Jalan Berliku Dandim Semarang, Pernah Kernet Angkot Semasa SMP hingga SMA
Jum'at, 24 Juli 2020 - 17:49 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga: 242 Kadet Unhan Digembleng Sebulan di Akademi Militer Magelang )
Ia menuturkan, ketika itu dirinya tinggal di Perumnas Banyumanik. Anak keempat dari lima bersaudara ini sekolah di SD Merbau lulus pada tahun 1988, kemudian SMP 21 lulus tahun 1991 dan SMA 9 Semarang lulus pada tahun 1994, dan selanjutnya menjalani pendidikan di Akademi Militer Magelang.
Menurutnya, masa-masa sekolah inilah dia rasakan sangat berkesan dan menempa karena harus melakoninya dengan penuh perjuangan, mengingat saat itu kehidupan keluarganya dalam kondisi yang relatif pas-pasan, bahkan kekurangan, namun sedikitpun tak pernah melunturkan semangat belajarnya dan mempersiapkan diri meraih cita-citanya.
“Waktu itu teman-teman sudah pada bersepeda, kamipun tak pernah merasakannya. bahkan uang jajan pun saya tidak ada. Namun kondisi itu tidak membuat saya kecil hati, malah memacu saya untuk bangkit dengan belajar penuh semangat sehingga dari kondisi demikian justru membentuk mental yang kuat dan tidak putus asa,” ungkapnya.
Hal itu dibuktikannya semenjak duduk di bangku kelas 2 SMP hingga SMA, Yudhi tidak merasa malu untuk menjadi kernet angkot guna membantu kedua orang tuanya. “Saya pernah ngernet angkutan umum (angkot) trayek Jatingaleh-Banyumanik, sejak kelas 2 SMP sampai SMA. Uang hasil dari ngernet saya gunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarga dan sebagian ditabung ke dalam celengan Jago (terbuat tanah liat),” ungkap putra pasangan Alm. Nanang Sanusi dan Sri Sayekti.
Mantan Dandim 0801 Pacitan dan Danyon 527 Brigif 16/WY Lumajang itu menambahkan, selain itu, uang hasil ngernet tersebut digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Namun demikian, pernah suatu ketika uang tersebut ia berikan kepada ibundanya untuk membeli baju, sesuatu yang sungguh sangat istimewa saat itu untuk membeli baju baru.
“Sekali waktu setelah (uang tabungan) terkumpul saya berikan kepada ibu untuk membelikan baju baru untuk ibu,” ujarnya.
Ia menuturkan, ketika itu dirinya tinggal di Perumnas Banyumanik. Anak keempat dari lima bersaudara ini sekolah di SD Merbau lulus pada tahun 1988, kemudian SMP 21 lulus tahun 1991 dan SMA 9 Semarang lulus pada tahun 1994, dan selanjutnya menjalani pendidikan di Akademi Militer Magelang.
Menurutnya, masa-masa sekolah inilah dia rasakan sangat berkesan dan menempa karena harus melakoninya dengan penuh perjuangan, mengingat saat itu kehidupan keluarganya dalam kondisi yang relatif pas-pasan, bahkan kekurangan, namun sedikitpun tak pernah melunturkan semangat belajarnya dan mempersiapkan diri meraih cita-citanya.
“Waktu itu teman-teman sudah pada bersepeda, kamipun tak pernah merasakannya. bahkan uang jajan pun saya tidak ada. Namun kondisi itu tidak membuat saya kecil hati, malah memacu saya untuk bangkit dengan belajar penuh semangat sehingga dari kondisi demikian justru membentuk mental yang kuat dan tidak putus asa,” ungkapnya.
Hal itu dibuktikannya semenjak duduk di bangku kelas 2 SMP hingga SMA, Yudhi tidak merasa malu untuk menjadi kernet angkot guna membantu kedua orang tuanya. “Saya pernah ngernet angkutan umum (angkot) trayek Jatingaleh-Banyumanik, sejak kelas 2 SMP sampai SMA. Uang hasil dari ngernet saya gunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarga dan sebagian ditabung ke dalam celengan Jago (terbuat tanah liat),” ungkap putra pasangan Alm. Nanang Sanusi dan Sri Sayekti.
Mantan Dandim 0801 Pacitan dan Danyon 527 Brigif 16/WY Lumajang itu menambahkan, selain itu, uang hasil ngernet tersebut digunakan juga untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Namun demikian, pernah suatu ketika uang tersebut ia berikan kepada ibundanya untuk membeli baju, sesuatu yang sungguh sangat istimewa saat itu untuk membeli baju baru.
“Sekali waktu setelah (uang tabungan) terkumpul saya berikan kepada ibu untuk membelikan baju baru untuk ibu,” ujarnya.
Lihat Juga :