergolong mendadak, karena sebenarnya kata Yuyun tidak ada informasi bahwa Paitun akan berangkat di tahun 2024 ini.
"Ya informasinya ndadak, jadi kaget, kan jadwalnya nggak tahun ini. Apalagi kan yang kelebihan (uang pendaftaran) ditaruh di bank itu akhirnya kepakai semua untuk biaya haji. Nambah 35 (juta), dapat subsidi pemerintah, seharusnya 90 (juta), jadi 60 (juta)," ungkap Yuyun kembali.
Uang yang digunakan untuk membayar biaya haji itu memang diakui dari uang warisan keluarga. Tapi untuk mencari uang tambahan sebagai uang saku dan kebutuhan lain-lain, perempuan yang sehari-hari mencari kayu bakar untuk memasak dan jadi buruh tani harus mencari lagi.
”Biaya haji kan naik, jadi uangnya itu akhirnya kepakai semua untuk keberangkatan, untuk uang saku dan buat (syukuran dan lain-lain) di rumah harus cari lagi. Bibi dapat warisan, tapi nggak banyak, ya cukuplah, dulu buruh (tani), sekarang nggak boleh kerja lagi, sudah tua,” paparnya.
Menurutnya, untuk mencari sisa uang itu nanti pihak keluarga akan berusaha dengan menjual beberapa aset dari Paitun. Sebab Paitun juga memiliki sawah dan kebun.
”Kalau bibi itu dulu buruh tani, di sawah ya di kebun, kebunnya tebu. Sama suaminya pisah (cerai), sudah lama, tahunnya lupa saya. Saya masih kecil pokoknya, mungkin sekarang suaminya sudah meninggal, nggak tahu soalnya, nggak dengar kabarnya lagi,” jelasnya.
Lihat Juga :