Kisah Karamah Syekh Abdul Wahab Rokan Munculkan Ratusan Nasi Bungkus di Besilam
Sabtu, 02 September 2023 - 06:24 WIB
loading...
A
A
A
Setelah Beliau wafat pada tahun 1926 dalam usia 115 tahun, banyak orang yang berziarah dan bernazar ke makamnya.
Bertepatan dengan hari wafat Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan diadakan acara haul besar peringatan wafat Tuan Guru Pertama, yakni pada tanggal 21 Jumadil Awal setiap tahunnya.
Baca Juga: Kisah Cinta Putri Ong Tien dengan Sunan Gunung Jati
Pada momen ini ribuan pengikut dan peziarah dari pelosok Indonesia dan sejumlah negara Asia datang berbondong-bondong ke Besilam. Selain mengikuti acara dzikir bersama, peziarah juga bersilaturahmi dengan penerus Tuan Guru Besilam.
Di saat itulah Kampung Besilam yang biasanya teduh dan tenang mendadak menjadi sibuk karena kedatangan ribuan murid, peziarah, ulama hingga para wisatawan.
Bagi masyarakat Sumatera Utara, Besilam sangat dihormati karena sosok Tuan Syekh Abdul Wahab rokan.
Setelah berpulangnya Tuan Guru Babussalam Syekh Abdul Wahab Rokan, ajaran Tarikat Naqsabandiyah terus diamalkan oleh murid yang menggantikan perannya sebagai penyiar Islam di tanah Langkat.
Keadaan kampung Besilam sangat tenang, berada jauh dari pusat keramaian, dan hanya dikelilingi oleh perkebunan.Sehingga banyak orang memilih Kampung Besilam sebagai tempat tarekat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebuah pesantren pun berdiri kokoh di tengah kampung. Selain itu terdapat dua masjid, salah satu kompleksnya menjadi makam bagi Syekh Abdul Wahab. Satunya lagi merupakan masjid yang digunakan para santri dan warga kampung untuk beribadah.
Keistimewaan Syekh Abdul Wahab adalah ketika sibuk memimpin Tarekat Naqsyabandiyah, ia masih menyempatkan diri menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu.
Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan kepada jamaah di Babussalam.
Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu dan keturunannya.
Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan.
Dalam munajat itu tampak keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah SAW.
Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja.
Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud Al-Wahab Rokan pada tahun 1986.
Bertepatan dengan hari wafat Tuan Guru Syeikh Abdul Wahab Rokan diadakan acara haul besar peringatan wafat Tuan Guru Pertama, yakni pada tanggal 21 Jumadil Awal setiap tahunnya.
Baca Juga: Kisah Cinta Putri Ong Tien dengan Sunan Gunung Jati
Pada momen ini ribuan pengikut dan peziarah dari pelosok Indonesia dan sejumlah negara Asia datang berbondong-bondong ke Besilam. Selain mengikuti acara dzikir bersama, peziarah juga bersilaturahmi dengan penerus Tuan Guru Besilam.
Di saat itulah Kampung Besilam yang biasanya teduh dan tenang mendadak menjadi sibuk karena kedatangan ribuan murid, peziarah, ulama hingga para wisatawan.
Bagi masyarakat Sumatera Utara, Besilam sangat dihormati karena sosok Tuan Syekh Abdul Wahab rokan.
Setelah berpulangnya Tuan Guru Babussalam Syekh Abdul Wahab Rokan, ajaran Tarikat Naqsabandiyah terus diamalkan oleh murid yang menggantikan perannya sebagai penyiar Islam di tanah Langkat.
Keadaan kampung Besilam sangat tenang, berada jauh dari pusat keramaian, dan hanya dikelilingi oleh perkebunan.Sehingga banyak orang memilih Kampung Besilam sebagai tempat tarekat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sebuah pesantren pun berdiri kokoh di tengah kampung. Selain itu terdapat dua masjid, salah satu kompleksnya menjadi makam bagi Syekh Abdul Wahab. Satunya lagi merupakan masjid yang digunakan para santri dan warga kampung untuk beribadah.
Keistimewaan Syekh Abdul Wahab adalah ketika sibuk memimpin Tarekat Naqsyabandiyah, ia masih menyempatkan diri menuliskan pemikiran sufistiknya, baik dalam bentuk khutbah-khutbah, wasiat, maupun syair-syair yang ditulis dalam aksara Arab Melayu.
Tercatat ada dua belas khutbah yang ia tulis dan masih terus diajarkan kepada jamaah di Babussalam.
Wasiat atau yang lebih dikenal dengan nama “44 Wasiat Tuan Guru” adalah kumpulan pesan-pesan Syekh Abdul Wahab kepada seluruh jamaah tarekat, khususnya kepada anak cucu dan keturunannya.
Karya tulis Syekh Abdul Wahab dalam bentuk syair, terbagi pada tiga bagian yakni Munajat, Syair Burung Garuda dan Syair Sindiran. Syair Munajat yang berisi pujian dan doa kepada Allah, sampai hari ini masih terus dilantunkan di Madrasah Besar Babussalam oleh setiap muazzin sebelum azan dikumandangkan.
Dalam munajat itu tampak keindahan syair Syekh Abdul Wahab dalam menyusun secara lengkap silsilah Tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya secara turun temurun yang terus bersambung kepada Rasulullah SAW.
Sedangkan Syair Burung Garuda berisi kumpulan petuah dan nasehat yang diperuntukkan khusus bagi anak dan remaja.
Sayangnya, sampai saat ini Syair Burung Garuda tidak diperoleh naskahnya lagi. Sementara naskah asli Syair Sindiran telah diedit dan dicetak ulang dalam Aksara Melayu (Indonesia) oleh Syekh Haji Tajudin bin Syekh Muhammad Daud Al-Wahab Rokan pada tahun 1986.
(ams)
Lihat Juga :