Industri Manufaktur di Jabar Terpuruk, Kang Emil Minta OJK Turun Tangan

loading...
Industri Manufaktur di Jabar Terpuruk, Kang Emil Minta OJK Turun Tangan
ilustrasi
A+ A-
BANDUNG - Pandemi COVID-19 telah memukul industri manufaktur di Provinsi Jawa Barat. Pemerintah diminta turun tangan, agar industri manufaktur tidak semakin terpuruk dan perekonomian nasional dapat kembali bergerak.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, sekitar 60 persen industri manufaktur nasional berada di provinsi yang dipimpinnya. Bahkan, kata dia, industri manufaktur di Jabar menjadi penyumbang 40 persen produk domestik regional bruto (PDRB).

(Baca juga:Ini Kronologi Laka Maut Tol Cipali 8 Tewas, 1 Luka Berat dan 14 Luka Ringan)

Oleh karenanya, dalam pertemuan dengan Ketua Dewan Komisioner OJK RI, Wimboh Santoso di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Minggu (9/8/2020) kemarin, Gubernur yang akrab disapa Kang Emil itu berharap, OJK segera mengeluarkan kebijakan, agar sektor industri manufaktur di Jabar dapat kembali bangkit.

"Kami mohon OJK memberikan input bagaimana mendorong mesin besar (industri manufaktur) yang sedang mogok ini naik seperti mesin kecil yang sudah bagus. Semoga dalam seminggu ada rekomendasi atau kebijakan dari OJK," tutur Kang Emil dalam keterangan resminya, Senin (10/8/2020).



Menurut Kang Emil, dalam pertemuan tersebut, muncul sebuah gagasan bahwa untuk memulihkan industri manufaktur, pemerintah akan berupaya membeli komoditas industri manufaktur mengingat aktivitas ekspor yang terhambat akibat pandemi.

(Baca juga:)88.900 Calon TKI Tak Bisa Berangkat, Ini Penjelasan Kemenaker

"Salah satu gagasannya tadi kita beli barangnya, tapi juga mungkin ada keterbatasan. Atau kita menggiring korban PHK (industri) manufaktur bisa kerja di sektor yang ekonominya diserap lokal, seperti produk pangan atau pertanian," katanya.

Lebih lanjut Kang Emil mengatakan, selain sektor manufaktur, sektor pertanian dan pariwisata juga mejadi kekuatan ekonomi Jabar. Bahkan, kata dia, pertanian merupakan sektor paling tangguh di tengah pandemi COVID-19.

"(Tapi) Pertumbuhan antara manufaktur dan non-manufaktur ini belum seimbang karena manufaktur porsi PDRB-nya besar sekali yaitu 40 persen," imbuhnya.



Kang Emil juga menekankan, pandemi COVID-19 memukul seluruh sektor perekonomian. Karenanya, pemerintah harus bergerak cepat untuk membuat kebijakan yang terukur tanpa mengabaikan kesehatan.

"Ekonomi ini rumit karena dimensinya besar. Khusus Jabar sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar, kami sudah petakan. Jadi yang paling banyak terkontraksi paling besar adalah sektor manufaktur," sebutnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK RI, Wimboh Santoso mengaku, pihaknya sedang berupaya menggenjot sektor korporasi, termasuk di dalamnya industri manufaktur.

Apalagi, kata dia, pemerintah sendiri sudah memberikan berbagai insentif untuk menggerakkan sektor manufaktur di tengah pandemi, salah satunya jaminan tambahan modal kerja untuk kredit korporasi.

"Kalau yang padat karya sharing dari pemerintah sebesar 60 persen dijamin, kalau non-padat karya 50 persen," sebutnya.

Wimboh juga mengatakan, mayoritas sektor manufaktur di Jabar adalah padat karya. Oleh karenanya, OJK RI akan berupaya membantu memasarkan komoditas industri manufaktur Jabar, khususnya di pasar domestik.

"Kalau ekspor masih diambang ketidakpastian dunia, sehingga harus re-orientasi untuk pasar domestik. Kami juga akan memberikan solusi karena pertumbuhan ekonomi ini bukan hanya didorong oleh sektor informal dan konsumsi UMKM, tapi korporasi juga harus bangkit," paparnya.

Dia pun berharap, Provinsi Jabar menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi nasional yang kini terpuruk akibat pandemi COVID-19. Pasalnya, skala ekonomi di Jabar sangat besar.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top