Kisah Pemasangan Bola-bola Kenikmatan Narapidana Sejak Masa Kerajaan Nusantara
Sabtu, 02 September 2023 - 12:00 WIB
loading...
A
A
A
Dalam artikel Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa Kolonial (1971), sejarawan Ong Hok Ham menyebut seksualitas pada masa lalu tidak dipandang sebagai masalah moralitas.
Baca Juga: Ini Alasan Orang Mesir Kuno Tak Mengenal Dewa Kematian, Meskipun Punya Banyak Dewa
“Melainkan kebutuhan manusia sehari-hari yang harus dinikmati setinggi-tingginya dan dihormati,” demikian dikutip dari buku Bukan Tabu Nusantara (2018).
Demi pemujaan seksualitas, kaum lelaki di masa silam rela membedah organ vitalnya, yakni dengan tujuan memuaskan pasangan wanitanya. Tradisi itu dicurigai terjadi di wilayah Asia Tenggara, termasuk di dalamnya Nusantara.
Kitab Kamasutra India juga menyebut hal itu. Antonio Pigafetta (1491-1534) seorang penjelajah Italia menemukan fenomena permak alat kelamin laki-laki terjadi di Kalimantan dan Filipina.
Tahun 1524, Pigafetta menyebut alat kelamin lelaki dipasang sejenis mur atau peniti logam dari timah atau emas. Logam tipis sebesar bulu angsa dan menyerupai taji itu ditembuskan di dekat kepala organ vital.
Proses pembedahan dianggap menyiksa sekaligus menyakitkan.“Jika para pria tidak mau melakukannya maka para perempuan tidak mau berhubungan badan dengan mereka”.
Baca Juga: Cerita Candi Borobudur yang Berulangkali Hendak Dihancurkan
Baca Juga: Ini Alasan Orang Mesir Kuno Tak Mengenal Dewa Kematian, Meskipun Punya Banyak Dewa
“Melainkan kebutuhan manusia sehari-hari yang harus dinikmati setinggi-tingginya dan dihormati,” demikian dikutip dari buku Bukan Tabu Nusantara (2018).
Demi pemujaan seksualitas, kaum lelaki di masa silam rela membedah organ vitalnya, yakni dengan tujuan memuaskan pasangan wanitanya. Tradisi itu dicurigai terjadi di wilayah Asia Tenggara, termasuk di dalamnya Nusantara.
Kitab Kamasutra India juga menyebut hal itu. Antonio Pigafetta (1491-1534) seorang penjelajah Italia menemukan fenomena permak alat kelamin laki-laki terjadi di Kalimantan dan Filipina.
Tahun 1524, Pigafetta menyebut alat kelamin lelaki dipasang sejenis mur atau peniti logam dari timah atau emas. Logam tipis sebesar bulu angsa dan menyerupai taji itu ditembuskan di dekat kepala organ vital.
Proses pembedahan dianggap menyiksa sekaligus menyakitkan.“Jika para pria tidak mau melakukannya maka para perempuan tidak mau berhubungan badan dengan mereka”.
Baca Juga: Cerita Candi Borobudur yang Berulangkali Hendak Dihancurkan
Lihat Juga :