alexametrics

Cerita Pagi

Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara

loading...
Mengintip Petilasan Ken Dedes, Ibu Para Raja Nusantara
Situs Ken Dedes di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Foto SINDOnews/Yuswantoro
A+ A-
Pendopo kecil sederhana, memayungi batu andesit kuno berbentuk bulat. Di sekitarnya, juga nampak batu-batu andesit tidak beraturan. Di samping pendopo, berdiri tegak pohon yang sangat rindang. “Inilah batu-batu kuno, yang tersisa di Situs Ken Dedes,” ujar Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono saat disambangi penulis beberapa waktu lalu.

Ken Dedes adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singhasari) Dia merupakan sosok wanita hebat di masanya. Ken Dedes, telah menjadi wanita terpelajar di masanya, atas bimbingan ayahnya sendiri Mpu Purwa, yang mendirikan tempat pendidikan di wilayah Polowijen, yang dahulu dikenal dengan Panawijen.
 

Menurut Pararaton, Ken Dedes adalah putri dari Mpu Purwa, seorang pendeta Buddha aliran Mahayana dari desa Panawijen. Pada suatu hari Tunggul Ametung akuwu Tumapel singgah di rumahnya. Tunggul Ametung jatuh hati padanya dan segera mempersunting gadis itu. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu.

Namun Tunggul Ametung tidak kuasa menahan diri. Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi.



Ketika Mpu Purwa pulang ke rumah, dia marah mendapati putrinya telah diculik. Ia pun mengutuk "Hai orang yang melarikan anak ku, semoga tidak mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris. demikian juga orang-orang Panawijen, keringlah sumurnya, semoga tidak keluar air dari kolamnya".

Lalu wanita berpendidikan, yang sempat dinikahi secara paksa oleh Tunggul Ametung ini  kemudian direbut oleh Ken Arok dan pada akhirnya menjadi wanita yang melahirkan banyak raja besar di Nusantara.
 
Sayangnya, generasi masa kini tidak sepenuhnya mengenal sosok wanita hebat, yang dikenal sebagai Pratnya Paramitha. Yaitu dewi ilmu pengetahuan. “Sebelumnya, saya tidak tahu siapa Ken Dedes. Baru tahu saat ikut jalan-jalan ini tadi,” ujar Nurhidayati (11) dengan polosnya.

Di hadapan Dwi Cahyono, nampak Hani Nurhidayati dan temannya Vanesa Zaliyanti (10) duduk bersila bersama teman-temannya yang lain. Mentari senja musim kemarau, menghadirkan warna jingga di seberang situs tersebut.

Berkas sinar jingga, menerpa wajah lugu anak-anak yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar tersebut. Terkadang mereka nampak mengeryitkan dahi, sebagai tanda kebingungannya terhadap segala penjelasan tentang sejarah Ken Dedes.

Dalam kebingungannya, mereka tetap mencoba duduk di dalam pendopo. Mereka mencoba mencatat, apa saja yang bisa dicatat dari penjelasan sang dosen dan ahli sejarah tersebut. Mungkin, terlalu banyak istilah masa lampau yang asing di telinga anak-anak itu. Tetapi, mereka tetap saja mencoba belajar dan mencernanya.

Sore itu, Hani Nurhidayati, dan Vanesa Zaliyanti, bergabung bersama para peserta Ajar Pusaka Budaya. Pesertanya beragam jenis.

Ada mahasiswa, ada masyarakat umum pecinta sejarah, dan banyak pula pelajar mulai tingkat sekolah dasar, hingga sekolah menengah atas.

Mereka bergitu bersemangat, membelah jalan-jalan setapak di tengah pemakaman umum Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Setelah melintasi area pemakaman, mereka berjalan menuruni jalan setapak.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak