Kisah Eyang Djugo, Guru Spritual Pangeran Diponegoro Tabib Sakti Pengendali Wabah Kolera

Jum'at, 29 Maret 2024 - 07:35 WIB
loading...
Kisah Eyang Djugo, Guru...
Potret R.M Soerjokoesoemo lebih dikenal dengan nama Mbah Djugo atau Eyang Djugo. Foto/Istimewa/@jejakpejalankaki
A A A
Gunung Kawi adalah salah satu tempat yang dikeramatkan di Indonesia. Sebagai tempat ziarah, di Gunung Kawi dimakamkan tokoh bangsawan Keraton Yogyakarta bernama R.M Soerjokoesoemo lebih dikenal dengan nama Mbah Djugo atau Eyang Jugo.

Konon Mbah Djug o berhasil menyembuhkan wabah kolera di Jawa Timir. Tak hanya itu, Mbah Jugo juga dikatakan pernah menjadi penasihat spiritual dan pengawal Pangeran Diponegoro. Makamnya di Lereng Gunung Kawi ramai dikunjungi peziarah.

Kisah heroik Mbah Djugo bermula saat rakyat kecil yang terhimpit kesusahan selalu dibantu dan ditolong dirinya. Begitu juga saat seluruh tanah Jawa dilanda pagebluk wabah penyakit kolera. Sekitar tahun 1870.

Seorang laki-laki tua dengan kumis dan jenggot panjang, tiba-tiba kembali muncul di Desa Djugo. Perawakannya jangkung. Dengan kulit wajah yang senantiasa memerah seperti kebanyakan tersiram sinar matahari.

Baca Juga: Kisah Gustaf Wihelm Wiese Peras Keraton Yogyakarta Picu Pemberontakan Raden Ronggo

Yangmembedakan dengan orang pada umumnya. Kedua daun telinganya terlihat lebih besar.Yang juga diingat setiap orang yang pernah ditolongnya. Penampilan Mbah Djugo sepintas mrip gelandangan.

Namun anehnya baju yang dikenakan tidak pernah tampak compang-camping maupun kotor.“Ketika menampak kedatangannya, penduduk Desa Djugo memburu dengan menangis sebagai anak-anak melihat ibunya datang dari bepergian jauh,”

Kata-kata itu ditulis Im Yang Tju dalam Riwayat Ejang Djugo Panembahan Gunung Kawi. ”Mereka mengadukanpenderitaannya, minta obat, minta dilindungi keselamatannya,”

Desa Djugo atau Jugo berada di wilayah Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar. Lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Malang, sekaligus berdekatan denganGunung Kawi. Mbah Djugo muncul dari dalam belukar hutan.

Melihat antusias orang yang merindukan kehadirannya, ia berjalan ke arah kandang sapi yang lama tidak terpakai.Sebelum masuk hutan dan kemudian menghilang, di kandang sapi di pinggir hutan tersebut, Mbah Djugo biasa seperti termangu sendirian.

Baca Juga: 8 Peninggalan Kerajaan Mataram Islam, dari Masjid Agung Kauman hingga Benteng Vastenburg

“Hayo, siapa yang sakit boleh datang kemari, yang tidak bisa jalan boleh suruhan orang saja membawa air di botol atau bumbung. Nanti kuberi obat supaya waras kembali,” seloroh Mbah Djugo seperti dituturkan Im Yang Tju.

Terutama bagi kaum kromo ataurakyat jelata. Wabah kolera menimbulkan ketakutan sekaligus kesengsaraan. Kematian terjadi di mana-mana. Sejarawan Susan Blackburn menyebut epidemi kolera pecah di Hindia Belanda mulai tahun 1820.

Pemicu kolera adalah hubungan dagang antara Jawa dengan India melalui selat Malaka. Serangan pertama muncul di sepanjang pesisir pantai utara Jawa. Dari Batavia, penyakit kolera menyebar ke Semarang hingga Surabaya.

Orang Jawa menyebutpagebluk. Pagi mengeluh demam disertai muntah dan berak, sore sudah meninggal dunia. Begitu juga sore sakit, paginya meregang nyawa. Tercatat pada tahun 1910 sebanyak 60 ribu penduduk Jawa dan Madura tewas akibat kolera.

Di Desa Djugo, Kabupaten Blitar. Begitu mendengar Mbah Djugo mengatakan cukup membawa air, warga sontak berduyun-duyun mencari tempat air. “Ada yang pakai cangkir, ada yang pakai kelowoh, ada yang pakai bumbung,” tulis Im Yang Tju.

Baca Juga: 5 Ramalan Jayabaya yang Terjadi di Tahun 2024, Bencana Alam hingga Ketegangan Politik

Air di dalam wadah yang beragam tersebut, diletakkan di depan Mbah Djugo. Laki-laki tua itu hanya diam. Semua wadah air itu hanya dipandangnya. Sejurus kemudian. Warga dimintanya membawa air itu pulang. Air diminumkan kepada si sakit.

Juga dioleskan pada tubuh yang dianggap sakit. Ajaib. Dalam waktu singkat semua berangsur-angsur sembuh, sehat seperti sedia kala. Kabar munculnyaMbah Djugo dengan cepat menyebar ke desa-desa lain.

Ke arah Timur bergetok tular sampai wilayah Sumberpucung, dan Kepanjen (Wilayah Kabupaten Malang). Ke barat menyebar sampai wilayah Wlingi, hingga Kota Blitar. Nama Mbah Djugo Menjadi buah bibir. Diucapkan di mana-mana dengan penuh hormat.

