Kisah Rakyat Kerajaan Kediri Bebas Pajak di Masa Pemerintahan Raja Jayabaya
Minggu, 07 April 2024 - 07:42 WIB
loading...
A
A
A
Prasasti ini ditujukan untuk rakyat Desa Ngantang yang telah mengabdi untuk kemajuan Kediri. Di tangan Prabu Jayabaya, Kediri berkembang menjadi sebuah kerajaan agraris dan maritim. Sebagian masyarakat yang hidup di pedalaman menggantungkan hidupnya dari bertani. Hasil dari bertani warga Kediri sangat subur. Hasil pertanian yang melimpah ini membuat masyarakat Kediri hidup makmur.
Sementara masyarakat Kediri yang ada di pesisir hidupnya bergantung pada perdagangan dan nelayan. Pada masa Kediri, perdagangan dan pelayaran sudah maju pesat. Para pedagang dari Kediri sudah melakukan hubungan dagang dengan Kerajaan Maluku dan Sriwijaya.
Baca Juga: Ramalan Jayabaya Soal Tahun Kembar Waktu Menuju Kiamat
Arus lalu lintas antar warga pesisir dan pedalaman menggunakan lalu lintas perdagangan sungai besar di Kerajaan Kediri, yaitu Sungai Brantas. Prabu Jayabaya naik takhta sebagai Raja Kediri dengan gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Saat di bawah kekuasaan Prabu Jayabaya, Kerajaan Kediri disegani dan berada pada puncak kejayaan. Prabu Jayabaya disebut sebagai Jangka Jayabaya yang melegenda. Beberapa ramalannya saat itu tentang masa depan hingga kini diyakini terbukti. Sejumlah bukti kebenaran ramalan Prabu Jayabaya banyak diingat masyarakat. Di antaranya ramalan bahwa Pulau Jawa nantinya akan berkalung besi.
Jika ditafsirkan sekarang kemungkinan adalah kehadiran kereta api dengan relnya dari besi yang mengelilingi Pulau Jawa. Ramalan Prabu Jayabaya yang terkenal lainnya adalah kedatangan pria berkulit putih yang akan menduduki Jawa dalam waktu yang sangat lama. Ramalan itu kemudian dikaitkan dengan penjajahan Indonesia oleh Belanda yang menjejakkan kaki di bumi Nusantara pada 1595, lebih dari 400 tahun setelah pemerintahan Prabu Jayabaya.
Ramalan itu diikuti oleh firasatnya tentang orang-orang berkulit kuning dari utara, yang kedatangannya akan menandai berakhirnya kekuasaan orang kulit putih Indonesia dan kemudian akan menduduki Jawa sendiri seumur hidup. Prediksi ini sesuai dengan kedatangan Jepang yang menginvasi Indonesia pada Perang Dunia II.
Sementara masyarakat Kediri yang ada di pesisir hidupnya bergantung pada perdagangan dan nelayan. Pada masa Kediri, perdagangan dan pelayaran sudah maju pesat. Para pedagang dari Kediri sudah melakukan hubungan dagang dengan Kerajaan Maluku dan Sriwijaya.
Baca Juga: Ramalan Jayabaya Soal Tahun Kembar Waktu Menuju Kiamat
Arus lalu lintas antar warga pesisir dan pedalaman menggunakan lalu lintas perdagangan sungai besar di Kerajaan Kediri, yaitu Sungai Brantas. Prabu Jayabaya naik takhta sebagai Raja Kediri dengan gelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Saat di bawah kekuasaan Prabu Jayabaya, Kerajaan Kediri disegani dan berada pada puncak kejayaan. Prabu Jayabaya disebut sebagai Jangka Jayabaya yang melegenda. Beberapa ramalannya saat itu tentang masa depan hingga kini diyakini terbukti. Sejumlah bukti kebenaran ramalan Prabu Jayabaya banyak diingat masyarakat. Di antaranya ramalan bahwa Pulau Jawa nantinya akan berkalung besi.
Jika ditafsirkan sekarang kemungkinan adalah kehadiran kereta api dengan relnya dari besi yang mengelilingi Pulau Jawa. Ramalan Prabu Jayabaya yang terkenal lainnya adalah kedatangan pria berkulit putih yang akan menduduki Jawa dalam waktu yang sangat lama. Ramalan itu kemudian dikaitkan dengan penjajahan Indonesia oleh Belanda yang menjejakkan kaki di bumi Nusantara pada 1595, lebih dari 400 tahun setelah pemerintahan Prabu Jayabaya.
Ramalan itu diikuti oleh firasatnya tentang orang-orang berkulit kuning dari utara, yang kedatangannya akan menandai berakhirnya kekuasaan orang kulit putih Indonesia dan kemudian akan menduduki Jawa sendiri seumur hidup. Prediksi ini sesuai dengan kedatangan Jepang yang menginvasi Indonesia pada Perang Dunia II.
Lihat Juga :