Cerita Perang Diponegoro dan Pengkhianatan Para Bupati yang Membelot ke Belanda
Jum'at, 12 Mei 2023 - 09:36 WIB
loading...
A
A
A
Belum lagi kewajiban menyetor upeti sapi, yakni masing-masing 230 ekor sapi setiap tahunnya. Soal urusan administrasi kadipaten mancanegara juga termasuk yang dikeluhkan.
Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret tidak suka dengan Bupati Wedana Madiun yang menyerahkan semua tugas negara kepada Bupati Purwodadi Ronodirjo, pamannya.
Sementara ia sendiri asyik sibuk dengan kesenangannya menggambar, pekerjaan kayu, serta urusan rumah tangga. Di sisi lain, Bupati Wedana Madiun juga dinilai pernah bersikap pengecut, yakni lari dari pertempuran saat melawan Mangunnegoro, pendukung Diponegoro.
“Hal ini menyebabkan bupati wedana sebenarnya bertanggung jawab terhadap semua ketidaknyamanan yang harus dialami oleh para bupati dari waktu ke waktu”.
Jenderal De Kock mengatasi persoalan itu dengan tenang. Langkah untuk meredam ancaman kerusuhan di Tulungagung, langsung diambil. Hal itu mengingat Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret dinilai memiliki kesetiaan kepada kolonial Belanda.
Baca: Kisah Pilu 2 Istri Ronggolawe, Pilih Mati dengan Keris di Depan Jasad Suami yang Dicap sebagai Pemberontak Majapahit.
Bupati Wedana Madiun rela mengorbankan otoritasnya demi mengakhiri perselisihan dengan Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret. Bupati Purwodadi kemudian dimutasi menjadi tumenggung di Kepatihan Yogyakarta.
Ancaman kerusuhan di Tulungagung yang sempat dikhawatirkan itu pun tidak pernah terjadi. “Monconegoro bagian timur kembali mendapatkan kedamaiannya,” demikian dikutip dari De Java-oorlog van 1825-1830.
Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret tidak suka dengan Bupati Wedana Madiun yang menyerahkan semua tugas negara kepada Bupati Purwodadi Ronodirjo, pamannya.
Sementara ia sendiri asyik sibuk dengan kesenangannya menggambar, pekerjaan kayu, serta urusan rumah tangga. Di sisi lain, Bupati Wedana Madiun juga dinilai pernah bersikap pengecut, yakni lari dari pertempuran saat melawan Mangunnegoro, pendukung Diponegoro.
“Hal ini menyebabkan bupati wedana sebenarnya bertanggung jawab terhadap semua ketidaknyamanan yang harus dialami oleh para bupati dari waktu ke waktu”.
Jenderal De Kock mengatasi persoalan itu dengan tenang. Langkah untuk meredam ancaman kerusuhan di Tulungagung, langsung diambil. Hal itu mengingat Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret dinilai memiliki kesetiaan kepada kolonial Belanda.
Baca: Kisah Pilu 2 Istri Ronggolawe, Pilih Mati dengan Keris di Depan Jasad Suami yang Dicap sebagai Pemberontak Majapahit.
Bupati Wedana Madiun rela mengorbankan otoritasnya demi mengakhiri perselisihan dengan Bupati Ngrowo dan Bupati Kalangbret. Bupati Purwodadi kemudian dimutasi menjadi tumenggung di Kepatihan Yogyakarta.
Ancaman kerusuhan di Tulungagung yang sempat dikhawatirkan itu pun tidak pernah terjadi. “Monconegoro bagian timur kembali mendapatkan kedamaiannya,” demikian dikutip dari De Java-oorlog van 1825-1830.
(nag)
Lihat Juga :