Masjid Agung Surakarta, Simbol Historis Dinasti Mataram Islam
Senin, 03 Agustus 2020 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Raja PB X, lanjutnya, dikenal dengan Islamnya serta memiliki jiwa seni yang tinggi. Sementara, pada masa PB VII dan PB VIII Masjid Agung Surakarta sudah mencetak ulama ulama. Termasuk menjadi cikal bakal pesantren di Jawa Tengah. Saat ini, pondok pesantren tersebut di bawah kewenangan Kementerian Agama. Namun dari sejarahnya tetap tidak dapat terpisahkan dari Masjid Agung. Masjid Agung menjadi salah satu tempat pertemuan raja dan rakyatnya secara dekat.
Bangunan Masjid Agung banyak sekali terdapat tiang, dan pintu yang terbuat dari kayu. Konon kayu kayu itu didatangkan dari Wonogiri. Bangunan Masjid Agung Surakarta juga menunjukkan kecerdasan arsitektur zaman dahulu. Dirinya tidak mengetahui siapa arsitek yang membangun Masjid Agung. Namun untuk menaranya kemungkinan dari Belanda. Sebab ukiran tangganya didatangkan dari negara Belanda.
Bangunan Masjid Agung miliki banyak bagian. Seperti pintu tengah penghubung ruang utama ke serambi, emper dan kolam, kuncungan, serambi masjid, bangunan utama, ruang utama, kelir, dan gapura. Di kompleks masjid Agung juga terdapat Istal, yakni sebagai tempat meletakkan kereta kencana dan kuda raja saat Salat Jumat, atau acara resmi keraton yang diselenggarakan Masjid Agung.(Baca juga : Sejarah Rembang, Diambil dari Ritual Membabat Pengantin Pohon Tebu )
Bangunan Masjid Agung banyak sekali terdapat tiang, dan pintu yang terbuat dari kayu. Konon kayu kayu itu didatangkan dari Wonogiri. Bangunan Masjid Agung Surakarta juga menunjukkan kecerdasan arsitektur zaman dahulu. Dirinya tidak mengetahui siapa arsitek yang membangun Masjid Agung. Namun untuk menaranya kemungkinan dari Belanda. Sebab ukiran tangganya didatangkan dari negara Belanda.
Bangunan Masjid Agung miliki banyak bagian. Seperti pintu tengah penghubung ruang utama ke serambi, emper dan kolam, kuncungan, serambi masjid, bangunan utama, ruang utama, kelir, dan gapura. Di kompleks masjid Agung juga terdapat Istal, yakni sebagai tempat meletakkan kereta kencana dan kuda raja saat Salat Jumat, atau acara resmi keraton yang diselenggarakan Masjid Agung.(Baca juga : Sejarah Rembang, Diambil dari Ritual Membabat Pengantin Pohon Tebu )
(nun)
Lihat Juga :