Jejak Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Annuqayah yang Dikunjungi Mahfud MD saat Pulang ke Madura
Senin, 20 November 2023 - 08:50 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1917, KH Moh Ilyas kembali ke Guluk-Guluk untuk melanjutkan perjuangan ayahnya setelah menimba ilmu di berbagai pesantren dan tinggal di Mekah.
Pada masa kepemimpinan Kiai Ilyas, Annuqayah mengalami banyak perkembangan dalam pendekatan masyarakat, sistem pendidikan, dan hubungan dengan pemerintah.
Annuqayah menjadi pionir dalam pembentukan "federasi pesantren" ketika daerah Lubangsa yang didirikan oleh Kiai Syarqawi tidak mampu menampung santri yang semakin bertambah.
Inisiatif ini memicu pendirian pesantren-pesantren baru seperti Latee, yang kini menjadi bagian dari pesantren federasi Annuqayah. Hingga kini, Annuqayah menampung lebih dari 6.000 santri dari berbagai jenjang pendidikan.
Setelah meninggalnya Kiai Ilyas pada 1959, kepemimpinan di Annuqayah diambil alih oleh kolektif para kiai sepuh generasi ketiga.
Di bawah pimpinan KH Moh Amir Ilyas dan dilanjutkan oleh KH Ahmad Basyir AS, pesantren ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tetapi juga sebagai lembaga yang sangat peduli terhadap lingkungan.
Pada tahun 1981, Presiden Soeharto mengakui kontribusi Annuqayah dalam pelestarian lingkungan dengan menganugerahi hadiah Kalpataru.
Sebagai destinasi penting dalam perjalanan Mahfud MD, Pondok Pesantren Annuqayah terus menjadi simbol keberlanjutan tradisi pendidikan dan keagamaan di Pulau Madura.
Pada masa kepemimpinan Kiai Ilyas, Annuqayah mengalami banyak perkembangan dalam pendekatan masyarakat, sistem pendidikan, dan hubungan dengan pemerintah.
Federasi Pesantren dan Pemeliharaan Lingkungan
Annuqayah menjadi pionir dalam pembentukan "federasi pesantren" ketika daerah Lubangsa yang didirikan oleh Kiai Syarqawi tidak mampu menampung santri yang semakin bertambah.
Inisiatif ini memicu pendirian pesantren-pesantren baru seperti Latee, yang kini menjadi bagian dari pesantren federasi Annuqayah. Hingga kini, Annuqayah menampung lebih dari 6.000 santri dari berbagai jenjang pendidikan.
Setelah meninggalnya Kiai Ilyas pada 1959, kepemimpinan di Annuqayah diambil alih oleh kolektif para kiai sepuh generasi ketiga.
Di bawah pimpinan KH Moh Amir Ilyas dan dilanjutkan oleh KH Ahmad Basyir AS, pesantren ini tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam tetapi juga sebagai lembaga yang sangat peduli terhadap lingkungan.
Pada tahun 1981, Presiden Soeharto mengakui kontribusi Annuqayah dalam pelestarian lingkungan dengan menganugerahi hadiah Kalpataru.
Sebagai destinasi penting dalam perjalanan Mahfud MD, Pondok Pesantren Annuqayah terus menjadi simbol keberlanjutan tradisi pendidikan dan keagamaan di Pulau Madura.
(shf)
Lihat Juga :