Miris! Telaga Mengering Akibat Kemarau, Warga Gunungkidul Jual Ternak untuk Beli Air
Minggu, 06 Agustus 2023 - 21:53 WIB
loading...
A
A
A
Kurangnya pemahaman masyarakat dalam pelestarian telaga, menurutnya memicu penurunan fungsi telaga. "Sekarang banyak telaga yang kering. Jikapun ada maka airnya tidak bisa dimanfaatkan lagi, karena cenderung kotor dan berlumpur," ungkap Padmo.
Padmo menyebut, jumlah telaga di Kabupaten Gunungkidul, ada sekitar 400 buah. Daya simpannya telah mengalami penurunan karena berbagai faktor, dan yang paling banyak akibat adanya pembangunan telaga itu sendiri.
Dia mengatakan, jika dibanding zaman dahulu, telaga-telaga yang ada di Kabupaten Gunungkidul, saat ini lebih cepat mengering. Pasalnya banyak terjadi sedimentasi, pengerukan, semenisasi, dan terbukanya luweng (goa vertikal) hingga hilangnya pohon pelindung.
Lebih lanjut Padmo mengatakan, niat pemerintah memang baik ingin menjaga telaga-telaga mereka dengan melakukan rehabilitasi, yaitu dengan melakukan semenisasi dinding telaga. Namun ternyata semenisasi tersebut menjadi bumerang karena justru mengakibatkan telaga cepat mengering. "Dinding beton ternyata berdampak sekali," tambahnya.
Baca juga: Viral! Prajurit Kodam I/Bukit Barisan Geruduk Satreskrim Polrestabes Medan, Desak Penangguhan Penahanan
Kondisi kekeringan ini, memaksa para peternak untuk membeli air agar tetap dapat mempertahankan ternaknya. Seperti yang dilakukan oleh Wanto, warga Padukuhan Temuireng, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Dia sudah tiga bulan ini terpaksa membeli air bersih, dengan harga Rp150 ribu untuk satu tangki ukuran 5.000 liter. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk ternak. "Kalau saya sudah habis enam tankgi. Tetangga ada yang habis 10 tangki, ya karena ternaknya banyak," ujarnya.
Padmo menyebut, jumlah telaga di Kabupaten Gunungkidul, ada sekitar 400 buah. Daya simpannya telah mengalami penurunan karena berbagai faktor, dan yang paling banyak akibat adanya pembangunan telaga itu sendiri.
Dia mengatakan, jika dibanding zaman dahulu, telaga-telaga yang ada di Kabupaten Gunungkidul, saat ini lebih cepat mengering. Pasalnya banyak terjadi sedimentasi, pengerukan, semenisasi, dan terbukanya luweng (goa vertikal) hingga hilangnya pohon pelindung.
Lebih lanjut Padmo mengatakan, niat pemerintah memang baik ingin menjaga telaga-telaga mereka dengan melakukan rehabilitasi, yaitu dengan melakukan semenisasi dinding telaga. Namun ternyata semenisasi tersebut menjadi bumerang karena justru mengakibatkan telaga cepat mengering. "Dinding beton ternyata berdampak sekali," tambahnya.
Baca juga: Viral! Prajurit Kodam I/Bukit Barisan Geruduk Satreskrim Polrestabes Medan, Desak Penangguhan Penahanan
Kondisi kekeringan ini, memaksa para peternak untuk membeli air agar tetap dapat mempertahankan ternaknya. Seperti yang dilakukan oleh Wanto, warga Padukuhan Temuireng, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Dia sudah tiga bulan ini terpaksa membeli air bersih, dengan harga Rp150 ribu untuk satu tangki ukuran 5.000 liter. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk ternak. "Kalau saya sudah habis enam tankgi. Tetangga ada yang habis 10 tangki, ya karena ternaknya banyak," ujarnya.
Lihat Juga :