Kisah Makam Pengikut Kerajaan Majapahit di Kompleks Pemakaman Islam Ki Ageng Gribig
Sabtu, 25 Maret 2023 - 12:38 WIB
loading...
A
A
A
"Nisan yang bergambar kalau ada yang menyebut surya Majapahit, ada yang menyebutkan kalacakra atau apa pun, intinya lisan tersebut nisan yang si beliau ini hidup pada masa era Raden Patah atau Kesultanan Demak," kata Devi Nur Hadianto.
Baca juga: Haul Ki Ageng Gribig, Penasihat Sultan Agung dan Pejuang Islam di Tanah Jawa
Selain makam yang identik dengan pengikut Kerjaan Majapahit, beberapa baru nisan diidentifikasikan sebagai dari era abad 17, 18, hingga 19, termasuk batu nisan dari Bupati Malang pertama, dan beberapa bupati pertama lain di wilayah Jawa Timur.
"Jejak meliputi satu bentuk nisan, terus gaya atau model pemakaman, yang ciri khas banget di tahun 1700-an sampai 1800-an," katanya.
Total ada sekitar kurang lebih 150 makam dengan nisan yang berhasil dilacak dan terbaca. Sementara masih ada ratusan nisan yang berbahasa aksara Jawa kuno, bahasa Arab, hingga nisan tanpa tulisan yang belum berhasil dilacak keberadaannya.
Nisan-nisan itu tersebar dari sisi barat ke timur hingga membentang ke arah selatan sesuai konsep tata letak pemakaman islam.
"Kurang lebih (ada sekitar) 300 400 (makam dengan batu nisan) ada, dilihat dari sisi baratnya Ki Ageng Gribig, di depan ada santrinya, sisi belakang penuh nisan dulu, belum sebelah baratnya sampai timur, sesuai dengan tata konsep makam Islam," terangnya.
Baca juga: Haul Ki Ageng Gribig, Penasihat Sultan Agung dan Pejuang Islam di Tanah Jawa
Selain makam yang identik dengan pengikut Kerjaan Majapahit, beberapa baru nisan diidentifikasikan sebagai dari era abad 17, 18, hingga 19, termasuk batu nisan dari Bupati Malang pertama, dan beberapa bupati pertama lain di wilayah Jawa Timur.
"Jejak meliputi satu bentuk nisan, terus gaya atau model pemakaman, yang ciri khas banget di tahun 1700-an sampai 1800-an," katanya.
Total ada sekitar kurang lebih 150 makam dengan nisan yang berhasil dilacak dan terbaca. Sementara masih ada ratusan nisan yang berbahasa aksara Jawa kuno, bahasa Arab, hingga nisan tanpa tulisan yang belum berhasil dilacak keberadaannya.
Nisan-nisan itu tersebar dari sisi barat ke timur hingga membentang ke arah selatan sesuai konsep tata letak pemakaman islam.
"Kurang lebih (ada sekitar) 300 400 (makam dengan batu nisan) ada, dilihat dari sisi baratnya Ki Ageng Gribig, di depan ada santrinya, sisi belakang penuh nisan dulu, belum sebelah baratnya sampai timur, sesuai dengan tata konsep makam Islam," terangnya.
Lihat Juga :