Kisah Kesaktian Bajulgiling, Pusaka Andalan Jaka Tingkir yang Bisa Tundukkan Puluhan Buaya
Selasa, 04 Juli 2023 - 08:16 WIB
loading...
A
A
A
Negeri-negeri di Jawa Timur tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan, yang saat itu dipimpin oleh Bupati Surabaya, Panji Wiryakrama. Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton, menjadi mediator pertemuan antara Adiwijaya Raja Pajang di atas negeri yang mereka pimpin.
Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya. Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan, dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut. Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena dia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
Lalu beberapa tahun kemudian Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang telah diberikannya tanah perdikan di Alas Mentaok, mulai melakukan pemberontakan terhadap Pajang. Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton yang merupakan putri bungsu Adiwijaya.
Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang, karena diduga ikut membantu anaknya. Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang, dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Baca juga: Tawuran Warga Dua Desa Pecah, 2 Tewas dan 1 Luka Parah
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Karena konon Sutawijaya mendapat bantuan dari Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa Laut Selatan. Dengan sekoyong-konyong Gunung Merapi meletus akibatnya ratusan laskar Pajang tewas terkena letusan gunung tersebut.
Selanjutnya diceritakan dalam Serat Babad Tanah Jawi. Sultan Adiwijaya, terseret dalam kekacauan itu. Sehingga pasukannya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mataram dan dengan terpaksa Adiwijaya melarikan diri. Adiwijaya ingin berdoa di Makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka.
Raja Pajang ini bahkan tidak mampu membukanya, sehingga dia berlutut saja di luar dan membuka ikat pinggang Kiai Bajulgiling. Juru kunci memberikan penjelasan yang sangat buruk tentang kejadian itu. Bahwa dia tidak lagi dizinkan menjadi raja. Hal ini amat mengguncangkan jiwa Adiwijaya.
Pada malam hari dia tertidur dalam bale kencur yang dikelilingi air, yang sangat menyegarkan. Esok harinya perjalanan dilanjutkan, tetapi ikat pinggang Bajulgiling tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembakat. Sehingga gajah yang menjadi tunggangannya menjadi liar dan membuat Adiwijaya terjatuh. Setelah itu dia dinaikkan di atas tandu, begitulah perjalanan pulang ke Pajang amat lambat dan raja duduk terguncang-guncang di atas tandu.
Beberapa abdi dalem yang menolong raja saat jatuh dari gajah, segera mengetahui, mengapa Sultan tidak bisa lagi mengendalikan gajah yang tiba-tiba menjadi galak, karena tidak lagi adanya ikat pinggang azimat dari Kiai Buyut Banyubiru di pinggang sang raja. Mereka ingat, Sultan melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan meletakkan di sampingnya saat berdoa di depan pintu makam Sunan Tembayat.
Baca juga: Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Setuju Pesanten Al-Zaytun Dibubarkan
Hilangnya ikat pinggang Bajulgiling terdengar oleh telik sandi Mataram. Lalu sesampainya di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman yang menyerang dengan memukul dada Adiwijaya. Karena tidak lagi mengenakan ikat pinggang Ki Bajulgiling membuat sakit sang Raja Pajang ini bertambah parah.
Dalam keadaan sakit Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.
Adiwijaya akhirnya meninggal dunia pada tahun 1582. Dia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya Banyak kisah tentang hilangnya dan keberadaan ikat pinggang bertimang Kiai Bajulgiling yang bertuah itu.
Ada sebagian kisah menceritakan, ikat pinggang yang tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembayat itu diambil dan disimpan oleh juru kunci makam. Tetapi ada pula yang mempercayai ikat pinggang itu hilang secara gaib, yang hilangnya jimat itu juga diketahui dan disadari oleh Sultan.
Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya. Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan, dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut. Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena dia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
Lalu beberapa tahun kemudian Sutawijaya atau Panembahan Senopati yang telah diberikannya tanah perdikan di Alas Mentaok, mulai melakukan pemberontakan terhadap Pajang. Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton yang merupakan putri bungsu Adiwijaya.
Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang, karena diduga ikut membantu anaknya. Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang, dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Baca juga: Tawuran Warga Dua Desa Pecah, 2 Tewas dan 1 Luka Parah
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Karena konon Sutawijaya mendapat bantuan dari Kanjeng Ratu Kidul sang penguasa Laut Selatan. Dengan sekoyong-konyong Gunung Merapi meletus akibatnya ratusan laskar Pajang tewas terkena letusan gunung tersebut.
Selanjutnya diceritakan dalam Serat Babad Tanah Jawi. Sultan Adiwijaya, terseret dalam kekacauan itu. Sehingga pasukannya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mataram dan dengan terpaksa Adiwijaya melarikan diri. Adiwijaya ingin berdoa di Makam Tembayat, tetapi pintu makam tidak dapat dibuka.
Raja Pajang ini bahkan tidak mampu membukanya, sehingga dia berlutut saja di luar dan membuka ikat pinggang Kiai Bajulgiling. Juru kunci memberikan penjelasan yang sangat buruk tentang kejadian itu. Bahwa dia tidak lagi dizinkan menjadi raja. Hal ini amat mengguncangkan jiwa Adiwijaya.
Pada malam hari dia tertidur dalam bale kencur yang dikelilingi air, yang sangat menyegarkan. Esok harinya perjalanan dilanjutkan, tetapi ikat pinggang Bajulgiling tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembakat. Sehingga gajah yang menjadi tunggangannya menjadi liar dan membuat Adiwijaya terjatuh. Setelah itu dia dinaikkan di atas tandu, begitulah perjalanan pulang ke Pajang amat lambat dan raja duduk terguncang-guncang di atas tandu.
Beberapa abdi dalem yang menolong raja saat jatuh dari gajah, segera mengetahui, mengapa Sultan tidak bisa lagi mengendalikan gajah yang tiba-tiba menjadi galak, karena tidak lagi adanya ikat pinggang azimat dari Kiai Buyut Banyubiru di pinggang sang raja. Mereka ingat, Sultan melepaskan ikat pinggang itu dari tubuhnya dan meletakkan di sampingnya saat berdoa di depan pintu makam Sunan Tembayat.
Baca juga: Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Setuju Pesanten Al-Zaytun Dibubarkan
Hilangnya ikat pinggang Bajulgiling terdengar oleh telik sandi Mataram. Lalu sesampainya di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman yang menyerang dengan memukul dada Adiwijaya. Karena tidak lagi mengenakan ikat pinggang Ki Bajulgiling membuat sakit sang Raja Pajang ini bertambah parah.
Dalam keadaan sakit Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.
Adiwijaya akhirnya meninggal dunia pada tahun 1582. Dia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya Banyak kisah tentang hilangnya dan keberadaan ikat pinggang bertimang Kiai Bajulgiling yang bertuah itu.
Ada sebagian kisah menceritakan, ikat pinggang yang tertinggal di depan pintu makam Sunan Tembayat itu diambil dan disimpan oleh juru kunci makam. Tetapi ada pula yang mempercayai ikat pinggang itu hilang secara gaib, yang hilangnya jimat itu juga diketahui dan disadari oleh Sultan.
(eyt)
Lihat Juga :