Kisah Pemasangan Bola-bola Kenikmatan Narapidana Sejak Masa Kerajaan Nusantara
Sabtu, 02 September 2023 - 12:00 WIB
loading...
Lingga dengan tiga bola di Candi Sukuh Jawa Tengah. Foto/MPI/Solichan Arif
A
A
A
Fenomena pemasangan aksesoris kelereng kecil atau manik-manik terbuat dari plastik pada organ vital (penis) sejumlah narapidana (napi) laki-laki di Indonesia, ternyata bukan tradisi baru. Namun hal itu sudah ada sejak masa Kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Pemasangan bola-bola plastik itu diketahui bertujuan untuk memuaskan kebutuhan seks pasangan, yakni istri, pacar atau simpanan, setelah sang napi menghirup udara bebas.
“Memang tidak semua napi mau (pemasangan kelereng plastik di organ vital). Tapi saat napi hendak bebas akan ada napi lain yang menawari,” tutur mantan napi Lapas Jawa Timur yang enggan disebut namanya kepada wartawan, Sabtu (2/9/2023).
Baca Juga: Arkeolog Temukan Arca dan Lingga di Situs Srigading Malang
Pemujaan terhadap seksualitas tersebut rupanya sudah menjadi tradisi sejak masa raja-raja di Nusantara. Jejak pemujaan seksualitas beserta maknanya bisa ditemukan dalam catatan kitab. Sebut saja Serat Centhini dan Wirid Hidayat Jati yang begitu populer di Jawa.
Seks mendapatkan pemaknaan makna dan peristilahan, seperti asmaragama, asmaratantra, asmaranala, asmaradana serta katuranggan.Begitu juga di Sulawesi Selatan.
Jejak pemujaan seksualitas ditemukan dalam naskah klasik atau Lontara Bugis Assikalaibineng.Dan bukan hanya dalam teks (catatan kitab). Pemujaan seksualitas juga ditemukan dalam bukti artefak pada relief-relief candi.
Di Candi Sukuh dan Cetho Karanganyar Jawa Tengah, sejumlah relief memperlihatkan lambang-lambang lingga yoni yang mengandung unsur seksualitas.
Pemasangan bola-bola plastik itu diketahui bertujuan untuk memuaskan kebutuhan seks pasangan, yakni istri, pacar atau simpanan, setelah sang napi menghirup udara bebas.
“Memang tidak semua napi mau (pemasangan kelereng plastik di organ vital). Tapi saat napi hendak bebas akan ada napi lain yang menawari,” tutur mantan napi Lapas Jawa Timur yang enggan disebut namanya kepada wartawan, Sabtu (2/9/2023).
Baca Juga: Arkeolog Temukan Arca dan Lingga di Situs Srigading Malang
Pemujaan terhadap seksualitas tersebut rupanya sudah menjadi tradisi sejak masa raja-raja di Nusantara. Jejak pemujaan seksualitas beserta maknanya bisa ditemukan dalam catatan kitab. Sebut saja Serat Centhini dan Wirid Hidayat Jati yang begitu populer di Jawa.
Seks mendapatkan pemaknaan makna dan peristilahan, seperti asmaragama, asmaratantra, asmaranala, asmaradana serta katuranggan.Begitu juga di Sulawesi Selatan.
Jejak pemujaan seksualitas ditemukan dalam naskah klasik atau Lontara Bugis Assikalaibineng.Dan bukan hanya dalam teks (catatan kitab). Pemujaan seksualitas juga ditemukan dalam bukti artefak pada relief-relief candi.
Di Candi Sukuh dan Cetho Karanganyar Jawa Tengah, sejumlah relief memperlihatkan lambang-lambang lingga yoni yang mengandung unsur seksualitas.
Lihat Juga :