Misteri Pipa Bawah Tanah di Ponorogo Peninggalan Raja Airlangga
Kamis, 15 Juni 2023 - 07:28 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, bagian timur disebut sebagai Jenggala, yang pada akhirnya juga dikuasai oleh Panjalu. Hanya ada tiga prasasti yang ditemukan di wilayah Madiun, terkait dengan keberadaan Kerajaan Kahuripan, dan Panjalu.
Penemuan tiga prasasti tersebut, tertulis dalam catatan Residen Madiun, Lucien Adam. Catatan Residen Madiun ini, tertuang dalam buku berjudul "Antara Lawu dan Wilis: Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam" terjemahan Nunus Supardi, dan Peter Carey Christopher Reinhart.
Benda bersejarah yang pertama ditemukan adalah, Sirah Keteng yang masuk wilayah Desa Bedingin, yakni salah satu desa di bagian selatan Kabupaten Ponorogo. Prasasti tersebut, berangka tahun 1026.
Baca juga: Viral, Mobil Patwal Polisi Tabrak Pemotor di Makassar
Sirah Keteng yang berbahan batu andesit tersebut, sempat diletakkan di halaman kantor Bupati Madiun. Selanjutnya dipindahkan ke museum. Batu itu adalah bagian dari sebuah monumen, yang mungkin merupakan sebuah gerbang dengan kepala Banaspati besar dan berada di tempat yang indah untuk dilihat.
Ketika ditemukan Sirah Keteng pada 1925, juga ditemukan sebuah sumur berbentuk tabung berdiameter sekitar satu meter. Sambungan sumur ini, ditemukan lagi pada jarak 500 meter di Desa Sambilawang.
Ada yang menyebutkan, saluran pipa di bawah tanah tersebut, memanjang hingga wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada batu kepala Banaspati, ditulis kata pujian untuk Raja Jayawarsya, yang mungkin adalah Raja Kediri, penyembah Dewa Wisnu.
Tulisan tersebut juga berisi tentang bantuan untuk atitih, yang kemungkinan merupakan gelar untuk seorang pejabat administrasi yang berada di wilayah tersebut, bernama Marjoyo.
Penemuan tiga prasasti tersebut, tertulis dalam catatan Residen Madiun, Lucien Adam. Catatan Residen Madiun ini, tertuang dalam buku berjudul "Antara Lawu dan Wilis: Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam" terjemahan Nunus Supardi, dan Peter Carey Christopher Reinhart.
Benda bersejarah yang pertama ditemukan adalah, Sirah Keteng yang masuk wilayah Desa Bedingin, yakni salah satu desa di bagian selatan Kabupaten Ponorogo. Prasasti tersebut, berangka tahun 1026.
Baca juga: Viral, Mobil Patwal Polisi Tabrak Pemotor di Makassar
Sirah Keteng yang berbahan batu andesit tersebut, sempat diletakkan di halaman kantor Bupati Madiun. Selanjutnya dipindahkan ke museum. Batu itu adalah bagian dari sebuah monumen, yang mungkin merupakan sebuah gerbang dengan kepala Banaspati besar dan berada di tempat yang indah untuk dilihat.
Ketika ditemukan Sirah Keteng pada 1925, juga ditemukan sebuah sumur berbentuk tabung berdiameter sekitar satu meter. Sambungan sumur ini, ditemukan lagi pada jarak 500 meter di Desa Sambilawang.
Ada yang menyebutkan, saluran pipa di bawah tanah tersebut, memanjang hingga wilayah Kabupaten Trenggalek. Pada batu kepala Banaspati, ditulis kata pujian untuk Raja Jayawarsya, yang mungkin adalah Raja Kediri, penyembah Dewa Wisnu.
Tulisan tersebut juga berisi tentang bantuan untuk atitih, yang kemungkinan merupakan gelar untuk seorang pejabat administrasi yang berada di wilayah tersebut, bernama Marjoyo.
Lihat Juga :