Dibangun di Tengah Kecamuk Perang Diponegoro, Masjid Damarjati Salatiga Jadi Persinggahan Musafir
Sabtu, 25 Maret 2023 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Supaya tak dicurigai Belanda, kedua tokoh tersebut membuka perkampungan baru bersama laskarnya. Kiai Sirojudin membuka perkampungan di Dukuh Krajan, sementara Kiai Ronosentiko babat alas di daerah Bancaan, sekitar tiga kilometer jauhnya dari Krajan.
Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Hal itu terpaksa dilakukan, karena dia berserta Kiai Ronosentiko merupakan sosok yang diburu Belanda. Di Salatiga, kedua ulama tersebut ditugasi untuk memata-matai Belanda. Salatiga sejak dulu memang dikenal sebagai basis militer Belanda, di Jawa Tengah.
Mengingat dirinya juga sebagai ulama, Kiai Sirojudin dengan dibantu laskarnya membangun sebuah langgar di perkampungan yang dibukanya. Langgar yang kelak menjadi masjid tersebut, oleh Kiai Sirojudin dijadikan sebagai pusat segala aktivitas.
Baca juga: Makassar Mencekam! 2 Kelompok Pemuda Saling Serang Pakai Panah dan Batu
Tidak hanya sebagai tempat untuk menyusun strategi melawan Belanda, masjid ini juga digunakan untuk melakukan syiar Islam kepada masyarakat. Dituturkan Yahya, saat itu bangunan langgar masih sangat sederhana, dan luasnya hanya 6x6 meter persegi. Dindingnya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari sirap.
"Mulai saat itu, syiar Islam di Salatiga tersebar luas dan terus berkembang. Dan saat wafat jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga setempat menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati," ucapnya.
Sejak berdiri hingga sekarang, masjid ini sudah dua kali mengalami pemugaran. Renovasi kali pertama dilakukan pada tahun 1987. Kemudian renovasi kedua dilaksanakan pada 2007.
Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Hal itu terpaksa dilakukan, karena dia berserta Kiai Ronosentiko merupakan sosok yang diburu Belanda. Di Salatiga, kedua ulama tersebut ditugasi untuk memata-matai Belanda. Salatiga sejak dulu memang dikenal sebagai basis militer Belanda, di Jawa Tengah.
Mengingat dirinya juga sebagai ulama, Kiai Sirojudin dengan dibantu laskarnya membangun sebuah langgar di perkampungan yang dibukanya. Langgar yang kelak menjadi masjid tersebut, oleh Kiai Sirojudin dijadikan sebagai pusat segala aktivitas.
Baca juga: Makassar Mencekam! 2 Kelompok Pemuda Saling Serang Pakai Panah dan Batu
Tidak hanya sebagai tempat untuk menyusun strategi melawan Belanda, masjid ini juga digunakan untuk melakukan syiar Islam kepada masyarakat. Dituturkan Yahya, saat itu bangunan langgar masih sangat sederhana, dan luasnya hanya 6x6 meter persegi. Dindingnya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari sirap.
"Mulai saat itu, syiar Islam di Salatiga tersebar luas dan terus berkembang. Dan saat wafat jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga setempat menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati," ucapnya.
Sejak berdiri hingga sekarang, masjid ini sudah dua kali mengalami pemugaran. Renovasi kali pertama dilakukan pada tahun 1987. Kemudian renovasi kedua dilaksanakan pada 2007.
(eyt)
Lihat Juga :