“Tidak lama wabah penyakit kolera yang meliputi seluruh daerah Blitar, Tulungagung, Kediri, Wlingi, Kepanjen, Malang dan desa-desa sepanjang pesisir laut selatan, telah terbasmi musnah. Rakyat telah negeri telah tentram kembali hidupnya,” tulis Im Yang Tju.

Popularitas namaMbah Djugo sebagai tabib sakti sekaligus orang pintar yang gemar menolong sampai ke telinga Bupati Blitar Kanjeng Pangeran Warsokusumo. Di Desa Djugo. Sebagai terima kasih dan hormatnya kepada Mbah Djugo, Bupati Blitar memberi hadiah sebidang tanah.

Di atas tanah bebas pajak tersebut didirikan sebuah rumah yang dalam perjalanannya menjadi padepokan. Sejak itu Mbah Djugo dikenal dengan panggilan Ki Ageng Djugo atau Panembahan Djugo berhenti berkelana.

Ia menetap di Desa Djugo. Mulai dari rakyat jelata hingga priyayi pejabat yang datang untuk mencari kesembuhan penyakit, mengalir tak putus-putus. Konon, kehadiran Mbah Djugo, Gunung Kelud yang rutin meletus dan menimbulkan banyak korban jiwa, juga berhenti erupsi.

Hingga pada tahun 1901. Gunung Kelud tiba-tiba kembali meletus, dan terulang lagi pada tahun 1919. Ribuan penduduk Blitar banyak yang menjadi korban. Peristiwa alam tersebut terjadi setelah Mbah Djugo hijrah ke Gunung Kawi.

Tepatnya tahun 1876. PadepokanMbah Djugo di Desa Djugo, Kecamatan Kesamben ditinggalkan. Dengan berbekal kayu dari hutan Brongkos, Kecamatan Kesamben, Mbah Djugo mendirikan padepokan di lereng Gunung Kawi.

Di bawah gunung setinggi 2.860 meter. Lokasi padepokan bertempat di Dusun Wonosari, Desa Ngajum, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Di sekelilingnya banyak tumbuh rindang pohon cendana, nagasari, dewandaru, margoutomo, kepel, blimbing, kukusan, jambu dan cerme.

Mbah Djugo ditemani Mbah Iman Sudjono putra angkatnya yang konon berasal dari trah priyayi Mataram. Gunung Kawi yang berlokasi jauh dan sepi, sontak berubah ramai. Mereka yang ingin bertemu Mbah Djugo datang dari mana-mana.

Tidak hanya warga Jawa Timur. Yang datang dari luar Jawa, juga tidak sedikit. Bahkan banyak diantaranya etnis Tionghoa. Tidak hanya mencari obat kesembuhan atas penyakit yang diderita. Berbagai persoalan hidup juga disampaikan kepada Mbah Djugo untuk dimintakan jalan keluar.

Sebagai wujud rasa syukur. Mereka yang harapannya terkabul, seringkali membuat tumpeng untuk dimakan bersama. Dalam perjalanannya ungkapan rasa syukur tersebut menjadi tradisi mereka yang datang ke Gunung Kawi.

Tahun 1879. Tepatnya Minggu Legi, bulan Selo (Penanggalan Jawa). Mbah Djugo tutup usia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Mbah Djugo menjalani laku tapa Ngelowong. Yakni tidak makan minum dan hanya menghirup udara selama 36 hari.

“Pada hari ke-37, dengan diiringi oleh Raden Mas Iman Sudjono dan sekalian cantrik hulugintung Mbah Djugo berangkat dari padepokannya naik menuju tempat pekuburannya,” tulis Im Yang Tju.

Di liang kubur, dalam posisi duduk bersila Mbah Djugo menghembuskan nafas terakhirnya. Konon liang lahat tersebut disiapkan oleh tangan Mbah Djugo sendiri tujuh tahun sebelumnya (1872).

Sekitar delapan tahun kemudian. Mbah Iman Sudjono yang melanjutkan laku Mbah Djugo menolong orang yang datang ke Gunung Kawi, juga tutup usia. Hingga hari ini tidak ada yang tahu persis dari mana asal Mbah Djugo.

Orang-orang Tionghoa lebih suka memanggil Mbah Djugo dengan sebutan Thay Lo Su yang berarti Kiai Guru Tua. Sedangkan Mbah Iman Sudjono dipanggil Djie Lo Su yang artinya Kiai Guru yang kedua.

Hingga kini, tiap hari Jumat legi, dua makam yang berdampingan barat dan timur tersebut selalu dibanjiri peziarah.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
Dituding Lakukan Pesugihan...
Dituding Lakukan Pesugihan Gunung Kawi, Sarwendah Beri Sindiran Menohok
Nama Sarwendah Terseret...
Nama Sarwendah Terseret Isu Pesugihan Gunung Kawi, Ini Fakta Sebenarnya
Diponegoro Hero, Film...
Diponegoro Hero, Film AI yang Hidupkan Kembali Api Perjuangan Pahlawan Jawa
Rekomendasi
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan...
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 8,2 Juta Batang Rokok Ilegal di Jalur Merak-Bakauheni
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Babak Baru Kasus Erin...
Babak Baru Kasus Erin Wartia, Pelapor Serahkan Dokumen LPSK ke Penyidik
Berita Terkini
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Ada Demo Mahasiswa,...
Ada Demo Mahasiswa, Rute Transjakarta Dialihkan
Demo Rawamangun Menggugat...
Demo Rawamangun Menggugat Kelar, Aliansi UNJ Melawan Bubarkan Diri
Infografis
5 Fakta Jeffrey Epstein:...
5 Fakta Jeffrey Epstein: dari Guru Tanpa Ijazah hingga Dugaan Agen Mossad
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved