Distribusi dan Regulasi Subsidi Menjadi Fokus Perbincangan Disuksi FGD di Bandung

Kamis, 25 Januari 2024 - 10:37 WIB
loading...
Distribusi dan Regulasi...
Diskusi dengan tema Keberlanjutan Usaha Pertanian: Ketersediaan Pupuk dan Dukungan Input Agro yang diselenggarakan oleh Nagara Institute di Bandung. Foto/Istimewa
A A A
BANDUNG - Permasalahan kelangkaan pupuk yang dihadapi para petani, tingginya impor pangan khususnya beras, serta kondisi pertanian dan pangan global menjadi pusat diskusi dalam acara Focus Group Discussion (FGD).

Diskusi itu dengan tema “Keberlanjutan Usaha Pertanian: Ketersediaan Pupuk dan Dukungan Input Agro” yang diselenggarakan oleh Nagara Institute di Grand Dafam Braga Hotel, Bandung, pada Kamis (25/1/2024).

FGD ini merupakan bagian dari riset mendalam yang dilakukan oleh Nagara Institute terkait ketersediaan pupuk dalam produksi hasil pertanian.

Baca Juga: Bupati Asmat Membuka FGD ke-II, Ini yang Dibahas dalam FGD Kedua

Direktur Eksekutif Nagara Institute Akbar Faizal menyatakan bahwa tujuan FGD ini adalah untuk mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi sektor pertanian, terutama yang berkaitan dengan pupuk.

”Pupuk merupakan salah satu input penting dalam pertanian, selain tenaga kerja dan teknologi. Pupuk memiliki peran krusial dalam menentukan produktivitas lahan pertanian, terutama pada lahan yang mengalami degradasi dan kekurangan zat hara," ungkap Akbar.

Akbar menyoroti isu terkait penyediaan dan akses pupuk yang inklusif bagi petani yang masih menjadi perhatian utama di masyarakat. Ia menilai bahwa kebijakan subsidi pupuk yang diterapkan pemerintah masih menimbulkan masalah dalam eksekusi dan implementasinya.

”Issues seperti penentuan jumlah subsidi yang masih di bawah angka yang dicatatkan dalam E-RDKK, serta justifikasi terhadap penentuan komoditas dan kelompok petani sasaran subsidi, perlu diperhatikan dalam pembahasan kebijakan karena memiliki dampak yang luas,” tambahnya.

Baca Juga: Politeknik Pariwisata Makassar Adakan FGD di Kabupaten Bone

Akbar menekankan bahwa isu ini sangat krusial, terutama mengingat keluhan berulang dari petani terkait kelangkaan pupuk, impor pangan yang tinggi, dan situasi global pertanian dan pangan yang dipengaruhi gangguan produksi, restriksi ekspor, dan subsidi pertanian dari negara-negara besar.

Dalam konteks ekonomi politik Indonesia, isu ini telah menjadi topik debat pada debat perdana
calon presiden Pilpres 2024 dan debat kedua calon wakil presiden.

Menurut Akbar Faizal, momentum yang baik ini harus dimanfaatkan untuk memberikan solusi konkret terhadap permasalahan ketersediaan pupuk, mendukung kedaulatan pangan, dan mencapai Indonesia Emas 2045.

Para pakar yang ikut serta dalam FGD menyoroti efektivitas subsidi pupuk yang rawan terhadap penyelewengan. Ketua HKTI Jawa Barat, Nu’man Abdulhakim, mempertanyakan apakah kebijakan tambahan subsidi pupuk sesuai dengan kebutuhan petani.

Ronnie S Natawidjaja dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) menyarankan agar agen-agen pupuk atau sarana produksi pertanian dapat membantu mendata kebutuhan pupuk bersubsidi di suatu wilayah, mengingat mereka memiliki data yang lebih akurat.

Dr. Rini Handayani dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mengemukakan bahwa pemerintah seharusnya memprioritaskan penggunaan pupuk organik sebagai kebijakan yang ramah lingkungan dan mendukung kemandirian petani.

Sementara itu, perwakilan petani, Surya, menyuarakan keluhan terkait fluktuasi harga jual produk pertanian yang merugikan petani.

Ia berharap ada kebijakan yang dapat menjamin harga konsumen dan penyerapan produk pertanian, sehingga para petani dapat mencapai kesejahteraan.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rembug Tani Jabar di...
Rembug Tani Jabar di Tasikmalaya, Apkarindo Perkuat Sinergi Demi Masa Depan Karet Rakyat
Bahas Kemajuan Desa...
Bahas Kemajuan Desa Nifasi Papua Tengah, Forum Diskusi Publik Digelar di Jaksel
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Fakta Baru Terungkap,...
Fakta Baru Terungkap, Taufik Hidayat Sekap dan Aniaya Kekasihnya di Empat Lokasi
Urgensi Pendekatan Humanis...
Urgensi Pendekatan Humanis dalam Penataan Kota dan Relokasi UMKM
Gus Falah Desak Pelaku...
Gus Falah Desak Pelaku Penyekapan dan Penyiksaan Brutal Wanita di Bandung Dihukum Seberat-Beratnya
Mahasiswa ITS Kembangkan...
Mahasiswa ITS Kembangkan Nanopestisida yang Tahan Hujan dan Paparan Sinar UV
Mentan Amran Kumpulkan...
Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
Rekomendasi
Kapolri Naikkan Pangkat...
Kapolri Naikkan Pangkat 4 Pati Polri Jadi Komjen, Ini Daftar Lengkapnya
Pascaramai Diprotes,...
Pascaramai Diprotes, Menkeu Purbaya Klaim 95,45% Pencairan JHT Bebas Pajak
Ketika Gen Z Membawa...
Ketika Gen Z Membawa Orang Tua ke Ruang Interview
Berita Terkini
Helaran Mapag Pajajaran...
Helaran Mapag Pajajaran Anyar, Cetak Rekor Muri 2000 Pemain Karinding
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Ringankan Beban Warga Kendari
Roy Suryo Siapkan Saksi...
Roy Suryo Siapkan Saksi Buktikan Penangkapannya Tidak Sesuai Aturan
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Sultra Diserbu Warga
BMKG Perkirakan Fenomena...
BMKG Perkirakan Fenomena El Nino Berlangsung 9-12 Bulan
Polda Metro Jaya Minta...
Polda Metro Jaya Minta Hakim Tolak Seluruh Permintaan Praperadilan Roy Suryo
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved