alexametrics

Cerita Pagi

Surau Lubuk Bauk, Tempat Buya Hamka Menimba Ilmu

loading...
Surau Lubuk Bauk, Tempat Buya Hamka Menimba Ilmu
Surau Nagari Lubuk Bauk yang menjadi saksi perjalanan hidup tokoh Islam, Buya Hamka. Foto-foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang
A+ A-
Di Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terdapat sebuah surau tua yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup tokoh Islam, Buya Hamka atau H Abdul Malik Karim Amrullah.

Bangunan surau yang dikenal dengan Surau Lubuk Bauk ini terletak di Jorong Lubuk Bauk, Nagari Batipuh Baruh, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, atau sekitar 6 kilometer dari Kota Padang Panjang, Sumbar.

Meski berada di pinggir jalan raya Kota Padang Panjang menuju Danau Singkarak, Kota Solok, tidak banyak yang mengetahui sejarah yang tersembunyi di Surau Lubuk Bauk ini.

Surau Lubuk Bauk. Foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang


Surau ini dibangun tahun 1896 hingga tahun 1901, di atas tanah wakaf Datuk Bandaro Panjang, oleh para tokoh adat ninik mamak suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku.

Wandi Maizardi Datuak Nan Tuo, tokoh masyarakat sekaligus pengurus Surau Nagari Lubuk Bauk menyebutkan, bahan utama bangunan sepenuhnya terbuat dari kayu surian tanpa paku. Luasnya 154 meter persegi, dengan tinggi kurang lebih 13 meter.

Surau Lubuk Bauk. Foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang


Bangunan terdiri dari tiga lantai. Satu lantai berfungsi sebagai kubah atau menara yang terletak di atas atap gonjong berbentuk segi delapan. Lantainya berupa lantai panggung, dan atap seng.

Menurutnya, karena dibangun di zaman kolonial Belanda, ciri khas ukiran Minangkabau dan cap izin Belanda berupa logo mahkota Kerajaan Belanda, terukir di dinding gonjong surau.

Surau Lubuk Bauk. Foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang


Motif ukiran-ukiran di antaranya berupa ukiran motif kaluak paku, motif ukiran aka cino, dan motif itiak pulang patang, yang terpahat di dinding memiliki filosofi tersendiri.

"Mahkota itu adalah semacam logo Kerajaan Belanda, karena pendirian surau ini pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang pada tingkat bawahnya dikuasai oleh lareh-lareh tuanku lareh. Selain itu juga ada ukiran kaluak paku asam balimbiang, yang filosofinya melambangkan seorang laki-laki dewasa mempunyai peran ganda, yaitu sebagai ayah anak-anaknya dan sebagai mamak bagi kemenakannya yang membimbing agar anak-anak berguna dalam masyarakat, di dalam kaumnya, dalam sukunya bahkan berguna bagi nagari," jelasnya.

Tahun 1925 hingga 1928, Hamka yang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, menjadikan surau ini untuk tempat mengaji dan menimba ilmu.

Surau Lubuk Bauk. Foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang


"Antara tahun 1925-1928 di surau ini pernah menjadi tempat menimba ilmu bagi Buya Hamka yang terkenal itu. Hamka belajar mengaji dan menuntut ilmu agama pada Buya Harun yang kabarnya berasal dari Pariaman. Dan, di surau ini pulalah yang menjadi inspirasi Hamka menulis novelnya yang terkenal, 'Tenggelamnya Kapal van der Wijck," kata Wandi Maizardi Datuak Nan Tuo.

Surau Lubuk Bauk. Foto/MNC Media/Wahyu Sikumbang


Hingga saat ini, Surau Nagari Lubuk Bauk masih digunakan anak-anak untuk menuntut ilmu agama, ilmu beladiri, dan berbagai kegiatan kerohanian lainnya. Setiap harinya, puluhan anak-anak warga sekitar belajar di surau ini. (Baca juga: Buya AR Sutan Mansur, sang Pendobrak dari Maninjau).
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak