Pidato KH Hasyim Asya'ari Bangkitkan Kekuatan NU saat PKI Mulai Menebar Teror di Madiun
Selasa, 19 September 2023 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
Seiring itu, beredar seruan gelap di tengah masyarakat yang tengah kalut. Seruan itu berbunyi: "Jika ingin selamat, jauhi tokoh agama, Masyumi, dan NU, serta bergabunglah kepada PKI,".
NU tidak tinggal diam. Untuk menghentikan keresahan masyarakat yang semakin meluas, pada 24 Mei 1947, NU memutuskan menggelar Muktamar NU ke-17 di Madiun, yang merupakan pusat kegiatan PKI nasional.
"Karena itu sebagai tandingannya, NU juga menyelenggarakan kegiatan nasional di kota itu (Madiun)," demikian dikutip dari buku yang berjudul "Benturan NU PKI 1948-1965". NU sengaja mengambil lokasi muktamar di Madiun, yang sekaligus untuk memperlihatkan kekuatan umat Islam.
Baca juga: Menteri Investasi Bertemu Warga Pulau Rempang, Ini yang Dibicarakan
Muktamar NU ke-17 Madiun dihadiri hampir seluruh pengurus besar NU. Seluruh elemen Syuriah dan Tanfidziah, hadir. Begitu juga pimpinan konsul atau wilayah dan cabang dari seluruh Indonesia. Acara dibuka oleh khutbah iftitah (pidato pembukaan) Rais Akbar NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Mbah Hasyim Asy'ari yang juga kakek Gus Dur itu, mengingatkan akan bahaya ajaran materialisme historis, atau historis materialisme yang menjadi filsafat ideologi komunisme (PKI).
Yakni, ajaran yang berpandangan tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam gaib. Ajaran yang tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati. Tidak hanya tercela, Mbah Hasyim juga menilai berbahaya. Sebab dapat mempengaruhi penganutnya ke arah kekufuran dan penyimpangan.
"Bahaya besar ini, tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita, dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut," kata Mbah Hasyim seperti dikutip dari Khutbah Iftitah yang disampaikan dalam Muktamar ke-17 NU di Madiun 24 Mei 1947.
NU tidak tinggal diam. Untuk menghentikan keresahan masyarakat yang semakin meluas, pada 24 Mei 1947, NU memutuskan menggelar Muktamar NU ke-17 di Madiun, yang merupakan pusat kegiatan PKI nasional.
"Karena itu sebagai tandingannya, NU juga menyelenggarakan kegiatan nasional di kota itu (Madiun)," demikian dikutip dari buku yang berjudul "Benturan NU PKI 1948-1965". NU sengaja mengambil lokasi muktamar di Madiun, yang sekaligus untuk memperlihatkan kekuatan umat Islam.
Baca juga: Menteri Investasi Bertemu Warga Pulau Rempang, Ini yang Dibicarakan
Muktamar NU ke-17 Madiun dihadiri hampir seluruh pengurus besar NU. Seluruh elemen Syuriah dan Tanfidziah, hadir. Begitu juga pimpinan konsul atau wilayah dan cabang dari seluruh Indonesia. Acara dibuka oleh khutbah iftitah (pidato pembukaan) Rais Akbar NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Mbah Hasyim Asy'ari yang juga kakek Gus Dur itu, mengingatkan akan bahaya ajaran materialisme historis, atau historis materialisme yang menjadi filsafat ideologi komunisme (PKI).
Yakni, ajaran yang berpandangan tiada realitas di dunia ini kecuali benda, tidak ada roh dan tidak ada alam gaib. Ajaran yang tidak mempercayai adanya kehidupan sesudah mati. Tidak hanya tercela, Mbah Hasyim juga menilai berbahaya. Sebab dapat mempengaruhi penganutnya ke arah kekufuran dan penyimpangan.
"Bahaya besar ini, tidak akan terelakkan bila sudah tertanam dalam hati serta jiwa pemuda kita, dan yang demikian itu akan mengubah keyakinan dasar mereka terhadap agama Islam yang kita anut," kata Mbah Hasyim seperti dikutip dari Khutbah Iftitah yang disampaikan dalam Muktamar ke-17 NU di Madiun 24 Mei 1947.
Lihat Juga :