Kisah Eyang Djugo, Guru Spritual Pangeran Diponegoro Tabib Sakti Pengendali Wabah Kolera

Jum'at, 29 Maret 2024 - 07:35 WIB
loading...
A A A
Hingga pada tahun 1901. Gunung Kelud tiba-tiba kembali meletus, dan terulang lagi pada tahun 1919. Ribuan penduduk Blitar banyak yang menjadi korban. Peristiwa alam tersebut terjadi setelah Mbah Djugo hijrah ke Gunung Kawi.

Tepatnya tahun 1876. PadepokanMbah Djugo di Desa Djugo, Kecamatan Kesamben ditinggalkan. Dengan berbekal kayu dari hutan Brongkos, Kecamatan Kesamben, Mbah Djugo mendirikan padepokan di lereng Gunung Kawi.

Di bawah gunung setinggi 2.860 meter. Lokasi padepokan bertempat di Dusun Wonosari, Desa Ngajum, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Di sekelilingnya banyak tumbuh rindang pohon cendana, nagasari, dewandaru, margoutomo, kepel, blimbing, kukusan, jambu dan cerme.

Mbah Djugo ditemani Mbah Iman Sudjono putra angkatnya yang konon berasal dari trah priyayi Mataram. Gunung Kawi yang berlokasi jauh dan sepi, sontak berubah ramai. Mereka yang ingin bertemu Mbah Djugo datang dari mana-mana.

Tidak hanya warga Jawa Timur. Yang datang dari luar Jawa, juga tidak sedikit. Bahkan banyak diantaranya etnis Tionghoa. Tidak hanya mencari obat kesembuhan atas penyakit yang diderita. Berbagai persoalan hidup juga disampaikan kepada Mbah Djugo untuk dimintakan jalan keluar.

Sebagai wujud rasa syukur. Mereka yang harapannya terkabul, seringkali membuat tumpeng untuk dimakan bersama. Dalam perjalanannya ungkapan rasa syukur tersebut menjadi tradisi mereka yang datang ke Gunung Kawi.

Tahun 1879. Tepatnya Minggu Legi, bulan Selo (Penanggalan Jawa). Mbah Djugo tutup usia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Mbah Djugo menjalani laku tapa Ngelowong. Yakni tidak makan minum dan hanya menghirup udara selama 36 hari.

“Pada hari ke-37, dengan diiringi oleh Raden Mas Iman Sudjono dan sekalian cantrik hulugintung Mbah Djugo berangkat dari padepokannya naik menuju tempat pekuburannya,” tulis Im Yang Tju.

Di liang kubur, dalam posisi duduk bersila Mbah Djugo menghembuskan nafas terakhirnya. Konon liang lahat tersebut disiapkan oleh tangan Mbah Djugo sendiri tujuh tahun sebelumnya (1872).

Sekitar delapan tahun kemudian. Mbah Iman Sudjono yang melanjutkan laku Mbah Djugo menolong orang yang datang ke Gunung Kawi, juga tutup usia. Hingga hari ini tidak ada yang tahu persis dari mana asal Mbah Djugo.

Orang-orang Tionghoa lebih suka memanggil Mbah Djugo dengan sebutan Thay Lo Su yang berarti Kiai Guru Tua. Sedangkan Mbah Iman Sudjono dipanggil Djie Lo Su yang artinya Kiai Guru yang kedua.

Hingga kini, tiap hari Jumat legi, dua makam yang berdampingan barat dan timur tersebut selalu dibanjiri peziarah.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Dituding Lakukan Pesugihan...
Dituding Lakukan Pesugihan Gunung Kawi, Sarwendah Beri Sindiran Menohok
Nama Sarwendah Terseret...
Nama Sarwendah Terseret Isu Pesugihan Gunung Kawi, Ini Fakta Sebenarnya
Diponegoro Hero, Film...
Diponegoro Hero, Film AI yang Hidupkan Kembali Api Perjuangan Pahlawan Jawa
Rekomendasi
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
5 Tradisi Unik di Dunia,...
5 Tradisi Unik di Dunia, Salah Satunya Melempar Bayi di India
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Berita Terkini
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
Imigrasi Semarang Bongkar...
Imigrasi Semarang Bongkar Praktik Love Scamming, Tangkap 4 WNA China
Keluhkan Bongkar Muat...
Keluhkan Bongkar Muat Batu Bara di Laut, Nelayan Pulau Ampel: Jadi Susah Tangkap Ikan
Makin Fleksibel! Keliling...
Makin Fleksibel! Keliling Dunia Nggak Masalah, Daftar BRImo Kini Bisa dari 15 Negara
Bhakti TNI, Satgas Yonif...
Bhakti TNI, Satgas Yonif 631/Antang Bangun MCK di Dagai Puncak Jaya
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
Infografis
Kisah Jenderal Hoegeng...
Kisah Jenderal Hoegeng Menyamar Jadi Hippies, Turun Langsung Bongkar Narkoba
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved