Waspadai Lonjakan Kasus COVID-19 di Luwu Raya
Selasa, 21 Juli 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
"Begitu banyak volunter dari wilayah episentrum Makassar dan kota lain, yang akan melewati beberapa kabupaten/kota menuju pusat bencana dan tentu akan berinteraksi dengan banyak orang yang terkadang dengan protokol kesehatan yang terbatas," urai dia.
Bencana banjir bandang pun memaksa ribuan warga mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Laporan tim relawan menunjukkan tenda-tenda pengungsian sementara sangat terbatas. Kondisi padat dan protokol kesehatan seperti jaga jarak sulit dilakukan. Belum lagi, fasilitas umum kebersihan untuk sarana air bersih mandi, cuci dan kakus (MCK) sangat minim.
"Evakuasi korban banjir yang dilakukan oleh petugas maupun warga menunjukkan penanganan yang bersifat darurat dengan alat pelindung diri (APD) sangat minim. Dengan jumlah korban yang semakin banyak disertai penanganan/evakuasi korban seadanya, maka potensi besar terjadinya transmisi penyakit termasuk COVID-19 sangat besar," sambungnya.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas ini tak menampik, kondisi bencana banjir bandang tersebut mengalihkan perhatian petugas. Bahkan beberapa petugas sendiri dinilai telah menjadi korban.
Makanya, beberapa pekan kedepan potensi peningkatan kasus terlapor bukan tidak mungkin akan mengalami tren peningkatan. "Analisis kerentanan kebencanaan menunjukkan potensi ledakan beberapa masalah sosial dan kesehatan masyarakat perlu diwaspadai," tandas Ridwan.
Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulsel inipun berharap pemerintah setempat segera bangkit dan menata kembali kotanya. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan provinsi serta pemerintah daerah tetangga.
Bencana banjir bandang pun memaksa ribuan warga mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Laporan tim relawan menunjukkan tenda-tenda pengungsian sementara sangat terbatas. Kondisi padat dan protokol kesehatan seperti jaga jarak sulit dilakukan. Belum lagi, fasilitas umum kebersihan untuk sarana air bersih mandi, cuci dan kakus (MCK) sangat minim.
"Evakuasi korban banjir yang dilakukan oleh petugas maupun warga menunjukkan penanganan yang bersifat darurat dengan alat pelindung diri (APD) sangat minim. Dengan jumlah korban yang semakin banyak disertai penanganan/evakuasi korban seadanya, maka potensi besar terjadinya transmisi penyakit termasuk COVID-19 sangat besar," sambungnya.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas ini tak menampik, kondisi bencana banjir bandang tersebut mengalihkan perhatian petugas. Bahkan beberapa petugas sendiri dinilai telah menjadi korban.
Makanya, beberapa pekan kedepan potensi peningkatan kasus terlapor bukan tidak mungkin akan mengalami tren peningkatan. "Analisis kerentanan kebencanaan menunjukkan potensi ledakan beberapa masalah sosial dan kesehatan masyarakat perlu diwaspadai," tandas Ridwan.
Ketua Tim Konsultan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulsel inipun berharap pemerintah setempat segera bangkit dan menata kembali kotanya. Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat dan provinsi serta pemerintah daerah tetangga.
Lihat Juga :