Kisah Ngawi, Sebelum Perang Diponegoro Jadi Pusat Perdagangan di Jawa
Rabu, 27 Desember 2023 - 09:07 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Asal Usul Nama dan Sejarah Hari Jadi Kabupaten Ngawi: Daerah Bambu
Pada bulan Desember atau Januari, yakni pada musim penghujan dan banjir, keraton Yogyakarta melepas angkutan sungai atau bernama perahu pangluput atau prau pangluput untuk berlayar ke muara (Gresik dan Surabaya).
Perahu yang berangkat dari Surakarta dengan kapasitas 200 ton itu berlayar menuju ke Ngawi. Jumlah keseluruhan ada 10 unit dengan muatan lada, beras, dan barang curah lain seperti kayu.
Untuk sampai tujuan, perjalanan perahu pangluput memakan waktu 8 hari. Pada saat kembali perahu membawa muatan garam, batu bara, dan dedak halus.
Karena lebih berat dan bahkan sering terpaksa ditunda, perjalanan kembali atau ke hulu memakan waktu lebih lama, yakni 4 bulan. Sementara pada musim kemarau transportasi diambil alih oleh gerobak kerbau dengan deringan keras bel lei-os (kerbau) di depan gerobak panjang. Gerobak-gerobak itu memiliki tempat perhentian di Ngawi.
“Di tempat yang tampak tidak begitu penting ini, orang-orang Tionghoa memiliki rumah dan gudang luas yang dibuat dari batu bata”.
Pada bulan Desember atau Januari, yakni pada musim penghujan dan banjir, keraton Yogyakarta melepas angkutan sungai atau bernama perahu pangluput atau prau pangluput untuk berlayar ke muara (Gresik dan Surabaya).
Perahu yang berangkat dari Surakarta dengan kapasitas 200 ton itu berlayar menuju ke Ngawi. Jumlah keseluruhan ada 10 unit dengan muatan lada, beras, dan barang curah lain seperti kayu.
Untuk sampai tujuan, perjalanan perahu pangluput memakan waktu 8 hari. Pada saat kembali perahu membawa muatan garam, batu bara, dan dedak halus.
Karena lebih berat dan bahkan sering terpaksa ditunda, perjalanan kembali atau ke hulu memakan waktu lebih lama, yakni 4 bulan. Sementara pada musim kemarau transportasi diambil alih oleh gerobak kerbau dengan deringan keras bel lei-os (kerbau) di depan gerobak panjang. Gerobak-gerobak itu memiliki tempat perhentian di Ngawi.
“Di tempat yang tampak tidak begitu penting ini, orang-orang Tionghoa memiliki rumah dan gudang luas yang dibuat dari batu bata”.
Lihat Juga :