Asal Usul Nama dan Sejarah Probolinggo, Wilayah yang dijadikan Perang Paregreg
Rabu, 08 Maret 2023 - 11:03 WIB
loading...
A
A
A
Banger kemudian menjadi wilayah perang saudara antara Bre Wirabumi (Blambangan) dengan Prabu Wikramawardhana (Majapahit) yang dikenal dengan “Perang Paregreg”.
Beralih pada masa penjajahan yakni pada tahun 1743, seluruh daerah di timur pasuruan kemudian dikuasai oleh VOC. Untuk menguasai wilayah ini, langkah pertama yang dilakukan oleh VOC adalah mengangkat Kyai Djojolelono sebagai Bupati Pertama di Banger dengan gelar Tumenggung.
Kyai Djojolelono merupakan putra dari Boen Djolodrijo (Kiem Boen), Patih Pasuruan. Patihnya Bupati Pasuruan Tumenggung Wironagoro (Untung Suropati), Kompeni (VOC) terkenal dengan politik adu dombanya.
Saat menjabat sebagai Bupati, dirinya dipengaruhi oleh VOC untuk menangkap atau membunuh Panembahan Semeru, Patih Tengger, keturunan Untung Suropati yang turut memusuhi kompeni. Panembahan Semeru pun akhirnya terbunuh oleh Kyai Djojolelono.
Menyadari akan kekhilafannya dan pengaruh tipu daya kompeni. Pada tahun 1768 Kyai Djojolelono pun menyingkir dari istana dan meninggalkan jabatannya sebagai seorang Bupati serta berbalik arah dengan menentang dan melawan kompeni.
Baca juga : Asal Usul dan Sejarah Penyematan Nama Mojokerto, Daerah Hasil Perebutan 2 Kesultanan
Beralih pada masa penjajahan yakni pada tahun 1743, seluruh daerah di timur pasuruan kemudian dikuasai oleh VOC. Untuk menguasai wilayah ini, langkah pertama yang dilakukan oleh VOC adalah mengangkat Kyai Djojolelono sebagai Bupati Pertama di Banger dengan gelar Tumenggung.
Kyai Djojolelono merupakan putra dari Boen Djolodrijo (Kiem Boen), Patih Pasuruan. Patihnya Bupati Pasuruan Tumenggung Wironagoro (Untung Suropati), Kompeni (VOC) terkenal dengan politik adu dombanya.
Saat menjabat sebagai Bupati, dirinya dipengaruhi oleh VOC untuk menangkap atau membunuh Panembahan Semeru, Patih Tengger, keturunan Untung Suropati yang turut memusuhi kompeni. Panembahan Semeru pun akhirnya terbunuh oleh Kyai Djojolelono.
Menyadari akan kekhilafannya dan pengaruh tipu daya kompeni. Pada tahun 1768 Kyai Djojolelono pun menyingkir dari istana dan meninggalkan jabatannya sebagai seorang Bupati serta berbalik arah dengan menentang dan melawan kompeni.
Baca juga : Asal Usul dan Sejarah Penyematan Nama Mojokerto, Daerah Hasil Perebutan 2 Kesultanan
Lihat Juga :